Ada Narasi Covid-19 Propaganda, Benarkah? (Bagian pertama)



Di tengah kondisi yang membingungkan ini terkait narasi Covid-19 propaganda, tulisan ini mencoba untuk memberikan sedikit gambaran cara agar kita bisa memahami sebuah fakta dengan benar, menghasilkan kesimpulan yang benar sehingga kita bisa bertingkah laku dengan benar pula.

Untuk memahami fakta dengan benar tersebut membutuhkan yang namanya akal. Akal yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna, dan akal yang membedakan manusia dengan hewan. Serta dengan akal jugalah manusia dibebankan hukum syariat. Lantas apa itu akal?
 
Sebelum membahas apa itu akal baiknya kita mengetahui tingkatan/taraf berfikir manusia. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani membagi tingkatan taraf berfikir manusia menjadi 3 yaitu: 

1). Berfikir dangkal yaitu berfikir hanya apa yang terindra saja langsung disimpulkan. Contoh; ketika seseorang melihat pohon mangga, maka langsung tersimpulkan olehnya bahwa itu adalah sebuah pohon yaitu pohon mangga.

2). Berfikir mendalam (Amiq) yaitu berfikir dari fakta yang diindra dan dihubungkan dengan informasi-informasi yang didapatkan.
Contoh; pohon mangga yang diteliti dari bentuk daun, batang, rantingnya serta buahnya. Dengan kata lain lebih mendalam lagi yang difikirkan. Bahkan sampai pada unsur-unsur paling kecil yang ada didalam pohon mangga tersebut.

3). Berfikir cemerlang (Mustanir) yaitu berfikir terhadap objek segala sesuatu hingga sampai pada hakikat penciptaan. 
Contoh; masih mangga, tidak hanya sekedar pohon mangga, tidak hanya sekedar bagian-bagian pohon mangga, rasa, dsb. Tapi langsung ke hakikat penciptaannya yaitu bahwa pohon mangga itu adalah ciptaan Allah Zat yang Maha Pencipta dan Pengatur.

Perlu pemikiran Amiq (Mendalam) dalam memahami fakta

Untuk memperoleh pemahaman tentang fakta dengan benar harus memahami apa itu pemikiran (akal) dengan benar pula? 

Ilmuwan Barat tidak berhasil menjelaskan definisi yang benar tentang akal atau pemikiran.

Oleh karena itu kita harus memahami konsep akal/pemikiran, apa saja komponen yang dibangun untuk melakukan proses berfikir sehingga menghasilkan sebuah  pemikiran?

Sekarang kita akan bahas pengertian akal menurut Barat. Menurut mereka akal/pemikiran itu adalah hati, ada juga yang mengatakan akal itu adalah otak. Dan ada juga yang mengatakan akal adalah refleksi benda kedalam otak.

Kita akan bahas, yang pertama; kalaulah akal itu hati yang ada didalam tubuh manusia maka bukan manusia saja yang punya akal hewan juga punya akal karena hewan punya hati. Namun hewan dikatakan tidaklah punya akal. Hewan tidak dibebankan hukum syara kepadanya, sehingga hewan tidak akan dipertanggungjawabkan perbuatan mereka kelak diakhirat.

Yang kedua otak. Otak juga demikian ada pada hewan tapi hewan tetap dikatakan tidak punya akal walaupun ada otaknya. Kalaupun ada hewan yang pintar itu disebabkan karena dilatih dan insting (naluri) yang dimilikinya sebagai fitrah dari Allah yang ada pada hewan bukan tersebut karena otaknya.

Anak kecil juga punya otak tapi anak kecil belum dikatakan berakal. Orang gila juga punya otak tapi orang gila dikatakan tak berakal. Sehingga mereka ini juga tidak dibebani kewajiban hukum dan tidak akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka kelak diakhirat.

Yang ketiga refleksi benda kedalam otak juga salah, kenapa? Karena yang namanya refleksi itu memerlukan alat reflektor/pemantul seperti cermin. Sedangkan otak tidak memiliki alat reflektor/pemantul yang bisa memantulkan fakta keotak sehingga menjadi sebuah pemikiran/akal.

Jadi apa itu akal?

Al-Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di dalam bukunya 'Sur'atul Badihah' (metode berfikir cepat), menyatakan bahwa untuk memahami sesuatu dengan benar maka harus dilakukan dengan proses berfikir yang benar.

Syaikh Taqiyuddin mendefinisikan akal adalah sebuah proses berfikir yang melibatkan empat komponen pendukung untuk membentuk akal/pemikiran. Yaitu otak yang sehat (dimagh), fakta baik yang terindra atau seolah-olah terindra, alat Indra, dan informasi sebelumnya (maklumat tsabiqah).

