TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Anak Muda Berdemo, Jangan Asal Membeo




“Ada perjuangan yang tak putus. Ada perlawanan yang tak akan putus dan akan selalu ada. Karena masyarakat cerdas, tak bisa lagi dibodohi.” Demikian tutur humas Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) yang menggelar aksi tolak Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Namun, meski berbagai elemen masyarakat menolaknya, pengesahan UU Omnibus Law Ciptaker tetap terjadi. Terkesan kejar tayang, pengesahannya dipercepat dalam rapat paripurna DPR RI, Senin (5/10/2020). Sebagai bentuk kekecewaan, aksi demonstrasi digelar di berbagai penjuru Nusantara. Sayangnya, sebagian besar demo diwarnai aksi kekerasan dan berujung ricuh.  

Tak hanya diikuti kaum buruh sebagai korban langsung UU Ciptaker. Kalangan mahasiswa dan pelajar usia SMP-SMA/SMK pun turut berdemo. Di tengah tugas kuliah dan sekolah daring, serta ancaman penularan virus Covid-19, mereka turun ke jalan menyuarakan penolakan UU kontroversial ini. Jiwa tak rela bergejolak menyaksikan ketidakadilan menari-nari di depan mata belia mereka.

Meski bagi sebagian mereka, tak lebih sebagai pelampiasan kejenuhan akibat lama tak sekolah tatap muka. Atau karena kondisi rumah yang tidak nyaman. Jadilah demo menjadi alasan berkumpul sesama kawan. Di satu sisi, partisipasi anak muda dalam aksi demonstrasi menyuarakan kebenaran dan keadilan patut diapresiasi. Namun, cukupkah fungsi agen perubahan yang dimiliki anak muda hanya terwujud dalam demo?


Anak Muda Demo, Siapa Takut?

Anak muda menggelar atau mengikuti demonstrasi? Hal ini wajar terjadi. Terlebih, usia muda adalah saat berbagai kelebihan berpadu dalam diri. Fisik sehat dan kuat, rasa ingin tahu membara, waktu ada tersisa, idealisme menyala. Tak salah jika anak muda berposisi sebagai generasi penerus suatu bangsa. Wajah mereka hari ini adalah cermin kehidupan negeri di masa depan. Menjadi Agent of change (agen perubahan) adalah keniscayaan.

Fragmen demi fragmen kezaliman yang dinampakkan penguasa tentu mengoyak idealisme jiwa mudanya. Praktik hukum dan kekuasaan yang seringkali tak sejalan dengan teori-teori yang diajarkan di bangku sekolah dan kuliah. Tak hanya itu. Arogansi penguasa juga melukai rasa kemanusiaan, keadilan dan kebenaran. Rakyat jelata sebagai kaum lemah yang mesti dibela, justru dijadikan objek derita atas nama tahta dan kuasa.

Jadilah demonstrasi menjadi saluran peduli. Alat aspirasi. Penyambung rasa kekecewaan terhadap kebijakan penguasa yang seringkali tak bijak. Juga sebagai penumpah asa akan perubahan wajah negeri agar kian berseri. Yang pemimpinnya mengayomi rakyat kecil. Bukan kaum segelintir. 

Menanggapi keterlibatan pelajar dalam aksi unjuk rasa menolak UU Omnibus Law Ciptaker, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan angkat bicara.  Menurutnya, hal ini justru menunjukkan jika mereka peduli terhadap bangsanya. Namun ia mengingatkan agar pelajar yang berdemo bisa menerapkan mekanisme yang benar dalam menyampaikan aspirasi, yaitu tidak bertindak anarkis. Serta perlu diarahkan agar kepedulian mereka kepada pemerintah berada di jalan yang benar. (KOMPAS TV, 15/10/2020)

Selain itu, demonstrasi juga bisa menjadi sarana pembelajaran politik bagi anak muda. Sebagai agen perubahan, jelas mereka harus mengerti peta politik yang tengah terjadi. Mana kawan mana lawan. Apa kepentingan yang layak diperjuangkan. Aturan apa yang pantas untuk diterapkan. Saat mengikuti demo tolak UU Ciptaker, sebaiknya memahami poin-poin apa saja dalam UU yang buruk dan wajib ditolak, pihak-pihak yang untung dan buntung, hingga gambaran ideal pengelolaan tenaga kerja, dst.

