TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Wes Wayahe, Men-tuning Model Diri dengan Khilafah



Masih ingat dengan Geert Wilder ?. Seorang politisi anti-Islam yang pernah membuat film FITNA tahun 2008 lalu. Sebuah Film kontroversial yang mengundang banyak kecaman karena berisi hujatan, penistaan, dan memperolok Nabi Muhammad SAW.

Kesuksesan film Fitna tidak lepas dari andil seorang Arnoud Van Doorn, teman dekat Geert Wilder. Saat film ini dibuat, Arnoud berposisi sebagai wakil ketua partai kebebasan (PVV) yang berhaluan liberal dan menentang Islam.

Tapi kini Arnoud Van Doorn menjadi muslim. Hanya karena terdorong oleh sebuah tanda tanya besar, mengapa partainya selalu memusuhi Islam ?. Tak menemukan jawaban pasti, Arnoud memutuskan untuk mempelajari Islam.

Seperti kebanyakan mualaf lainnya Arnoud segera mencari sarana yang dapat menjawab rasa penasarannya terhadap Islam. Ia mulai membaca, mengkaji, dan mempelajari terjemahan Al quran, hadits, dan buku-buku referensi Islam lainnya, hingga menghabiskan waktu hampir satu tahun. Ia juga menyempatkan diri untuk berdialog dengan penganut Islam untuk menggali informasi lebih jauh tentang Islam. 

Setelah beberapa waktu lamanya mempelajari Islam, ia menemukan sesuatu yang spesial dan berkebalikan 180 derajat dari apa yang selama ini terekam dalam benaknya. Sebab Islam yang ada dalam persepsi Arnoud sebelumnya adalah sebentuk pemahaman yang fanatik, menindas wanita, tidak toleran, dan membabi buta dalam memusuhi barat. Tetapi stigma itu seketika sirna dari pikirannya setelah mempelajari Islam. 

Benar, Arnoud telah berhasil mendesign ulang dirinya. Ia men-tuning-kan model dirinya dengan knowledge baru tentang Islam dari hasil ia membaca, mengkaji dan mempelajari buku-buku referensi Islam secara berulang-ulang. Sehingga dalam sebuah wawancara ia mengatakan “ 99 persen kaum muslimin adalah pekerja keras dan pecinta damai. Jika lebih banyak orang mempelajari Islam yang benar, semakin banyak orang yang akan melihat keindahan itu”.

Model diri ibarat chips yang berisi program-program yang dapat merepresentasikan siapa dan bagaimana sesungguhnya diri kita. Jika kita ingin menampilkan design diri yang baru maka kita tinggal men-tuning ulang chips kita yang lama dengan hal-hal yang baru pula, baik dari pengalaman, stimulus lingkungan, pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat, persahabatan, tontonan televisi, informasi media cetak, internet, dan berbagai macam buku.

Peran Pengetahuan, Repetisi dan Imajinasi

Pengetahuan, Repetisi dan Imajinasi adalah beberapa aktivitas dan keadaan yang bisa dimanfaatkan untuk men-tuning model diri kita. Membuat design baru sehingga  tergambar perubahan sesuai yang diinginkan.

Kapasitas pengetahuan yang dimiliki seseorang ditentukan dari proses belajar yang dilakukan. Asupan informasi ini akan mempengaruhi perilakunya dikemudian hari. Robert Mills Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning menjelaskan peran belajar dalam mengubah perilaku. Menurutnya belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku yang keadaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu.

Di era canggih seperti sekarang ini, belajar tidak hanya dibatasi pada institusi formal seperti sekolah. Namun termasuk di dalamnya adalah pemanfaatan media virtual. Jika dulu kita harus repot datang ke bioskop atau gedung teater untuk sekedar melihat tontonan edukatif dan berpengaruh. Kini cukup membuka google, wikipedia, youtube dan berbagai website yang ada. 

Berbagai sarana ini berkontribusi memasok informasi dan pengetahuan yang selanjutnya akan mengubah design diri kita. Sehingga bukan sekedar kita menikmati kesenangan saat menyaksikan tayangan-tayangan dari media, tetapi juga mampu mempengaruhi dan menggugah semangat. Membangkitkan adrenalin yang memaksa kita untuk memindahkan hasil ‘tontonan’ itu menjadi tuntunan pada realita kehidupan.

