Cintai Nabi, Tegakkan Syariah, Wujudkan Keadilan!

Penghinaan terhadap Islam terus berlangsung hingga saat ini. Di luar negeri masih belum kering ingatan bagaimana Al-Qur'an disobek dan dibakar di Swedia dan di Norwegia, kini majalah Charlie Hebdo kembali memuat kartun Nabi Muhammad di halaman depannya. Di dalam negeri, ajaran Islam Khilafah disejajarkan dengan faham-faham buatan manusia yang lemah dengan memunculkan istilah khilafahisme sementara cadar dilecehkan melalui film pendek yang menjijikkan.

Tidak heran, jika hal ini memancing kemarahan umat Islam yang cinta kepada agamanya. Apalagi saat ini di Bulan Rabiul Awal. Bulan kelahiran Rasulullah. Manusia pilihan yang diangkat oleh Allah SWT menjadi Nabi dan Rasul-Nya. Kepadanya, Allah turunkan wahyu dan risalah agar disampaikan kepada seluruh umat manusia. Di bulan inilah, puncak kecintaan umat Islam kepada Nabinya. Jadi, wajar saja umat marah saat Nabinya dihina. Wajar saja umat marah saat kekasihnya dinista.

Di samping bulan kelahiran Nabi, bulan Rabiul Awal adalah awal tegaknya Daulah Islam pertama. Di bulan ini, Nabi SAW berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Beliau mulai berhijrah meninggalkan Gua Tsur  pada malam Senin tanggal 1 Rabi’ul Awal 1 H (16 September 622 M) hingga sampai di Quba’ hari Senin, 8 Rabiul Awal 1 H (23 September 622 M), lalu berdiam di sana empat hari (Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis). Rasulullah memasuki Madinah pada hari Jumat, 12 Rabiul Awal 1 H (27 September 622 M). Secara hukum (de jure) Daulah Islamiyah pertama terbentuk pada saat itu. Namun kepemimpinan Nabi SAW sebagai penguasa dan kepala negara secara riil (de facto) baru terwujud ketika beliau tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabiul Awal 1 H. Jadi, tanggal tersebut bisa dinyatakan sebagai maulid Daulah Islamiyah pertama.

Bulan Rabiul Awal juga bulan tegaknya Khilafah Rasyidah yang pertama. Nabi SAW wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H. Rasulullah SAW wafat pada waktu Dhuha pada hari Senin itu. Lalu sebagian sahabat menyibukkan diri untuk memilih pengganti Nabi sebagai kepala negara. Pemakaman jenazah Nabi SAW  pun ditunda dan para sahabat semuanya menyetujui hal itu dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. 

Pada hari Senin itu pula, Abu Bakar Ash-Shiddiq dipilih lalu dibaiat dengan baiat in’iqad sebagai khalifah. Esoknya pada hari Selasa, Abu Bakar Ash-Shiddiq dibaiat oleh kaum muslimin di masjid dengan baiat tha’at. Setelah sempurna semua itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq memimpin prosesi pemakaman jenazah Rasulullah SAW yang mulia pada pertengahan malam pada malam Rabu.

Jadi, tanggal 12 Rabiul Awal menjadi tanggal wafatnya Nabi saw. Sekaligus menjadi tanggal maulid Khilafah Rasyidah dengan pimpinan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk melanjutkan penerapan Syariah Islam dan menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia yang sebelumnya dilakukan dan dipimpin oleh Nabi saw. 

Oleh sebab itulah, berbagai penghinaan baik terhadap Rasulullah, terhadap Al-Qur'an, maupun terhadap Khilafah dan Cadar yang merupakan bagian dari ajaran Islam, hakekatnya adalah penghinaan terhadap Islam. Penghinaan ini harus segera diakhiri. 

Islam dengan tegas bagaimana mengatur hukuman bagi seseorang yang melecehkan Nabi, baik itu Muslim maupun non Muslim. Hukuman orang yang melecehkan Nabi, jika pelakunya Muslim, jelas dia menjadi murtad. Dalam Islam, seseorang yang murtad layak mendapatkan hukuman mati. Jika pelakunya orang kafir, maka ini mengindikasikan pemusuhan kepada Islam. Status _kafir harbi fi’lan_ layak disematkan kepadanya. Hukuman bagi pelakunya adalah dengan memeranginya. Disinilah urgentnya Khilafah. Penguasa yang menegakkan syariat dan memberikan sanksi bagi penghina Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda "Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya)” (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Yang dimaksud dengan al-imam adalah khalifah. Sebab sebagaimana penjelasan imam an-Nawawi, sebutan al-imam dan al-khalifah itu adalah sinonim.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa imam adalah junnah (perisai) yakni seperti tirai/penutup karena menghalangi musuh menyerang kaum Muslim, menghalangi sabagian masyarakat menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam dan orang-orang berlindung kepadanya. Adapun menurut al-Qurthubiy maknanya adalah masyarakat berpegang kepada pendapat dan pandangannya dalam perkara-perkara agung dan kejadian-kejadian berbahaya dan tidak melangkahi pendapatnya serta tidak bertindak sendiri tanpa perintahnya.

Hal ini menunjukkan urgensi adanya imam atau khalifah. Hal ini menjadi bukti, ketika adanya penistaan ini, kita butuh pemimpin yang menjaga kehormatan Nabi. Bukan pemimpin hasil sistem demokrasi sekuler yang membebek pada Barat. Pemimpin yang diam ketika ajaran Islam dihina dan diinjak-injak.

Secara historis telah terbukti bahwa adanya khalifah di tengah kaum Muslimin, ia memiliki kekuatan untuk menjaga agama dan kemurnian agama. Demi menjaga kehormatan seorang Muslimah, Khalifah al-Mu'tashim mengerahkan seluruh bala tentaranya. Sultan Abdul Hamid pun mengancam akan memerangi Prancis dan Inggris ketika kedua negara tersebut menggelar teather yang menghina Rasulullah.

Namun, ketika khilafah tidak ada, maka Islam sering dilecehkan seperti saat ini. Penghinaan terhadap Islam berulang kali terjadi. Maka, di bulan Maulid ini adalah moment yang tepat bagi seluruh umat untuk bersama-sama mewujudkan kekuatan politik dunia Islam yaitu Khilafah. 

Berjuang mewujudkan Khilafah adalah bentuk cinta kita pada Nabi. Cintai Nabi dengan mencintai ajarannya yaitu Islam. Cintai Nabi dengan menegakkan Syariah. Cintai Nabi maka akan terwujud keadilan dan melenyapkan kezaliman. Cintai Nabi maka cita-cita Indonesia berkah akan terwujud nyata.

Semoga apa yang kita lakukan menjadi salah satu bukti kecintaan kita kepada Nabi Muhammad ﷺ .[]

#CintaNabiCintaIslam
#CintaNabiTegakkanSyariah
#CintaNabiWujudkanKeadilan
#CintaNabiLenyapkanKezaliman
#CintaNabiIndonesiaBerkah

Oleh: Achmad Mu'it
Analis Politik Islam

Posting Komentar

0 Komentar