TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ulama Pewaris Nabi, Dikriminalisasi?


Ulama pewaris para Nabi, melanjutkan amanah untuk memegang teguh syariat Islam, demi tersampainya ke seluruh umat manusia. Hingga tak ada yang komplain belum mendapat informasi Islam yang benar.

Jika kenyataan yang ada di depan mata, ada banyak ulama dipersekusi, bahkan dikriminalisasi. Maka posisi ulama seperti tidak dihargai, bahkan cenderung diremehkan. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, dalam sepekan ada kejadian yang sangat memprihatinkan.

Seperti yang dilansir Tribunnews.com, duka mendalam dirasakan keluarga dan masyarakat atas meninggalnya M.Arif (59), Imam Masjid Nurul Imam yang tewas akibat dibacok marbot masjid, Senin (14/9/2020).

Selain itu di Liputan6.com, Syekh Ali Jaber menjadi korban penikaman oleh orang tak dikenal saat sedang berdakwah di Bandar Lampung pada Minggu (13/9/2020). Karena kejadian itu, Syekh Ali Jaber mendapatkan 10 jahitan di tangan kanannya yang terluka karena pisau pelaku penikaman. 

Demikian fakta yang bisa ditangkap media, dan jadi berita viral dalam pekan ini. Selain itu masih banyak kejadian yang menimpa ulama lainnya. Bisa dibayangkan, jika ulama banyak yang dikriminalisasi. Lantas bagaimana umat akan mengetahui ajaran Islam yang benar? Mengkriminalisasi ulama, bagaikan memusuhi ajaran Islam
 
Memusuhi ajaran Islam sama halnya memusuhi Allah dan RasulNya. Ulama adalah orang yang paling takut kepada Allah. Ulama yang mendapat amanah menyebarkan ajaran  Islam ke.seluruh umat. Demi meraih keselamatan dunia dan akhirat.

Islam sangat memuliakan ulama dan menempatkan ulama dalam derajat yang mulia dan terhormat. Jika kenyataan yang terjadi ulama dipersekusi, dihalangi untuk menyampaikan kebenaran Islam. Dianggap radikal jika menyampaikan ajaran Islam secara benar. Bahkan wacana baru, ulama akan disertifikasi lebih dahulu sebelum berdakwah.

Hingga kekerasan fisik, pun terjadi. Ulama ditusuk senjata saat mengajarkan bacaan al-Qur'an pada anak-anak hafidz yang akan diwisuda. Seperti yang dialami oleh Syeik Ali Jabeer beberapa hari lalu. Kalau dipikir mendalam, apa ya bahayanya? "Hanya" belajar membaca saja, sudah membuat ketakutan luarbiasa hingga menyuruh orang bayaran untuk menusuk dada.

Beruntung Allah masih meyelamatkan sang ulama. Karena masih panjang perjuangan beliau untuk menyebarkan Islam, sebagai amanah menjadi ulama. Beliau menunjukkan bukti bahwa ulama tidak ada ketakutan kepada apapun dan siapapun kecuali hanya takut kepada Allah semata.

Ketika tusukan pelaku tak kena sasaran. Ditangkis sang ulama hingga mengenai lengan. Usai mendapat pengobatan. Maka sang Ulama kembali bersemangat melanjutkan perjuangan. Sebuah visi besar harus dijalankan. Indahnya ajaran Islam harus tersampaikan. Umat Islam harus paham dan kembali ke jalan kebenaran.

Kemudian kejadian lain yang membuat muslim berduka. Seorang imam masjid yang sedang mengimami sholat, dibacok oleh seorang marbot. Terlepas dari masalah apapun penyebabnya. Ada keprihatinan mendalam jika sesama muslim harus membunuh saudara sendiri yang notabene mendapat amanah sebagai Ustadz yang harus menyampaikan Islam.

Jika ada masalah pribadi, tidak adakah kesempatan duduk bersama untuk mencari jalan keluar? Bukankah semua masalah pasti ada jawaban. Jawaban terbaik dari segala masalah yang ada hanyalah dengan bersandar kepada hukum Allah.