Hal ini karena tayangan dan tontonan dari media secara berulang mampu mengacak-acak mind theater atau teater pikiran yang ada dalam benak kita. Teater pikiran yang menjadi tempat bagi kita untuk berimajinasi sekaligus juga bervisualisasi secara multi track. Sebab mind theater kita lebih lengkap fasilitasnya. Bukan hanya menyediakan visual track, namun juga ada audio track, touch track, smell track, dan taste track. Itulah sebabnya, pengaruh mind theater kita sangat hebat. Terlebih lagi jika teater pikiran kita mendapatkan sebuah knowledge, informasi atau maklumat tertentu yang benar, dan punya dasar normatif, historis, maupun empiris. Niscaya pengaruh mind theater jauh lebih dahsyat.

JKDN dan Tuning Model Diri

Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) sebuah premiere film yang penuh dengan pengetahuan,  berkekuatan repetisi, dan sarat dengan imajinasi serta visualisasi. Mampu membajak pikiran konsumen dan menjadikannya sebagai asupan mind theater yang ilmiah, elegan, dan spektakuler.

Kemampuannya menggambarkan secara rapi dan apik sebuah hubungan emosional yang telah lama terjalin antara kesultanan-kesultanan di Nusantara dengan Khilafah Islam. Menjadi ajang yang dapat menghapus kegamangan di hati para pejuang. Menjadi magnet yang mampu menarik dan menyatukan kekuatan spiritual untuk mengembalikan idealitas khilafah menjadi kenyataan. Sehingga khilafah tidak lagi dianggap sebagai nostalgia sejarah, tidak pula dipandang ahistoris, dan bertentangan dengan realita kekinian.

Film Jejak Khilafah di Nusantara adalah hasil racikan sempurna yang didasarkan pada data primer valid dan dikemas dalam sinematografi yang menarik. Diangkat dari skripsi seorang sejarawan muda, Nicko Pandawa lalu berkelindan dengan informasi dan wawancara dari para sejarawan lain yang terpercaya.

Maka dengan mengambil intisari ucapan seorang orator hebat, “if you tell a big enough lie and tell it frequently enough, it will be believed”, trailer Jejak Khilafah di Nusantara dapat digunakan untuk mengkampanyekan kekuatan besar sejarah khilafah dan pengaruhnya di Nusantara ke dalam pikiran banyak orang dengan serangan yang bertubi-tubi. Agar secara tidak sadar mereka telah men-tuning model dirinya melalui tayangan film dokumenter ini.

Wal hasil film Jejak Khilafah di Nusantara secara powerfull akan menginjeksi pikiran positif tentang sejarah penting umat Islam yang tak boleh dikaburkan apalagi dikuburkan. Alih-alih umat alergi khilafah, justru mereka akan merindukannya agar segera tegak. Sebab esensi khilafah telah dikenal umat sebagai institusi yang akan menerapkan syariat Islam secara sempurna pada semua aspek kehidupan. Khilafah juga berperan dalam mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia, serta menyatukan mereka seluruhnya dalam satu kepemimpinan.

Maka dengan men-tuning model diri yang benar melalui pengetahuan, repetisi, imajinasi dan visualisasi film Jejak Khilafah di Nusantara diharapkan lahir pola pikir yang berkualitas, perasaan yang tajam, serta perilaku yang efektif dan sejalan dengan tuntunan Islam. 

Jika idealitas ini belum terwujud, berarti amunisi harus dilipat gandakan. Jangan merasa puas lalu berhenti pada tataran fakta dan informasi (sensing and memorizing) tentang khilafah tetapi juga berusaha mengaitkannya dengan data dan bukti nyata. Sehingga gagasan khilafah dapat difahami secara terang benderang, sebagaimana memahami perbedaan siang dan malam. Lebih lengkap lagi jika pemahaman itu dikaitkan dengan standar nilai yang dimiliki-tentunya yang sejalan dengan Islam Principle-sehingga dapat diputuskan dengan benar apakah ide khilafah itu akan ditolak atau diterima. Standar nilai inilah yang akan menjadi ukuran  kepercayaan diri, konsistensi, kemampuan untuk memisahkan mana ide yang sejalan dengan khilafah dan mana yang berseberangan, merusak pemahaman ataupun sekedar mengaburkan.

