TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Upaya Pembungkaman Dakwah Melalui Sertifikasi Dai

Bukan kali ini saja Pemerintah menginginkan peluncuran sertifikasi dai. Pada Periode sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim juga telah melontarkan penerbitan sertifikasi dai. Namun kebijakan ini tidak terealisasi karena banyaknya protes yang diberikan oleh masyarakat dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada waktu itu. Di tangan Menag Fachrul Razi yang sekarang, isu akan sertifikasi dai kembali mencuat pada akhir tahun 2019 dan akan disahkan pada tri wulan ketiga tahun ini. 

Fachrul menegaskan program tersebut bertujuan untuk mencetak dai yang berdakwah di tengah masyarakat tentang Islam rahmatan lil alamin. Ia pun berharap ke depannya masjid-masjid bisa diisi oleh para dai-dai bersertifikasi. Program itu dibentuk guna menangkal gerakan radikalisme lewat mimbar masjid. Dia sempat bercerita saat ini banyak penceramah yang membodohi umat lewat ceramah. (cnnindonesia.com, 13/08/2020)

Apa yang dilakukan oleh menag ternyata telah menuai protes dan penolakan dari berbagai kalangan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang direncanakan Kemenag untuk bekerja sama dalam program ini, malah lantang menolaknya. Keputusan untuk menolak program sertifikasi penceramah Kemenag itu diambil dalam keputusan Rapat Pimpinan MUI, Selasa (8/9)  yang tertuang dalam Pernyataan Sikap MUI Nomor Kep-1626/DP MUI/IX/2020. 

Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad juga menolak program tersebut. Ia menyebut, dai yang berasal dari ormas maupun swasta tak perlu mengikuti program sertifikasi penceramah. Menurut Dadang, penceramah yang memiliki latar belakang ormas keagamaan tertentu pasti berpandangan bahwa kegiatan dakwah dan ceramah kepada umat merupakan suatu panggilan agama. Penceramah disebutnya hanya menyampaikan pengetahuan keagamaan kepada orang lain sebagai perintah yang diajarkan dalam agamanya masing-masing. Dadang menegaskan, sertifikasi penceramah hanya cocok diterapkan bagi penceramah formal yang digaji oleh negara. Sementara, pendakwah yang berasal dari ormas keagamaan tak memerlukan sertifikasi penceramah dari Kemenag.

Memang benar, Islam tidak mengenal sertifikasi dai. Aktivitas Dakwah yang dimaknai sebagai pekerjaan dai oleh khalayak umum sesungguhnya merupakan perintah yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik sebagai pribadi, jamaah maupun negara. Allah Swt berfirman, 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia, maka kalian harus memerintahkan kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah SWT.” [TQS Ali Imron : 110]

Ayat ini berisi madh (pujian) kepada umat Nabi Muhammad saw. Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz II, menyatakan, jika pujian (madh) tersebut berdampak pada tegak dan tidaknya hukum syariah, maka pujian (madh) ini mempunyai konotasi wajib. Pujian yang dialamatkan oleh Allah kepada umat ini, yang dipuji sebagai umat terbaik (khayra ummah) terkait dengan aktivitas mereka, yaitu amar makruf nahi mungkar dan beriman kepada Allah. Kita tahu, ketiganya merupakan pilar tegak dan tidaknya hukum Allah. Karena itu, ayat ini bukan hanya berisi pujian (madh), tetapi juga perintah tentang kewajiban dakwah.

Ayat ini diperkuat dengan sabda Nabi saw,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ , فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ , وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإيمَانِ

Siapa saja di antara kalian yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Itu merupakan selemah-lemah iman).” (HR Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibn Majah dari Abu Said al-Khudri).

Bahkan Allah Swt telah mengingatkan,

وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً

“Takutlah kalian terhadap fitnah, yang tidak hanya akan menimpa orang zalim di antara kalian saja–tetapi juga orang yang tidak zalim).” (QS al-Anfal [8]: 25).

Fitnah ditimbulkan oleh orang zalim karena kemaksiatan yang mereka lakukan. Pada saat seperti itu, kewajiban dakwah - amar makruf dan nahi munkarpun memanggil jiwa tiap muslim tanpa melihat apakah ada sertifikasi dai yang disematkan pada dirinya atau tidak. Karena sesungguhnya panggilan ini berlaku untuk pribadi, jamaah dan negara karena seruan (khithab)-nya umum. Bahkan, di sana disertai ancaman, bahwa jika tidak ada upaya untuk melakukan apapun untuk mengubah kemaksiatan tersebut, maka setiap individu akan terkena dampaknya meskipun ia tidak melakukan kezaliman. 

Dan yang paling penting, dakwah yang sesungguhnya bukanlah tugas para dai saja. Rasul Saw mengatakan melalui lisannya yang mulia, 

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari). Ketika satu ayat saja wajib disampaikan, tentu yang lebih banyak menjadi lebih wajib. Karena itu, berdakwah merupakan kewajiban setiap muslim dengan kelebihan dan kekurangan yang melekat padanya.

Oleh karenanya Islam tidak membolehkan adanya sertifikasi dai, karena dikuatirkan akan membatasi ruang dakwah para dai dan mengubur kewajiban atas atas setiap individu. Dakwah tidak memerlukan izin sebagaimana pengurusan surat ijin mengemudi. Bukankah perintah yang berasal dari Allah sebagai Pencipta dan Pengatur yang seharusnya diutamakan?[]

Oleh: Novida Sari
(Ketua Forum Muslimah Peduli Generasi Mandailing Natal)

Posting Komentar

1 Komentar