Syetan begitu lihai menggoda manusia. Segala cara ditempuh agar bisa merusak bangunan persaudaraan sesama aqidah. Jika sesama muslim bisa berfikir mendalam, bahwa musuh sebenarnya bukanlah saudara seiman. Maka seharusnya saling melindungi jika ada saudara sendiri yang berkedudukan sebagai ulama, harus menunaikan amanah siar ajaran Allah. 

Ketika ada musuh ingin memporak-porandakan bangunan ukhuwah, hanya dengan iming-iming hadiah. Baik itu berupa jabatan, materi, kedudukan, atau sejenisnya yang bernuansa keduniawian. Maka hendaklah berani untuk menolak. Bukan mendukung apalagi membantu musuh. 

Musuh sesungguhnya adalah mereka yang tak rela Islam kembali menang. Musuh tak suka melihat bendera tauhid kembali berkibar. Musuh tak sanggup melihat Islam kembali memimpin dunia. Maka segala cara akan dilakukan demi menghalangi kemenangan Islam.

Nah, demi hal itulah, maka seorang muslim dilarang menjadi antek, pendukung, pembela, pembantu lancarnya tujuan musuh. Hanya karena iming-iming materi yang tak sebanding balasan Allah di surga.

Di sinilah pentingnya negara dan pemimpin adil peduli umat yang akan mengajak umat dalam ketaatan. Segala kebutuhan diberi kemudahan mencukupinya. Pendidikan, kesehatan bisa gratis dengan fasilitas memadai. Keamanan umat juga terjaga. Demikian pula keselamatan para ulama warasatul anbiyya, akan mendapat tempat dan posisi mulia karena setiap detik hidupnya hanya untuk menjalankan ketaatan, dan mengajak umat ke jalan keselamatan.

Jika kepemimpinan Islam itu ada, maka pelaku kejahatan akan mendapat sanksi sesuai kadar kesalahan. Dan yang pasti, ulama warasatul anbiyya tidak ada yang berani persekusi apalagi kriminalisasi. Andai pemimpin adil itu ada, maka tak ada lagi jeritan umat menagis kelaparan. Tak ada lagi saling permusuhan sesama umat Islam, apalagi saling membunuh. 

Namun, kenyataan pahit yang harus dirasakan saat ini. Para ulama banyak mengalami persekusi, juga kriminalisasi. Seakan tak ada ketakutan lagi pada ulama pewaris para Nabi. Tak ada penghargaan, yang ada justru kecurigaan. Tak ada kemuliaan, yang ada hanyalah penghinaan. Ulama dilecehkan, ajaran yang dibawa ulama diremehkan. Tak ada ketakutan akan hari penghisapan, tak takut dimintai pertanggungjawaban.

Ya, akankah kondisi seperti ini dibiarkan? Siapkah menjawab pertanyaan di hari perhitungan? Tiada jalan terbaik yang harus kita tempuh kecuali, mengembalikan Islam kembali memimpin dunia. Mana mungkin bisa, sementara kondisi sudah kacau balau seperti ini?

Yakin akan pertolongan Allah, percaya akan kabar gembira dari Rasulullah. Bahwa pemimpin adil itu pasti akan datang. Mengajak umat menjalankan ketaatan, kembali menerapkan syariat Islam di seluruh lini kehidupan. Ulama mendapat tempat kehormatan. Jadi tempat rujukan para pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahan. Agar selalu berada di jalan keselamatan. Hingga umat hidup sejahtera, bisa ibadah dan hidup damai bersama ulama. 

Masa itu yakin tiba. Hanya saja perlu perjuangan kuat dan semangat baja untuk mewujudkannya. Butuh dukungan seluruh umat muslim di dunia, saling mendukung dan bekerjasama mewujudkan kehidupan sejahtera. Wallahu a'lam bishawwab.[]

Oleh: Lilik Yani
(Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar