TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tangkis Korean Wave: Negara Ibarat Rumah bagi Generasi Muda



Generasi muda memiliki posisi penting dalam proses regenerasi negeri ini. Negara ibarat rumah bagi para anak bangsa. Selayaknya rumah yang berfungsi untuk membentuk individu. Menyiapkan mereka agar memiliki karakter dan sifat ideal di tengah-tengah masyarakat. Sehingga sistem kehidupan masyarakat yang ditanamkan pada sebuah negara akan mempengaruhi kualitas generasi penerusnya. 

Arus globalisasi menjadikan Indonesia sebagai sasaran empuk ekspansi pasar negara-negara kapitalis. Salah satu faktanya adalah masuknya Korean Wave di negeri ini. Suguhan produk-produk berbau Korea perlahan mengubah selera dan paradigma para remaja. Pengaruhnya cukup signifikan, mulai dari fashion, lifestyle, musik, film dan drama. Banyak remaja-remaja Indonesia yang mulai mengikuti gaya berpakaian artis-artis korea idolanya, dari gaya rambut hingga cara berpakaian yang mirisnya menunjukkan dekadensi nilai moral.

Tak hanya corona rupanya. Korean Wave juga menjadi virus yang mewabah di Indonesia saat ini. Banyak remaja yang sudah terinfeksi. Mereka rela mengeluarkan uang untuk membeli tiket konser, album,  merchandise, dan produk yang diiklankan oleh idolanya. Barang-barang itu tentunya tidak didapat dengan harga yang murah. Kaum kapitalis telah berhasil memanfaatkan produk-produk tersebut untuk dijual dan meraup keuntungan yang besar. Mereka juga telah sukses menjadikan generasi negeri ini menjadi generasi yang konsumtif. 

Namun ironinya, fenomena Korean Wave ini malah didukung oleh pemerintah. Dapat kita dengar langsung pernyataan dari orang nomor dua di negeri ini yang membuat kita terheran-heran mendengarnya. Wakil Presiden KH. Maruf Amin menyatakan harapannya pada tren Korean Pop atau K-Pop dan drama-drama korea dapat mendorong munculnya kreativitas anak muda Indonesia. Menurutnya, budaya korea yang didiseminasi di Indonesia melalui musik dan film memiliki potensi untuk membawa budaya Indonesia go international.

Maraknya budaya K-Pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya  kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya indonesia ke luar negeri, kata Maruf Amin dalam keterangannya untuk peringatan 100 tahun kedatangan orang korea di Indonesia (tirto.id, 20 September 2020).

Menjadikan Korean Wave sebagai panutan sangatlah berbahaya bagi anak-anak negeri. Tren  K-Pop dan budaya Korea yang masuk ke Indonesia acapkali menipu nalar remaja. Terbukti betapa mudahnya mereka meniru. Menunjukkan rapuhnya kepribadian mereka. Bukannya menangkis, malah menyuruh kawula muda untuk menjadikan Korean Wave sebagai inspirasi. Mau jadi apa Indonesia di masa depan?

Sebuah negara ibarat rumah bagi generasi muda. Di dalamnya terdapat sebuah ideologi yang dapat menentukan generasi seperti apa yang akan dibentuk. Rumah adalah tempat pertama yang digunakan sebuah keluarga untuk mendidik anak-anak. Bila seorang anak dibesarkan dengan celaan, maka akan menghasilkan anak-anak yang suka memaki. Namun jika anak dibesarkan dengan pujian, maka akan menghasilkan anak-anak yang pandai menghargai. Ibaratnya seperti itu. Jika sebuah negara diisi dengan tatanan kehidupan masyarakat yang condong pada sistem kapitalis-liberal, maka akan melahirkan generasi-generasi matrealistis, konsumtif dan rapuh.
 
