TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Apa Pentingnya Mengubah Definisi Kematian Akibat Corona?


Semakin mengkhawatirkan pandemi yang mewabah di negeri ini. Kematian dan jumlah terinfeksi positif Covid-19 setiap harinya terus bertambah.

Kasus positif Covid-19 di Indonesia telah mencapai 299.506 orang, pada Sabtu (3/10/2020).

Jumlah tersebut didapatkan setelah ada penambahan 4.007 kasus dalam 24 jam terakhir. Data itu disampaikan Satgas Penanganan Covid-19 melalui situs Kementerian Kesehatan, Sabtu sore.

Dari total jumlah tersebut, 21,16 persen dari total terkonfirmasi positif atau sebanyak 63.399 merupakan kasus aktif.

Kasus aktif adalah pasien yang dinyatakan positif Covid-19 dan sedang menjalani perawatan.
(Kompas.com 03/20)

Jawa Timur menjadi provinsi penyumbang kasus kematian akibat Covid-19 terbanyak di Indonesia per hari ini, Kamis (24/9), dengan 27 kasus meninggal. Secara total, Jatim memiliki 3.062 kasus kematian.
Berdasarkan data Satgas Covid-19, jumlah kumulatif kasus positif Virus Corona di Indonesia mencapai 262.022 orang per Kamis (24/9), atau bertambah 4.634 orang dari hari sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 191.853 orang dinyatakan telah sembuh dan 10.105 orang meninggal dunia atau bertambah 128 kasus pada hari ini (ccnindonesia.com 24/09).

Lebih dari 10 ribu kasus kematian merupakan jumlah yang sangat besar. Unconsisten kebijakan pemerintah mulai dari pertama wabah ini masuk Indonesia telah mengakibatkan masyarakat menganggap remeh wabah ini. Terjadilah bom waktu setelah 6 bulan berlalu kematian yang tinggi menjadi bukti tak terbantah bahwa penanganan virus Covid-19 di Indonesia sangatlah buruk.

Di sisi lain pemerintah berencana akan menambah detail pada definisi kasus kematian akibat Covid-19, Apa pentingnya?

Staf Ahli Menteri Kesehatan bidang Ekonomi Kesehatan Mohamad Subuh menegaskan, pemerintah tidak akan mengubah penulisan angka kasus kematian akibat Covid-19.

Kemenkes hanya akan menambah detail pada definisi kasus kematian akibat Covid-19.

"Sebenarnya tidak mengubah definisi kematian akibat Covid-19. Tetapi menambahkan detail operasional kematian yang berhubungan dengan Covid-19," kata Subuh kepada Kompas.com, Selasa (22/9/2020).

Suatu keberhasilan jika pemerintah mampu menekan korban yang reaktif terinfeksi Covid-19 syukur-syukur zero kasus, tentunya ini yang kita harapkan. Akan tetapi mengubah hal-hal yang berkaitan infografis yang diduga untuk memperbaiki citra nama baik pemerintah justru akan memperlambat penyelesaian pandemi. Rakyat menginginkan keterbukaan informasi yang jelas baik kematian karena Covid-19 maupun tidak.

Rakyat membutuh keselamatan, terjaminnya makan, pekerjaan, dan kebutuhan pokok lainnya dimasa pandemi, dengan kebijakan yang adil bukan hanya untuk pencitraan.

Jika rencana  tersebut benar-benar direalisasikan suatu kejahatan terhadap rakyat karena laporan tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Jangan karena kepentingan politik rakyat dikorbankan, keterbukaan infografis yang jelas bisa menjadikan rakyat untuk sadar dalam protokol kesehatan.

Tidak ada pilihan lain untuk tetap berdoa kepada Allah yang maha kuasa dan bersegera untuk taat syariah, dengan hukum Islam pandemi yang tidak jelas kapan waktu berakhirnya ini bisa mendapatkan penanganan yang serius.

Islam tidak memperbolehkan memanipulasi segala bentuk informasi apapun yang terkait dengan keselamatan umat. Nyawa dan keselamatan harus lebih diutamakan dari pada kepentingan apapun.

Seperti yang dicontohkan sahabat  Umar bin Khattab ketika terjadi wabah kolera di negeri Syam semua kunjungan negara dibatalkan karena untuk melindungi nyawa rakyatnya.

Karena beliau telah mencontoh sabda Rasulullah , "Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), maka janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya."

Dengan ketegasan Umar waktu itu sebagai amirul mukminin dan cara yang lemah lembut kepada rakyatnya tentunya berhasil dalam mengambil keputusan yang tepat dan wabah cepat terselesaikan. Didukung adanya Daulah Islam (negara Islam) peran pemimpin negara juga begitu besar.

Koordinasi dengan beberapa orang yang benar-benar ahli dalam penanganan wabah, negara dengan mudah mengambil keputusan, tidak lagi disetir oleh segelintir orang karena kepentingan asing ataupun mengedepankan ekonomi. Wallahu'alam.[]

Oleh: Amah Muna, Sahabat Muslimah Kendal

Posting Komentar

0 Komentar