Tetapi jika terjadi kesalahan saat proses tuning model diri maka design yang dihasilkan pun salah. Akibatnya, akal menjadi tidak sehat dan pikiran menjadi kotor. Sehingga menganggap konsep khilafah yang membawa kemaslahatan sebagai musuh dan menilai penerapan syariah kaffah sebagai sebuah ancaman. Jika demikian, maka hal penting yang harus dilakukan adalah memeriksa jaringan-jaringan keimanan. Jangan-jangan disana bercokol benih-benih kemunafikan dan kekufuran sehingga tidak mampu menangkap secercah cahaya di kegelapan dan sebongkah harapan untuk kebaikan masa depan.

Sebab ketakutan akan berkembangnya ide khilafah sesungguhnya tidak akan lahir, kecuali pada mereka yang di dalam dirinya telah bersekongkol faham sekuler demokrasi- kapitalisme neoliberal. Mereka merasa digdaya karena berdiri bersama kepentingan negara adidaya. Bahkan dengan sadar mereka memilih posisi melawan kebangkitan Islam demi jaminan dan dukungan bagi kekuasaan politik yang menyilaukan.

Maka dengan berbekal kepanikan, istilah radikalisme, moderasi Islam, dan narasi Pancasila dipakai sebagai senjata untuk menyerang gagasan khilafah. Upaya monsterisasi, persekusi, alienasi, bahkan kriminalisasi para pengusungnya juga masif dilakukan sebagai bagian dari suksesi menjegal khilafah.

Tapi umat yang bermartabat memang tak mudah dibohongi. Fakta pun berbicara tanpa bisa dimanipulasi. Bahwa sistem yang ada telah berbuat tidak adil. Demokrasi Kapitalis telah men-tuning model diri manusia agar menjadi buruh demi kepentingan industri. Mendesain kehidupan seseorang agar berporos pada kepuasan materi dan keserakahan. Menjarah kekayaan alam, sehingga menjadi sumber malapetaka, dan membuka ruang bagi berlangsungnya praktik penjajahan yang berujung penderitaan. Mengumbar kebebasan dan kesewenang-wenangan sehingga jatuh dalam keterpurukan dan degradasi moral. Kesejahteraan dan ketinggian peradaban hanya menjadi mimpi buruk bagi masa depan. Inilah gambaran dari era kegagalan.

Satu-satunya alasan, karena sistem ini tegak di atas azas sekulerisme. Standar nilainya adalah mengagungkan kebebasan dan meminggirkan peran agama dari kancah kehidupan. 

Realita kehidupan ini tentu bukan untuk diratapi. Melainkan untuk disadari keberadaannya sebagai konteks dimana kita perlu merancang design diri. Sebuah design yang dibangun sesuai dengan kebutuhan dan agar dapat menjawab tantangan zaman.

Maka sudah saatnya mereka tahu, bahwa Khilafah adalah ajaran Islam. Sedangkan Islam adalah satu-satunya jalan keselamatan. Sehingga tidak ada pilihan kecuali mengambil gagasan khilafah sebagai konsekuensi sebuah keyakinan (akidah Islam). 

Khilafah memang bukan rukun iman. Juga bukan rukun Islam. Tapi para ulama menyebutkan bahwa khilafah adalah mahkota kewajiban. Tanpa khilafah syariat Islam kaffah tak akan bisa dijalankan. Sebab khilafah adalah simpul utama tempat terikatnya ajaran-ajaran Islam.

Dari Abu Umamah Al Bahili dari rasulullah saw bersabda, “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah kekuasaan dan yang paling akhir adalah sholat” (HR Ahmad)

Maka sekarang inilah waktu yang tepat untuk menyingsingkan lengan, menjadi agent of change, mengambil peran perbaikan, bukan mengerdilkan. Apalagi menghilangkan jejak khilafah dari peta kehidupan.

Sebab orang jawa mengatakan: Wes wayahe!. Telah tiba masanya untuk bersegera memutar haluan, mengganti era kegagalan dengan peradaban yang penuh keberkahan. Men-tuning ulang model diri agar dapat menerima kenyataan bahwa khilafah adalah Wa’dullah Wa Busyra Rasulillah.[]

Oleh: Azizah, S.PdI
Penyuluh Agama Islam

Referensi :

The Model, Buku Pengembangan Diri Spiritual Ideologis Untuk Meraih sukses Pribadi & Peradaban, IKKJ Publisher (KDT).

Khilafah & Jejak Islam, Kesultanan Islam Nusantara, Pustaka Thoriqul Izzah

Posting Komentar

0 Komentar