Kapitalisme hanya berorientasi pada materi. Bila ideologi ini yang dipakai oleh sebuah negara untuk mendidik anak bangsa, maka lahirlah generasi-generasi yang dalam aktivitasnya hanya berientasi untuk mencari keuntungan semata. Apalagi yang diusung dalam sistem kapitalis adalah gaya hidup liberal. Mencetak individu-individu yang tidak peduli dengan moral dan berperilaku bebas.

Berdasarkan pengakuan dari seorang Youtuber asal Korea, Lee Sang Soo--dalam channel-nya L33BROS mengatakan bahwa hidup di sana (baca: Korea) tidak seindah yang diceritakan dalam film dan drama Korea. Lilitan hutang, tekanan dalam dunia pendidikan, dan kasus bullying menjadikan Korea sebagai negara dengan kasus angka bunuh diri yang tinggi. Semua terjadi karena individu-individu tersebut merasa gagal memenuhi tuntutan dan ekspektasi negaranya. Negara (Korea) yang sudah dipengaruhi oleh dominasi dan relasi dengan negara adidaya yang hari ini menjadi leader kapitalisme.

Pergaulan bebas serta hubungan seks yang dilakukan sebelum menikah juga menjadi salah satu hal yang biasa bagi remaja-remaja Korea. Hal ini terjadi sejak Jepang menjajah Korea di tahun 1910-1945. Jepang melakukan kebijakan Restorasi Meiji. Yaitu kebijakan yang mengharuskan Korea menerima semua hal-hal yang berasal dari Barat, seperti budaya, ekonomi dan politik yang ditunggangi sistem kapitalis.

Indonesia butuh sebuah sistem terbaik bila ingin melahirkan generasi-generasi yang siap memikul tanggung jawab kebangkitan negeri. Sistem yang mampu mencetak generasi cemerlang. Dan generasi cemerlang itu hanya akan  terlahir dari sistem yang cemerlang pula; yaitu sistem islam. Karena islam yang diturunkan oleh Allah dengan begitu sempurna mengatur kehidupan ini. Mulai dari sistem pergaulan, sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem hukum, hingga sistem politik dan pemerintahan. Semuanya diatur dalam islam.

Allah SWT berfirman, Dan Kami turunkan  kepadamu Al-kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk  serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl: 89).

Sebab itu pula Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai teladan untuk membangun peradaban. Pribadi Nabi seluruhnya adalah kebaikan untuk semua bidang kehidupan. Seharusnya yang dijadikan sumber inspirasi adalah Nabi Muhammad SAW yang kehadirannya sebagai penyempurna akhlak. Bukannya budaya Korea yang rentan dengan lifestyle-nya yang rusak. Menjadikan dunia barat dan kapitalisme sebagai kiblat atas semangat modernitas untuk menjadi negara maju baru, khususnya di Asia. Memang kapitalisme telah sukses menjadikan Korea sebagai negara maju dengan sumber devisa terbesar negaranya, namun ia telah nyata membawa kerusakan pada generasi bangsanya sendiri.

Perintah meneladani Rasul, Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya Sungguh, telah ada pada diri Rasululah suri tauladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi siapa saja yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak mengingat Allah.  

Dan juga firman Allah yang artinya, Dan apa-apa yang diperintahkan rasul ambillah dan apa-apa yang dilarang rasul, jauhilah. (QS. Al-Hasyr:7).

Fakta sejarah juga telah membuktikan bagaimana islam mampu membangun sebuah peradaban yang gemilang. Keberhasilan itu terjadi di tengah-tengah masyarakat Arab, yaitu pertama, berhasil mengubah bangsa Arab menjadi bangsa yang memiliki pemikiran cemerlang dan menghilangkan fanatisme kesukuan. Dan kedua, menjadikan bangsa Arab sebagai pemimpin perdaban dunia dengan kemajuan ilmu dan teknologinya saat itu. Kemajuan peradaban kala itu tidak lain disebabkan karena masyarakat menjadikan islam tidak hanya sebagai agama saja, melainkan sebagai pandangan hidup sekaligus tujuan hidup.

