TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Taubat Paripurna Mengatasi Wabah



Sejak Maret 2020 hingga saat ini, wabah pandemi corona masih menyebar di Indonesia dan bukan waktunya untuk lengah, karena jika ingin melihat data baiknya meilihat data daerah begitu kata Prof. Amin Soebandrio yang merupakan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Walau perkataan beliau saat wawancara diambil di bulan Juli 2020, kenyataan hari ini kasus penyebaran corona masih berlangsung dilihat dari data nasional mengatakan bahwa kasus corona Indonesia terus naik, namun data daerah cenderung sepeti huruf W, bergerigi. Naik lalu turun dan naik kembali, belum positif terus melandai. ( Liputan6.com 18/07/2020)

Presiden Jokowi, selaku pemimpin negeri ini mengajak kaum muslim khususnya untuk banyak infaq dan sedekah saling membantu agar tidak terjadi resesi ekonomi dan tentu sebagai bentuk mengingat Allah dengan adanya corona ini, kita diminta untuk kembali atau bertaubat. ( nasional.kompas.com 26/09/2020 )

Arti Kata Taubat

Taubat atau at-Taubah berasal dari kata تَوَبَ  ( Tawwaba ) yang bermakna kembali, kembali kepada Allah untuk menarik diri dari dosa-dosa yang sudah diperbuat dan menyesalinya. Sebenarnya, seorang muslim harus bertaubat setiap hari dengan melakukan istighfar minimal 70 kali sehari. Namun hal tersebut bukan saat terjadi musibah saja, karena kita yakini musibah ini khususnya corona, tidak hanya mampu diatasi dari sisi keimanan kita trust nya kita kepada Allah, tapi Allah mampukan kita untuk berfikir dengan ilmu dan meneladani Rasul serta para Sahabat saat menjadi Khalifah memimpin dunia untuk diurusi dengan syariat atau aturan dari Allah.

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan rasa lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira untuk orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun (sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)” 

Pada surat Al Baqarah ayat 155 hingga 156 ini, terdapat kalimat Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, yang artinya sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya  kami akan kembali kepada Allah. Maka sepantasnya apa yang dijalankan kita saat ini adalah aturan dari Allah, tidak sekedar infaq dan shadaqah namun aturan yang lain yang tidak sesuai dengan aturan Allah harus di hilangkan. 

Taubat ini menjadi sebenar-benarnya taubat, dan tidak sekedar taubatan nasional saja, namun seluruh dunia pun harus menyadari bahwa Allah inginkan kita kembali pada aturan yang mampu mengurus dunia dengan baik yang bersumber dari Al Quran dan As sunnah,  agar keberkahan hidup dirasakan dari langit dan bumi, dan kita akan tenang dengan bersama-sama menjadi ummat yang bangkit dengan Islam sebagai syariat kita yang mengatur kita. 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” ( QS. Al Araf 96 )

Maka tidak hanya dalam sisi keimanan, tapi ilmu saat Rasul dan para Sahabat menjadi Khalifah harus pelajari dan terapkan juga. Saat pertama kali wabah ada,  syariat atau aturan Allah menyampaikan untuk menutup sumber wabah atau melockdown agar wabah tidak tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Tidak Cukup Hanya Iman

Ibnu Hajar menceritakan kisah ini di dalam Fathu al-Bârî bahwa Umar ra. keluar ke Syam, ketika tiba di daerah Syargh, sampai kepadanya bahwa wabah terjadi di Syam. Lalu Abdurrahman bin ‘Awf memberitahunya bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.”

Namun apa yang harus kita lakukan jika wabah sudah terlanjur menyebar? Caranya dengan tawakal dan bertaubat serta menyadari hanya Islam solusi kehidupan kita, menjadikan ketaqwaan individu sebagai kekuatan diri untuk sungguh-sungguh mempelajarinya,  lalu bersinergi dengan masyarakat untuk taqwa berjama’ah dengan sadar akan pentingnya sebuah naungan yang mampu mengembalikan Islam sebagai aturan kehidupan. Karena dari masyarakat yang sadar akan kepentingan syariah Islam secara kaffah, maka pemimpin yang layak untuk masyarakat yang sudah sadar dengan syariah kaffah hanyalah pemimpin yang empati dan peduli dengan kesejahteraan masyarakat terutama di masa pandemi, serta tidak menjadikan rakyatnya untuk mandiri secara ekonomi, karena kewajiban negara yang mengurus rakyatnya baik di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan dan seuruh bidang kehidupan lainnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barang siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah utang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim no. 2699).

Hanya Khilafah yang mampu mewujudkan itu semua, sejatinya taubat yang hakiki adalah ketika kita sadar bahwa Islam harus kita perjuangkan dan ditegakkan dalam naungan Khilafah Islam.  Wallohu’alam bi ash shawab.[]


Oleh : Yauma Bunga Yusyananda

Posting Komentar

0 Komentar