Tanaman Ganja begitu Dimanja, Bagaimana Islam Memandangnya?

Tanaman ganja sedang naik daun. Apa yang terbersit dibenak kita ketika mendengar tanaman ini? Dari banyak berita yang beredar, tanaman ini sering dijadikan barang bukti kejahatan, yakni kasus penyelundupan. Karena memang ganja merupakan tanaman penghasil pundi-pundi rupiah. Hingga banyak orang yang tergiur untuk terjun dalam bisnis ini. Meski disisi lain tanaman ini diklaim mempunyai khasiat untuk pengobatan.

Tanaman ganja (Cannabis Sativa) adalah tanaman penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol yang membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Dan inilah yang sering digunakan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Ganja hanya untuk nge-fly atau mabuk dan bersenang-senang sesaat.

Masih dalam situasi pandemi yang belum tahu kapan berakhir, bahkan akhir-akhir ini terjadi peningkatan kasus yang drastis, publik dikejutkan dengan kabar dari Kementerian Pertanian. Sebagaimana dilansir dari nasional.kompas.com, tanaman ganja menjadi kontroversi setelah Kementerian Pertanian (Kementan) menetapkannya sebagai salah satu tanaman obat komoditas binaan. Keputusan tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia (Kepmentan) Nomor 104 Tahun 2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menandatangani aturan tersebut pada 3 Februari 2020.

Rupanya, tanaman ganja yang merupakan jenis tanaman psikotropika selama ini telah masuk ke dalam kelompok tanaman obat sejak tahun 2006. Hal tersebut tercantum dalam Kepmentan Nomor 511 Tahun 2006.

Sontak, publik melayangkan kritikan keras terhadap keputusan kontroversi ini. Publik mempertanyakan kenapa tanaman ganja yang dijadikan komoditas binaan. Sebagaimana umum diketahui bahwa tanaman ini lebih banyak disalahgunakan daripada diambil manfaatnya. Kenapa tanaman ganja begitu dimanja, tidak adakah tanaman yang lainnya? Bukankah di negeri kita dapat dijumpai beraneka ragam tanaman yang bisa dibudidayakan? Dan bukankah jelas dalam Islam bahwa tanaman ini diharamkan?

Tak berapa lama Kementerian Pertanian (Kementan) mencabut sementara Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No 104/2020. Ada kontroversi dalam beleid tersebut yaitu masuknya ganja (Cannabis Sativa) sebagai salah satu komoditas binaan pertanian.

Sebenarnya ini bukan hal yang baru, karena ganja sudah ada dalam daftar binaan seperti tertuang dalam Kepmentan No 51/2006. Pengaturan ganja sebagai kelompok komoditas tanaman obat, hanya bagi tanaman ganja yang ditanam untuk kepentingan pelayanan medis dan atau ilmu pengetahuan, dan secara legal oleh Undang-undang (UU) Narkotika. (cnbcindonesia.com)

Meski sudah dicabut, kita patut terus waspada. Karena bisa jadi hanya untuk meredam sesaat karena banyaknya kritikan. Dan hal seperti ini begitu sering dilakukan. Selama sistem  kapitalis sekuler yang masih diterapkan di negeri kita, maka sah ketika aturan agama dipinggirkan. Halal haram tak dihiraukan asalkan mendapatkan manfaat dan keuntungan. Hingga menabrak aturan agama yang jelas mengharamkannya.

Dan soal legalitas budidaya ganja sebagai tanaman obat, juga masih menimbulkan kontroversi, namun pemerintah tetap melakukannya. Jelas bahwa semakin menegaskan adanya ketidakmampuan sistem sekuler menghasilkan kebijakan yang menjamin terwujudnya rasa aman sekaligus kemaslahatan fisik.

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, karena datang dari Dzat Yang Maha Sempurna. Dalam Islam hukum asal suatu barang adalah mubah, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.

Tentang ganja, berbagai dalil dapat kita temukan terkait keharaman narkoba, termasuk didalamnya ganja. Dari Ummu Salamah, ia berkata "Rosululloh SAW melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)." (HR. Abu Daud no 3686 dan Ahmad 6:309)

Islam jelas memastikan bahwa barang haram dilarang untuk diproduksi dan didistribusikan di tengah masyarakat. Termasuk dalam hal ini ganja. Karena dalam Islam negara hanya akan melakukan aktivitas produksi dan distribusi barang yang halal.

Jelas sekali bagaimana Islam mewajibkan negara menegaskan bahwa benda yang diharamkan tidak boleh ditetapkan sebagai komoditas yang diambil keuntungannya. Dari sini dapat diketahui bahwa negara dalam Islam telah melakukan penjagaan pada individu dan masyarakat untuk hidup sehat sesuai syariat. Begitupun kebijakan yang diambil jelas menghasilkan kebijakan yang menjamin terwujudnya rasa aman, tentram dan kemaslahatan fisik. Karena hal itu merupakan kewajiban negara terhadap rakyatnya.

Tidakkah kita rindu dengan sistem ini? Sistem yang memanusiakan manusia dan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hanya dalam naungan Daulah Khilafah Islam lah sistem ini bisa diwujudkan. Semoga tidak lama lagi, insya Allah. Wallahu'alam bishowab.[]

Oleh: Ummu Brilliant
(Anggota Komunitas Setajam Pena)

Posting Komentar

0 Komentar