TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Bukannya Jadi Solusi, Kartu Prakerja Malah Menambah Masalah



"Bagai makan buah simalakama". Peribahasa yang tepat, untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang hendak memperjuangkan untuk mendapatkan kartu prakerja. 

Program kartu prakerja yang menjadi gagasan pemerintah saat ini, diharapkan bisa mengatasi persoalan jumlah pengangguran. Apalagi disaat kondisi PHK massal yang terjadi saat ini, tetapi justru menambah angka pengangguran.

Hal ini diperberat oleh, regulasi penyaluran kartu prakerja yang tidak semua masyarakat bisa mengaksesnya dengan mudah. Munculnya joki kartu prakerja menambah polemik, karena tidak semua masyarakat mampu membayar joki untuk bisa mendapatkan akses digital pendaftaran kartu prakerja.

Dikutip dari, detik.com (14/10/2020). "Joki itu timbul karena memang ada yang mau ingin mendaftar ke website Kartu Prakerja, tapi dia tidak tahu. Nah Joki ini kan sebenarnya dari sisi kriminalitasnya tidak ada. Karena hanya memberikan pelayanan," kata Direktur Operasi Kartu Prakerja Hengki Sihombing dalam seminar Kartu Prakerja untuk Akselerasi Inklusi Keuangan yang disiarkan virtual, Rabu (14/10/2020).

Sehingga kemampuan literasi digital masyarakat sangat diperlukan agar mampu mendaftarkan diri pada program kartu prakerja tanpa bantuan jasa joki.  Sayangnya, kondisi masyarakat yang mayoritas gagap teknologi menjadi hambatan. 

Seakan fakta itu dibenarkan oleh Direktur Operasi Kartu Prakerja, Hengki Sihombing, mengatakan minimnya literasi digital masyarakat membuka celah jasa perjokian dalam program Kartu Prakerja. Munculnya joki dalam Kartu Prakerja ini karena ada peserta yang ingin ikut program tetapi memiliki keterbatasan dalam mengoperasikan sistem digital. (merdeka.com, 14/10/2020)

Berbagai persoalan muncul sejak pemberlakuan program kartu prakerja, salah satunya adalah sulitnya akses pendaftaran kartu prakerja. Peserta kartu prakerja terpaksa menggunakan jasa joki yang saat ini marak di media sosial, dengan beragam biaya yang diminta oleh para joki. 

Diduga kartu prakerja inipun, tidak menjamin peserta kartu prakerja mendapatkan pekerjaan. Karena programnya hanya dalam bentuk pelatihan, bukan membuka lapangan pekerjaan secara nyata. 

Negara hanya sebagai regulator kebijakan, menempatkan pemerintah dan rakyat sebagai penjual jasa dan konsumen. Sudah seharusnya, lapangan pekerajaan ataupun pelatihan keterampilan dan keahlian bisa dinikmati oleh masyarakat dengan mudah dan gratis. 

Miris memang, di tengah gempuran datangnya Tenaga Kerja Asing (TKA)  justru jumlah pengangguran di dalam negeri tidak juga bisa teratasi. Kesenjangan ekonomi dan sosial menjadi dampak terbesar yang muncul paling nyata, membuat tingkat kesejahteraan masyarakat berada pada titik yang mengkhawatirkan. 

Namun, semua itu harus dipahami bersama bahwa penerapan cara pandang kehidupan yang keliru menjadi penyebab kekacauan yang terjadi didunia pekerjaan dan juga diseluruh sektor publik. Cara pandang yang berpusat pada asas manfaat, rakyat diposisikam pada tingkat konsumen. 

Hubungan penguasa dan rakyat tidak lebih dari bisnis. Misalnya, fakta biaya kartu prakerja yang ditetapkan oleh pemerintah. Menjadi bukti bahwa rapuhnya pengurusan persoalan rakyat dalam sistem kapitalisme.

Sesuatu yang rapuh sebagaimana sistem Kapitalisme saat ini, tidak akan mampu memberikan sesuatu yang kokoh. Sehingga, harusnya masyarakat mengganti cara pandang sekularisme dalam sistem kapitalisme dengan cara pandang yang benar yang berasal dari sistem Islam. 

Islam menjamin penghidupan bagi setiap kepala keluarga yang memiliki tanggungjawab dalam persoalan nafkah. Dengan membuka sebanyak-banyaknya dan kemudahan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.

Kekuasaan yang amanah adalah tanggungjawab seorang pemimpin, maka mengembalikan aturan kehidupan pada sesuatu yang benar menurut syariat Islam. Allah swt, berfirman: 

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. (QS. An-Nisaa': 58)

Sebuah kepemimpinan dengan menyakini bahwasanya kekuasaan adalah bentuk amanah terbesar bagi dirinya. Dan tidak hanya sekedar menampilkan sosok yang adil dan amanah, namun juga harus didukung oleh sistem yang adil dan amanah. 

Oleh sebab itu, menjadi hal yang penting bagi masyarakat untuk beralih pada sistem Islam kaffah yang kelak bisa menjadi sebaik-baik pengatur urusan diberbagai sektor kehidupan.[]

Oleh: Sri Astuti Am.Keb (Aktivis Muslimah Peduli Negeri) 

Posting Komentar

0 Komentar