TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Bukan ala Korea, Ini Kebangkitan yang Harus Diwujudkan!



Publik dibuat geger setelah seorang yang menyandang posisi sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) nonaktif seolah memberikan dukungannya pada aktivitas muda-mudi Indonesia yang begitu gandrung dengan Korea. Ma'ruf Amin, yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia ini mengutarakan pendapatnya terkait fenomena Korean Wave dalam acara peringatan 100 tahun kedatangan warga Korea ke Indonesia pada Minggu, 20 September lalu. 

"Saat ini anak muda di berbagai pelosok Indonesia mengenal artis K-Pop dan gemar menonton drama Korea. Maraknya budaya itu diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreatifitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri", ucap orang nomor dua di Indonesia itu (liputan6.com, 21/09/2020).

Menurutnya, hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea juga memiliki nilai historis. Oleh karena itu, hubungan dan peringatan kedatangan orang Korea di Indonesia ini, harus terus dijaga dan ditingkatkan. Selain itu, di bidang ekonomi, investasi dari Korea tercatat semakin banyak masuk ke Indonesia, seperti produk teknologi, makanan, dan industri hiburan. Ma'ruf meyakini, Indonesia bisa banyak belajar dari Korea. Seperti investasi dan alih teknologi, ia mengharapkan bisa membuat produk Indonesia semakin berkualitas, dengan diekspor ke luar negeri.

Ideologi: Awal Sebuah Kebangkitan

Kebangkitan suatu peradaban berawal dari adanya pemikiran yang mendasar tentang kehidupan. Pemikiran ini kemudian memancarkan berbagai aturan kehidupan. Inilah yang disebut sebagai ideologi. Orang-orang Barat Eropa mengalami kebangkitan sejak Revolusi Perancis dan Revolusi Industri di Inggris pada akhir abad 18 dan awal abad 19 setelah mereka mengadopsi ideologi kapitalisme-sekuler sebagai way of life.

Bangsa Uni Soviet (sekarang Rusia) mampu bangkit dan melakukan Revolusi Bolshevik tahun 1917 dibawah kepemimpinan Lenin setelah bersama-sama mengambil ideologi sosialis-komunis sebagai jalan hidup. Sedangkan Bangsa Arab yang sebelumnya jahiliah mampu bangkit pada masa Rasulullah Muhammad SAW pada abad 7 setelah mereka bersepakat memeluk pemikiran Islam bahkan hingga berabad-abad lamanya, diawali dengan berdirinya negara Islam (Daulah Nabawiyah) di Madinah.

Pun dengan Korea Selatan (Korsel). Negara yang memiliki hari proklamasi berjarak 2 hari dari Indonesia ini menyerap ideologi kapitalisme yang berasal dari Barat untuk mencapai kebangkitannya hari ini, setelah sebelumnya tak mampu keluar dari bayang-bayang Amerika Serikat (AS). Sebagai negara pengemban ideologi, AS memang mengekspor ideologi kapitalisme-sekuler ke seluruh negara di dunia, termasuk Korsel.

Namun, apakah kesemua ideologi itu adalah ideologi yang shahih (benar)? Hal ini menjadi wajib kita pahami sebab jika ideologi itu bathil (salah), tentu kebangkitan yang diraih hanyalah kebangkitan semu. 

Kapitalisme: Jalan Kebangkitan Semu

Negara-negara di dunia hari ini yang dicap sebagai negara maju memang secara kasat mata nampak bangkit. Namun, kebangkitan yang dimaksud hanyalah pada dimensi ekonomi saja. Hal ini disebabkan watak kapitalisme memang tak bisa lepas dari materialistis. Ukuran maju tidaknya suatu negara hanya didasarkan pada faktor ekonomi semata. 

Wajar jika kemudian terjadi kebangkitan di satu sisi namun kemerosotan di banyak sisi lainnya. Korsel misalnya. Sebelum masa pandemi, Korsel tercatat sebagai salah satu negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di dunia. Namun, di sisi lain angka kasus bunuh diri juga menginggi, sebagian besar bahkan diakibatkan depresi. 

Begitu pula dengan interaksi antara laki-laki dan perempuan yang begitu bebas membuat pergaulan bebas di negeri ginseng itu membeludak. Bahkan pemerintahnya sendiri melegalkan seks bebas meskipun dengan batasan usia minimal 16 tahun. Ini berarti jika pelaku berusia di atas 16 tahun, maka hal itu tidak termasuk tindakan asusila. Belum lagi Korsel juga tercatat sebagai salah satu negara pengonsumsi alkohol tertinggi di dunia. Tak heran, dalam setiap drama yang diproduksi negara ini tak pernah lepas dari adegan mabuk minuman keras. 

Menilik efek yang ditimbulkan ideologi kapitalisme ini, maka sudah sangat jelas kebangkitan yang diraih hanyalah kebangkitan semu yang tak layak ditiru. Namun sejatinya, bukan hanya tersebab berefek negatif, ideologi kapitalisme memang sudah cacat sedari lahir. Ideologi ini adalah bentuk kompromi yang akhirnya melahirkan sekulerisme yakni pemisahan antara agama dan kehidupan bahkan hingga menihilkan peran agama dalam mengatur kehidupan.

Selain itu, berdasarkan perspektif kesesuaian terhadap naluri manusia, baik ideologi kapitalisme-sekuler maupun sosialis-komunis, keduanya tak memenuhi standar kebenaran suatu ideologi. Dua ideologi tersebut sama-sama lahir dari akal manusia yang lemah dan terbatas.

Keduanya tak mengakui ketidakmampuan manusia dalam mengatur kehidupan, sehingga manusia bebas membuat sendiri aturan kehidupannya. Bahkan ideologi sosialis-komunis menafikan naluri beragama, sehingga penganutnya menaruh kecondongan mentaqdiskan (menyucikan sesuatu) bukan pada Tuhan tetapi pada para tokoh-tokohnya.

*Islam: Jalan Kebangkitan Hakiki*
Islam menghendaki setiap aturan hidup diambil dari Al-Khaliq sebab mengakui ketidakmampuan manusia dalam mengatur kehidupan. Inilah yang menjadikan Islam sebagai satu-satunya ideologi yang benar. 

Penerapan seperangkat aturan hidup yang berasal dari Al-Khaliq yakni Allah SWT inilah yang sudah pasti mampu mewujudkan kebangkitan hakiki. Kebangkitan yang tak berefek samping negatif. Selama tak kurang dari 13 abad lamanya, Islam telah terbukti mampu membangkitkan umat manusia dalam berbagai dimensi kehidupan, mulai dari ekonomi, sosial, pendidikan, pemerintahan, politik, peradilan dan sebagainya. Teramat sangat berbeda dengan kapitalisme bukan?

Oleh sebab itu, bukan kebangkitan ala Korea yang harus kita wujudkan sebab selagi kapitalisme yang dijadikan pijakan maka hanyalah kebangkitan semu yang akan didapatkan. Jika yang kita tuju adalah kebangkitan hakiki, maka satu-satunya jalan adalah dengan mengadopsi ideologi Islam. Ideologi ini hanya mampu ditegakkan oleh institusi negara bernama Khilafah. Wallahua'lam bish-shawab.[]

Oleh: Dwi Miftakhul Hidayah, S.ST (Aktivis Muslimah Jember)

Posting Komentar

0 Komentar