Fakta adalah realitas/kejadian yang telah terjadi baik kita sendiri yang mengalaminya atau orang lain apakah terjadi disekitar kita atau diluar wilayah kita baik terindra secara langsung maupun tidak langsung.

Alat Indra yaitu panca Indra yang lima, indra peraba (kulit), Indra penglihatan (mata), Indra pendengaran (telinga), Indra penciuman (hidung) dan Indra pengecap (lidah). 

Informasi sebelumnya adalah segala informasi/pengetahuan yang didapat sebelumnya baik melalui membaca, mendengar, dll yang melibatkan semua panca Indra.

Otak adalah sebuah alat yang ada didalam kepala manusia yang mampu menyimpan data-data informasi yang didapatkan serta menghubungkannya dengan informasi-informasi yang didapatkan melalu panca Indra tadi dan diproseslah didalam otak sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang disebut sebagai akal/pemikiran.

Hal ini hanya bisa dilakukan oleh otak yang sehat dan sempurna perkembangan otaknya. Karena kalau otaknya tidak sehat atau belum sempurna maka tidak akan mampu untuk mengkaitkan semua komponen tadi.

Oleh karena itu orang gila dan anak kecil dikatakan tidak berakal karena orang gila otaknya sudah sakit sehingga tidak mampu mengkaitkan fakta dan informasi-informasi yang dia dapatkan melalui panca inderanya.

Sedangkan anak kecil yang belum sempurna perkembangan otaknya selain informasi yang belum banyak dia dapatkan juga belum mampu untuk memprosesnya didalam otaknya karena otaknya belum berkembang sempurna.

Bagaimana proses terbentuknya sebuah akal (permikiran)?

Disini akan saya beri contoh sederhana bagaimana terjadinya sebuah proses berfikir sehingga terbentuk pemikiran atau disebut akal.

Misal: Saya akan menyebutkan buah apel, bagi yang sudah mendapat informasi tentang apel dan sudah melihatnya baik secara langsung atau gambar saja atau sudah pernah memakannya. Maka sudah langsung bisa diproses didalam otaknya dan akan terbentuk kesimpulan didalam otak tentang gambar dan rasa apel. 

Contoh lain, saya akan sebutkan jeruk nipis, pasti juga akan tergambar didalam otak tentang jeruk nipis dan juga rasanya yang asam kecut. 

Ini semua karena anda sudah mendapatkan informasi tentang buah apel dan jeruk nipis dan anda sudah melihat fakta bahkan merasakan sendiri buah apel dan jeruk tersebut. 

Oleh karena itu sudah bisa disimpulkan secara langsung tentang buah tersebut dan akan menghasilkan pemahaman dan tingkah lakunya yaitu memakan apel secara langsung sedangkan jeruk nipis tidak bisa dimakan secara langsung dan harus diolah dengan benda lain. 

Ini semua proses kerja empat komponen didalam otak sudah mendapatkan banyak  informasi tentang apel dan jeruk nipis dan faktanya sudah pernah diindra.

Contoh lain, jika disebutkan buah saga, bagi yang tak pernah mendengar kata buah saga, pasti tidak akan tergambar di dalam otaknya dan tidak mampu memperosesnya di dalam otak. Sehingga tidak bisa memberikan pemahan dan tingkah laku apa yang harus dilakukan ketika melihat buah saga.

Sekuat apapun usahanya untuk menggambarkan ke otaknya tetap tidak akan bisa menyimpulkan seperti apa buah saga, bentuk dan warnanya, karena dia tidak pernah mendapatkan informasi tentang buah saga. Dan tidak pernah melihatnya baik langsung maupun melalui gambar berdasarkan informasi yang didapatkan. 

Maka otak tidak akan bisa menyimpulkan dan memberi pemahaman serta tidak akan mempengaruhi tingkah lakunya, sehingga walaupun dia bertemu dengan buah saga dia tidak malakukan apapun terhadap buah saga, karena dia tidak akan mampu mengkaitkannya didalam otak karena tidak mendapatkan informasi tentang buah saga tersebut. Walaupun otaknya sehat.

Artinya empat komponen akal tadi harus lengkap, kalau tidak lengkap maka tidak akan bisa berproses sehingga menghasilkan sebuah pemikiran dan pemahaman tentang fakta dengan benar yang kemudian juga akan menghasilkan kesalahan dalam bertingkah laku terkait dengan fakta.[]

Oleh: Fadhilah Fitri SPd.I
Aktifis Dakwah

Posting Komentar

0 Komentar