Maka, anak muda mesti memahami makna politik hakiki. Agar tidak terbawa arus politik pragmatis seperti praktik para politisi hari ini. Yang sekadar menjadikan kekuasaan sebagai tujuan. Bahkan kekuasaan untuk kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan di tangan dipergunakan untuk mengembangkan kekuasaan lagi. Agar lebih banyak, luas dan lama. Lantas, apa saja yang mesti dilakukan oleh anak muda sebagai generasi penerus estafet bangsa?

 
Berdemo, Jangan Asal Membeo

Sebagai agen perubahan, anak muda hendaknya tak hanya mencukupkan pada aktivitas demonstrasi sebagai sarana perubahan. Apalagi jika keikutsertaan dalam demo hanya membeo alias ikut-ikutan teman. Selain itu, demo mesti menghindari aksi kekerasan dan merusak fasilitas umum. Bukankah unjuk rasa adalah salah satu aktivitas nasihat terhadap penguasa? Juga sebagai alat edukasi kepada masyarakat. Berikan nasihat dengan cara tepat. Sampaikan aspirasi dengan sarana terpuji.

Mereka juga harus menyadari bahwa seberapapun keras upaya menolak sebuah kebijakan lewat demo, tak akan sampai menuntaskan akar permasalahan. Tak ada jaminan. Saat demo hari ini berhasil menggagalkan lahirnya satu UU, lantas di lain waktu rezim legislator tak akan membuat UU dengan nafas kezaliman yang sama. Mau demo berapa kalipun jika tak diiringi dengan perubahan sistem (aturan), maka kezaliman demi kezaliman niscaya akan berulang.

Dengan kata lain, generasi muda muslim harus paham arah perubahan hakiki. Jika menghendaki kehidupan masyarakat yang bahagia dan sejahtera, aturan yang berpihak pada kepentingan umat, maka sistem kehidupan Islam adalah alternatif terbaik yang akan mampu mewujudkannya. Bukan sistem hidup buatan manusia seperti sekularisme kapitalis dan sosialisme komunis. Terlebih, mayoritas penduduk negeri ini menganut ajaran Islam. Bukankah Allah Swt telah memerintahkan orang beriman untuk menerapkan Islam secara kafah (menyeluruh)?

Rasulullah Saw juga telah memberikan teladan gambaran perubahan hakiki. Tengoklah dakwah beliau. Rasulullah menyeru masyarakat Mekkah agar mengubah gaya hidup dan aturan jahiliyah dengan pola hidup dan aturan Islam. Setelahnya, beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah dan membangun masyarakat Islam. Sebuah tatanan kehidupan yang menerapkan aturan Allah Swt dalam seluruh aspek kehidupan. Dari sinilah kemuliaan umat teraih. Masyarakat yang awalnya berkubang dengan kejahiliyahan (kebodohan, kemaksiatan), beralih menjadi masyarakat mulia. Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam pun terasa.

Perubahan masyarakat ala Rasulullah juga tak lepas dari peran anak muda di dalamnya. Sahabat Rasulullah banyak terdiri dari pemuda. Pemuda pada zaman Rasul, istimewa dan luar biasa. Mereka taat sekaligus mencintai Allah dan Rasul-Nya. Di antaranya ada Mush’ab bin Umair, pemuda tampan nan kaya yang sukses menjadi duta Islam pertama yang dikirim ke Madinah pada usia sekitar dua puluh tahun.  Setahun berdakwah di Madinah hingga tak ada satu rumah pun yang tidak mengenal nama Muhammad Saw.  Dan masih banyak lagi kisah pemuda hebat lainnya.

Ya, Islam adalah arah perubahan masyarakat hakiki bagi generasi muda muslim. Terwujudnya sistem Islam adalah jaminan kebahagiaan dunia akhirat.  Hadirnya akan membawa rahmat, tak hanya bagi umat Islam, juga bagi seluruh alam. Tak inginkah kita bersegera mewujudkannya? Mari berjuang!


Oleh: Zarkasya Umniyah ‘Ulya (Pemerhati Remaja) dan Puspita Satyawati (Analis Politik dan Media)
 


Posting Komentar

0 Komentar