Dalam sebuah jurnal yang berjudul Islam dan Kapitalisme; Sebuah Oposisi Biner antar Peradaban dituliskan bahwa peradaban islam berkembang sebagai buah dari perkembangan Islam, dengan segala aspek penyusunnya. Aspek-aspek ini meliputi moral, ilmu pengetahuan, keyakinan, seni, politik, bahkan teknologi dan sebagainya. Sebuah sistem kehidupan yang berciri khas kesejahteraan hidup dunia dan akhirat. Ia tidak hanya mengejar pencapaian faktor-faktor material untuk dapat memajukan peradabannya, akan tetapi juga mengedepankan perhatian terhadap prinsip- prinsip hidup yang berasaskan akhlak dan tetap santun dalam berinteraksi dengan keberagaman dunia. 

Sangat bertolak belakang dengan sistem kapitalisme yang menjadikan parameter kebahagiaan dan kesuksesan adalah materi. Sehingga membentuk masyarakat yang terinspirasi mengejar materi dimanapun mereka berada. Begitu pula dengan generasi yang dibesarkan di sebuah rumah (baca: negara) dalam sistem kapitalis tentu juga akan berlomba mengejar materi. Standar terpuji-tercela, halal-haram, benar-salah tidak dihiraukan lagi. Bahkan sistem ini juga telah menjadikan masyarakatnya sakit jiwa. Adanya fakta yang terjadi baru-baru ini, kasus ibu kandung yang tega membunuh anaknya sendiri.

Lahirnya generasi berkualitas  dan menginspirasi hanya bisa dilahirkan dari sebuah negara yang menjadikan islam sebagai sistem tatanan masyarakatnya. Bukan generasi yang mengikuti tren dan gaya hidup Korean Wave. Prestasi yang diukur bukan materi atau ketenaran belaka, melainkan generasi yang mampu melejitkan segala potensi yang dimiliki untuk kemashlahatan umat. 

Justru negara-negara yang menjadikan kapitalisme sebagai ideologinya akan mencetak generasi-generasi berperilaku serba bebas. Banyak remaja di negara mereka yang kecanduan narkoba, obat-obatan terlarang, minuman keras, dan mengalami penyakit mental seperti depresi hingga bunuh diri seperti yang terjadi pada remaja-remaja di Korea. Sebuah negara yang hari ini katanya banyak menginspirasi generasi muda di Indonesia. 

Berbeda dengan negara yang menjadikan islam sebagai sumber lifestyle-nya. Negara yang menganut sistem islam tidak akan pernah mengizinkan budaya hedonis liberal seperti Korean Wave masuk kenegaranya. Bahkan negara akan menghancurkan segala tradisi dan budaya yang tidak Islami yang telah nyata terlihat kerusakannya.

Menangkis Korean Wave dan menjadikan islam sebagai sistem tatanan masyarakat adalah solusi cerdas untuk negeri ini. Bila ingin mewujudkan sebuah negara yang melahirkan generasi-generasi emas sebagai tonggak peradaban masa depan, maka perlu adanya keinginan politis untuk menciptakan masyarakat muslim idaman kaffah. 

Insya Allah akan lahir generasi-generasi harapan umat yang berbudi luhur. Karena negara ibarat rumah bagi para generasi muda. Bila rumah mendidiknya dengan sistem yang baik, maka akan baik pula generasinya. Bila dididik dengan sistem yang rusak, maka akan rusak pula generasinya. Hanya islamlah yang bisa mewujudkan rahmatan lil alamin untuk negeri ini.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah keadaan mereka sendiri. (QS. Ar-Rad: 11). Wallahualam Bisshowwab.[]

Oleh: Retno Purwaningtias, S.IP (Aktivis Muslimah)


Posting Komentar

0 Komentar