TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tabayyun Rasa Persekusi?



Beberapa waktu yang lalu, masyarakat dikejutkan dengan beredarnya video digeruduknya seorang ulama oleh sekelompok ormas. Sang ulama dituduh meresahkan masyarakat karena menyebarkan ide Khilafah.  Beberapa media pun menulis bahwa mereka sedang bertabayyun kepada sang ulama. 

Namun sikap yang ditunjukkan kelompok ini melalui unggahan video yang tersebar luas melalui berbagai platform media tersebut, malah menunjukkan sikap sebaliknya. Membentak-bentak dan berkacak pinggang di depan seorang ulama sepuh membuat masyarakat geram akan tindakan mereka.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah meminta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mampu membedakan tabayyun dengan persekusi.

"Menag semestinya punya kemampuan membedakan tabayyun dan persekusi. Memaksa seseorang mengakui aktivitas yang tidak terbukti di muka hukum adalah persekusi," ujar Dedi ketika dihubungi Tagar, Sabtu, 22 Agustus 2020. (https://www.tagar.id/puji-banser-menag-diminta-bedakan-tabayyunpersekusi)

Pernyataan Menag Fachrul Razi ini juga mendapat perhatian Prof Musni Umar. Sebab, dia melihat proses tabayun oleh Banser dilakukan dengan cara membentak dan mengintimidasi.

“Kalau pernyataan Menag ini benar, amat disayangkan, karena Islam tidak mengajarkan untuk membuat kekerasan, membentak, dan melakukan intimidasi kepada ulama atau kepada siapa pun,” ucap Prof Musni sebagaimana dikutip di akunnya di Twitter, Minggu (23/8). (https://fajar.co.id/2020/08/23/prof-musni-umar-sesalkan-sikap-menag-fachrul-razi-soal-banser-di-rembang/)

Menag semestinya menempatkan diri sebagai penengah dalam urusan keagamaan yang menjadi bidang Kemenag. Sikap mengapresiasi pelaku tindakan persekusi akan membuat masyarakat semakin resah  dan akan menimbulkan perpecahan diantara kaum muslimin.

Islam mempunyai seperangkat aturan, dengan demikian persekusi terhadap ulama akan ditindak tegas bukan malah diapresiasi. Islam akan menjaga agar tidak ada perpecahan ditubuh kaum muslimin karena hal tersebut merugikan kaum muslimin sendiri. Tabayyun artinya memeriksa kembali kabar berita dan tentunya dengan cara yang baik dan beradab, bukan dengan membentak-membentak orang yang lebih tua. 
Allah Ta'ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلىَ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasiq dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al Hujurat : 6)

Imam Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan tabayyun adalah memeriksa dengan teliti dan yang dimaksud dengan tatsabbut adalah berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, melihat dengan keilmuan yang dalam terhadap sebuah peristiwa dan kabar yang datang, sampai menjadi jelas dan terang baginya.” (Fathul Qadir, 5:65).

Dengan demikian sesungguhnya apa yang dituduhkan tersebut merupakan hal yang diada-adakan. Sebagaimana diketahui bahwa khilafah termasuk bagian dari ajaran Islam. Khilafah bukanlah suatu paham ataupun ideologi. Ketidaktahuan terhadap khilafah membuat sebagian masyarakat dan juga rezim saat ini menjadi fobia terhadap ajaran Islam sendiri.[]

Oleh: Anggi

Posting Komentar

0 Komentar