Cinta Nabi, ‏Bukan Cinta Biasa



Rabiul awal menjadi bulan suka cita bagi kaum muslim. Di bulan inilah manusia termulia lahir. Tepat pada tanggal 12 Rabiul awal Rasulullah ﷺ dilahirkan. Seluruh langit menggema dengan kelahirannya. Masyarakat menyambut antusias peringatan Maulid Nabi ﷺ. Antusiasme itu tampak dari gema shalawat yang bertabuh dalam setiap sisi masjid, musala, hingga tabligh akbar. Masa pandemi tak menyurutkan langkah bagi kaum muslim untuk menelusuri jejak sirahnya. Menapaktilasi perjuangan dakwah Rasul dari Makkah hingga akhir hayat beliau. 

Semua pasti merindukan sosok Rasul. Bagaimana rupanya, seperti apa sosoknya, dan apa yang akan kita sampaikan andai kita berjumpa Nabi ﷺ yang sangat dirindukan. Ada banyak ragam ekspresi cinta kepada Nabi  ﷺ. Dari mengucap shalawat, meneladani akhlak, hingga euforia perayaan maulid Nabi ﷺ. 

Sayangnya, momen tahunan ini tak diimbangi dengan pembuktian cinta kepada Nabi ﷺ secara sempurna. Sebagaimana pecinta, ia akan taat pada apa saja yang ada dalam diri orang yang dicintainya. Perkataannya, perangainya, perilakunya, dan risalah yang dibawanya. 

Imam syafi'i menyatakan dalam penggalan bait syairnya,  "Andai cintamu benar, niscaya kau taat kepadanya. Sungguh pecinta itu sangat taat kepada yang dia cinta." Pertanyaan untuk kita semua, sejauh dan sebesar apa kecintaan kita kepada Baginda Rasulullah Muhammad saw? Rasulullah bersabda, "Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia." (HR Bukhari) 

Rasulullau diutus bukan hanya untuk memperbaiki akhlak manusia. Namun, Rasullullah diutus juga untuk menegakkan syariat Allah di muka bumi. Maka dari itu beliau meninggalkan tiga warisan untuk umatnya, yaitu Islam, ulama, dan khilafah. 

Warisan pertama terangkum dalam sabda beliau, “Telah aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Malik, Al-Muwaththa`, no 1594). Dua pedoman hidup ini menjadi bekal setiap muslim menjalani kehidupan. Jika kita mencintai Nabi ﷺ, mestinya dua hal ini, yaitu Alquran dan As sunnah tidak diabaikan dan harus diamalkan dalam setiap sendi kehidupan. 

Adapun warisan kedua, Rasulullah meninggalkan para ulama untuk kita sebagai pewaris Nabi. Rasulullah bersabda,  “Sesungguhnya ulama adalah para pewaris dari para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham melainkan mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya (ilmu), maka dia telah mengambil bagian yang cukup (banyak).” (HR Tirmidzi, no 2682).

Warisan ilmu para ulama akan menjadi penerang jalan bagi muslim. Ulama yang hanya tunduk dan takut kepada Allah dan Rasul-Nya. Ulama yang memberi nasihat kebaikan dan mencegah kemaksiatan dengan cahaya ilmunya. Ulama inilah yang dikatakan Rasul sebagai pewaris risalahnya. 

Mengenai warisan ketiga, inilah yang banyak terabaikan dan dilupakan oleh kaum muslim. Rasulullah mewariskan model pemerintahan Islam kepada kita. Hal ini tercermin dari berdirinya daulah Islam pertama di Madinah. Rasulullah   ﷺmeletakkan dasar-dasar pemerintahan Islam di Madinah. Lalu dilanjutkan khulafaur rasyidin dan para khalifah setelahnya. Sistem pemerintahan warisan Rasulullah inilah yang disebut Khilafah. 

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,  “Dahulu Bani Israil diatur hidupnya oleh para nabi, setiap seorang nabi meninggal, dia digantikan oleh nabi lainnya, dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku. Dan akan ada para khalifah dan jumlah mereka akan banyak.” (HR Muslim, no 1842).

Mencinta Nabi ﷺ itu menjaga tiga warisannya. Mencintai Nabi  ﷺ  itu manakala cintanya sepenuh hati dan jiwa. Tak hanya bershalawat, berakhlak mulia, tapi juga menerapkan syariat yang dibawanya secara kaffah. 

Ketegasan mencintai Rasulullah termaktub dalam firman Allah Ta'ala, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS Ali Imran : 31].

Cintailah Nabi ﷺ  secara totalitas. Sebab, cinta kepada beliau bukanlah cinta biasa. Tak rindukah kita kepadanya? Nabi saja merindui kita berabad lalu. Dari Anas bin Malik, Rasulullah pernah bersabda.”Kapan aku akan bertemu para kekasihku?” 

Para sahabat bertanya, ”Bukankah kami adalah para kekasihmu?” Rasulullah menjawab,”Kalian memang sahabatku, para kekasihku adalah mereka yang tidak pernah melihatku, tetapi mereka percaya kepadaku. Dan kerinduanku kepada mereka lebih besar.” 

Semoga kita termasuk bagian dari umat yang dirindukan Rasul. Kelak, di akhirat beliau menunggu kita di telaganya untuk berjumpa dengan wajah berseri-seri. Rindu rasul, rindu risalahnya terterapkan di muka bumi.[]

Oleh: Chusnatul Jannah - Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban


Posting Komentar

0 Komentar