Ada Narasi Covid-19 Propaganda, Benarkah? (bagian kedua)



Di tengah kondisi Covid-19 yang melanda dunia. Maka kita harus mendalami fakta tentang covid-19 ini dengan benar dan memperoleh pemahaman yang benar sehingga bisa bertingkah laku dalam menghadapinya dengan benar pula.

Masih banyak masyarakat yang tidak percaya covid-19 berbahaya, bahkan ada juga yang menganggap covid itu tidak ada atau diada-adakan alias konspirasi orang-orang kafir terhadap Islam dan kaum muslimin.

Bahkan pemerintah merasa khawatir jumlah WNI yang tidak percaya covid mencapai 47juta orang atau 17% dari jumlah penduduk Indonesia.

Hal ini karena, masyarakat mengindra/melihat fakta terkait penangan covid-19 oleh negara ini bertentangan dengan kata 'bahaya' nya covid-19 dan terkesan mendiskreditkan umat Islam.

Misalkan: Pertama, candaan dari para menteri terkait wabah yang terkesan menyepelekan pada awal masa pandemi. Seperti, rakyat Indonesia kebal corona karena makan nasi kucing, dll.

Kedua, negara tidak memberlakukan Lock Down yaitu mengunci daerah yang terkena wabah atau negara yang terpapar covid 19 seperti China yang merupakan negara sumber wabah, bahkan pemerintah tetap memberi ruang bebas untuk warga China keluar masuk indonesia selama masa pandemi.

Ketiga, tidak seriusnya penangan pemerintahan terkait penanganan wabah ini terbukti kondisi wabah masih parah negara malah mengeluarkan kebijakan New Normal (Kenormalan baru). Sehingga aktifitas-aktifitas dilakukan selayaknya kondisi normal.

Keempat, dibukanya mol-mol, tempat-tempat wisata, kafe-kafe, namun menutup mesjid-mesjid, tempat-tempat pengajian dan sekolah-sekolah.

Keenam, banyak orang yang sembuh dan adanya kasus OTG yaitu orang terinfeksi virus Corona tapi baik-baik saja tidak menunjukkan gejala serta hanya orang yang punya penyakit berat saja yang terkena virus.

Ketujuh, banyak orang keluar masuk daerah zona merah namun baik-baik saja dan bahkan aktifitas orang-orang yang ada di zona merah biasa-biasa saja.

Delapan, para artis dan pejabat baik di kota maupun di daerah tidak begitu peduli dengan protokol kesehatan, justru berswafoto ria dan buat acara- acara yang tidak memenuhi protokol kesehatan yang sering digembar-gemborkan kepada masyarakat, dll.

Untuk itu saya akan memberikan kepada anda tentang informasi-informasi tentang covid-19. 

Pertama, covid-19 itu ada dan merupakan virus menular dan mematikan yang berasal dari China yang sempat menghebohkan dunia karena banyak korban yang berjatuhan dijalankan seperti pohon lapuk yang bertumbangan. 

Kedua, berdasarkan informasi data dari gugus penangan covid-19 banyak yang meninggal dunia ketika terkena covid-19 baik bagi keluarga yang merasakannya (terpapar virus), baik  melihatnya secara langsung atau tidak. 

Ketiga, kalaulah corona ini merupakan konspirasi  kafir terhadap umat Islam yang terkena virus bukan hanya negeri-negeri kaum muslimin saja yang terkena covid tapi juga negara kafir bahkan memporak-porandakan perekonomian mereka sebagai negara adidaya. 

Keempat, covid-19 menelan korban jiwa yang sangat banyak dalam jangka waktu 10 bulan sampai dua ratusan ribu korban lebih, melebihi penyakit pembunuh pertama di dunia yaitu penyakit jantung. 

Keempat, berdasarkan bukti data diatas sudah bisa dipastikan bahwa virus yang menyebar dengan cepat dan menyerang dengan ganas siapa yang terkena maka ini disebut sebagai 'pandemi' atau wabah menular. Ini sangat berbahaya walaupun bisa disembuhkan.

Bagaimana Proses Mengkaitkan Informasi dengan Fakta?

Sebelumnya sudah kita bahas bahwa akal adalah proses berfikir yang melibatkan empat komponen yaitu: fakta (baik terindra atau seolah-olah terindra), alat Indra, informasi sebelumnya, dan otak yang sehat.

Pertama, Kita dapati informasi-informasi tentang bahayanya covid di atas, kemudian fakta/kenyataan dari bahayanya covid dengan menggunakan alat indra kita yang lima apakah telinga, mata dengan mendengar dan melihat jumlah korban di media-media, dll.

Berdasarkan informasi diatas baik terindra secara langsung atau seolah-olah terindra. Ini merupakan sebuah fakta yang seseorang tidak perlu merasakannya (terkena covid-19) secara langsung baru mengakui kalau covid-19 ini berbahaya.

Berdasarkan informasi dan fakta dari data-data yang ada diproses didalam otak, sehingga diperolehlah kesimpulan bahwa covid-19 wabah yang menular dan berbahaya.

Namun bagaimana dengan data-data yang tidak akurat, kebijakan yang salah atau ada permainan oleh beberapa oknum pemerintah dan tenaga kesehatan. Nah ini adalah buah dari sistem Kapitalis Sekuler.

Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan. Sistem yang mendiskreditkan Allah sebagai Sang Pengatur kehidupan dunia.

Sistem yang menjadikan Allah hanya ditempat-tempat ibadah saja. Sedangkan ditempat umum Allah tidak ada.

Sistem yang berasal dari manusia yang lemah, terbatas, serba kurang. Sehingga menghasilkan kebijakan-kebijakan yang salah dan kontra serta mengikuti hawa nafsu.

Oleh karena itu, dalam penanggulangan covid-19 ini agar segera selesai dan tidak ada polemik kita butuh sistem yang benar yang berasal dari yang Maha Benar, yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya, yaitu sistem Khilafah Islamiyyah.

Jadi dengan melihat data-data korban yang positif dan meninggal dunia kian banyak dalam waktu yang singkat dengan panca indra kita kemudian diproses didalam otak, kita sudah bisa membuktikan bahwa covid-19 berbahaya. Oleh karena itu perlu waspadai dan menjaga diri kita dari virus yang mematikan ini.

Wallahu a'lam bishshowab.[]

Oleh: Fadhilah Fitri SPd.I
Aktifis Dakwah

Posting Komentar

0 Komentar