TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Urgensitas Sejarah bagi Keberlangsungan Bangsa




Wacana penyederhanaan kurikulum dengan menggabungkan mapel Sejarah dengan IPS membuat aksi protes dari berbagai pihak. Pertanda bahwa sejarah itu penting untuk dipelajari demi keberlangsungan sebuah bangsa dan generasi.

Di lansir dari gelora.co, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana membentuk kurikulum pendidikan nasional yang baru yang akan digunakan pada 2021 mendatang. Di dalam draf penyederhanaan kurikulum dan asesmen nasional itu terdapat permasalahan, yaitu penghapusan mata pelajaran sejarah di SMK. (20 September 2020).

Diketahui sebelumnya, muncul petisi daring (online) yang mengusung isu soal mata pelajaran sejarah untuk SMA dan sederajat. Petisi di change.org atas nama Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) berjudul 'Kembalikan posisi mata pelajaran sejarah sebagai mapel wajib bagi seluruh anak bangsa' telah mendapat 10.473 tanda tangan hingga Jumat (18/9/2020) malam.

Petisi ini ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mereka tidak rela bila pelajaran sejarah dihapus dari kurikulum.

"Tempatkan mata pelajaran sejarah di struktur kurikulum dalam kelompok mata pelajaran dasar/umum yang wajib diajarkan kepada seluruh anak bangsa di semua tingkatan kelas (X, XI, XII) dan jenjang (SMA/SMK/MA/MAK)!" demikian bunyi petisi itu.

Berbagai protes yang muncul akibat wacana penyederhanaan mapel sejarah tersebut, hingga Mendikbud harus mengklarifikasi dan menegaskan bahwa ia tak bermaksud untuk menghilangkan mata pelajaran Sejarah.  

Dilansir dari RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim menegaskan, tidak ada rencana penghapusan mata pelajaran sejarah.

"Tidak ada rencana penghapusan mata pelajaran sejarah. Bahkan hingga 2021 pun belum ada perubahan kurikulum nasional," ujarnya, dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR di Jakarta, Rabu (23/9/2020).

Begitu pentingnya sejarah untuk dipelajari setiap generasi. Jika sampai terjadi reduksi mapel sejarah, maka bagaimana kualitas generasi negeri ini. Yang terjadi adalah tuna sejarah, tidak memahami peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi di negeri ini. Bahkan bisa menjadikan krisis identitas atau jati diri. 

Tidak dipelajarinya sejarah menjadikan generasi tak mengetahui koleksi memori sejarah. Baik itu sejarah kelam seperti peristiwa gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI). Dimana menggambarkan betapa kejamnya anggota PKI menganiaya para jendral, juga ulama. Penganiayaan sangat kejam, dengan membakar hingga membunuhnya.

Ada pula kejadian besar seperti masukknya khilafah bani Abasiyah hingga Turki Utsmani yang membawa berkah negeri. Hal ini tak akan diketahui oleh generasi bangsa jika tidak diajarkan.

Dalam hal ini bukan sekedar karena mapel sejarah jadi mapel tak wajib saja. Namun ada kekhawatiran lebih besar yaitu generasi jadi kehilangan pemahaman tentang jasa para ulama bagi negeri ini. Juga akan menghapus kekejaman PKI. Dikhawatirkan generasi bangsa tak tahu bagaimana kekejaman PKI. Jadi mereka bisa bersikap jika dihadapkan dengan sistem komunis.

Selain itu reduksi sejarah membuat rezi. Tak menganggap adanya urgensitas sejarah keberlangsungan bangsa dan generasi. Dimana dengan mempelajari sejarah akan tahu karakteristik suatu peradaban, juga mengetahui pelaku dan pemimpin suatu bangsa.

Dalam Islam al Qur'an sendiri berisi kisah-kisah sejarah. Kisah Nabi-Nabi terdahulu bukan cerita bohong. Semua kisah dalam al Qur'an adalah benar adanya. Kisah-kisah bisa diambil pelajaran dan hikmahnya.

Dianjurkan kita mempelajarinya agar mendapat tsaqafah dengan menjadikan aqidah Islam sebagai standart hidup. Kita boleh mempelajari tsaqafah lain, namun jika bertentangan dengan Islam maka kita tidak boleh mengikutinya. 

Tidak ada larangan belajar tsaqafah asing namun untuk ditolak atau diingkari keberadaannya. Jadi, ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. 

Adanya pemimpin peduli generasi dan peradaban maka akan mengumpulkan ahli sejarah untuk mengadakan riset. Peristiwa-peristiwa sejarah apa saja yang terjadi di dunia ini. Mana peristiwa sejarah yang bisa diteladani untuk diterapkan dalam kehidupan. Mana peristiwa sejarah yang cukup dijadikan pembelajaran. 

Ada standart yang harus dijadikan pedoman. Jika bertentangan dengan syara, maka peristiwa sejarah itu cukup jadi pembelajaran dan harus ditolak. Sedangkan peristiwa  sejarah yang merupakan teladan kebaikan, perjuangan, norma, dan segala yang tidak bertentangan dengan hukum syara maka itu yang harus diamalkan.

Hal seperti ini perlu ada institusi yang menerapkan yaitu khilafah atau pemerintahan yang menjadikan syariat Islam sebagai pedoman. Dengan seorang pemimpin yang paham aturan Islam yang harus diterapkan di seluruh lini kehidupan. Wallahu a'lam bish shawwab.[]

Oleh : Lilik Yani (Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar