TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Skenario Allah Pasti Terbaik

Allah hanya menghendaki yang terbaik untuk hamba yang beriman dan selalu menjalankan ketaatan. Ketika hamba menerapkan syariat Islam dengan bukti tampak indah dipandang (good looking) ternyata menimbulkan kecurigaan. Allah akan menjaga dan memberi perlindungan.

Seperti yang dilansir REPUBLIKA.CO.ID, Menteri Agama Fachrul Razi belum lama ini kembali membuat pernyataan yang kontroversial. Fachrul mengungkapkan bahwa institusi pemerintahan memiliki banyak peluang untuk disusupi paham radikal. Caranya diawali dengan mengirimkan anak ‘good looking’ untuk mendapatkan simpati, seperti seorang anak yang menguasai bahasa Arab dan hafal Alqur'an atau hafidz. (5 September 2020)

Bagaimana mungkin Islam yang mengajarkan keindahan kemudian ada yang menerapkan, lantas dianggap mengikuti paham radikal. Ditandai pemuda good looking tersebut sering datang ke masjid-masjid, memiliki pemahaman bahasa Arab yang baik dan hafal al-Qur'an.

Jadi ingat anak-anak muda yang dipondok untuk mengkaji syariat Islam dan menghafal al-Qur'an. MasyaAllah, mereka itu cakep-cakep lho, rapi, bersih, wangi,   apakah mereka dianggap jadi bibit radikalisme? Mereka bisa good looking seperti itu karena menerapkan syariat Islam yang dipahaminya. Dan itu tidak ada kaitannya dengan paham radikalisme.

Ada lagi pemuda good looking lainnya. Banyak juga pemuda keren, cakep, putih, bersih, namun sedang berkeliaran di mall atau sedang acting main di sinetron, shooting kompetisi bakat, nyanyi, dan semacamnya. Mengapa bukan mereka yang dituduh sebagai good looking pembawa paham radikalisme?

Ternyata tekanannya di konten isi otak dan hati sang good looking. Jika mereka hanya enak dipandang dalam arti fisik saja. Tidak pernah atau jarang ke masjid dan tidak ada hafalan Qur'an. Tak nampak pula kemampuan bahasa Arab, maka mereka yang good looking fisik begitu tidak dianggap membahayakan. Tidak dicurigai membawa paham radikalisme. 

Dalam hal ini yang ditakutkan adalah Islam dan iman yang melekat dalam dada para pemuda good looking Islam. Ada sebuah kekhawatiran mereka akan menyebarkan pemahaman itu kepada umat. Apalagi dengan penampilan good looking sungguh akan mudah menarik perhatian umat untuk mengikuti ajarannya.

Sungguh, sebuah ketakutan yang tidak beralasan. Jika pemuda good looking mengajak umat kembali ke jalan Allah, mengapa harus ditakutkan?

Seharusnya yang ditakutkan adalah jika umat tidak memiliki pegangan aqidah Islam. Sehingga mereka hanya ikut alur, bisa terombang ambing tergantung angin perubahan apa yang membawanya. Jika diajak kepada hal negatif, maka umat akan rusak dan menjadi generasi kacau di kehidupan nantinya.

Pergaulan bebas, miras, narkotika, perjudian, hura-hura, tidak peduli umat, maka bisa dibayangkan bagaimana kondisi negeri nantinya. Bagaimana nasib negeri jika generasi masa depan kacau? Mengapa pemimpin negeri saat ini tidak mengkhawatirkan hal tersebut? Justru risau dengan pemuda good looking yang hafal Al Qur'an dan paham bahasa Arab.

Dalam kondisi seperti ini, umat tak rela dan protes keras atas tuduhan Menag. Meski sudah berusaha dinetralisir bahwa maksudnya tidak menuduh demikian.

Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin mengklarifikasi bahwa pernyataan Menag soal “good looking” itu hanya ilustrasi. Menurut dia, substansi yang harus ditangkap adalah perlunya kehati-hatian pengelola rumah ibadah, terutama yang ada di lingkungan pemerintah dan BUMN, agar mengetahui betul rekam jejak pandangan keagamaan jamaahnya.

Nah, setiap pernyataan yang ditanggapi protes masyarakat selalu mendapat klarifikasi. Seperti sebuah ralat, tidak ada kesengajaan, atau hal lain dengan maksud meredakan hati umat. Adanya perintah untuk kehati-hatian pun tetap ada nada penuduhan kepada good looking yang suka ke masjid.

Apapun adanya, umat yakin dengan kehendak Allah. Dalam hal ini Allah pasti tidak rela jika hamba yang berupaya menjalankan ketaatan dengan sering aktivitas atau ibadah ke rumahnya (masjid) dituduh radikal. Mana mungkin orang paham Islam berlaku kekerasan dan membawa atau menyebarkan kekerasan? Jika ada, itu berarti tidak paham dengan ajaran Islam yang benar.

Allah itu indah, dan suka keindahan. Ajaran Islam itu indah dan selalu mengajarkan kebenaran. Jika ada orang Islam melakukan kejahatan, bukan Islamnya yang salah. Namun oknum pelaku yang tidak paham ajaran Islam yang benar.

Allah selalu menjaga hamba-hamba yang berupaya menjalankan ketaatan. Good looking pencerminan Islam itu dilindungi Allah. Jika ada yang membuat makar, maka Allah akan membalas dengan makar yang lebih kuat.

Hingga lain hari terjadilah kejadian yang sungguh memalukan. Ada Ustadz sedang mengimami sholat, dibunuh. Astaghfirullah, betapa rendahnya akhlak pelaku tersebut. Ustadz memimpin sholat dibunuh hingga terluka parah dan akhirnya nyawa tak bisa diselamatkan. Misi apa yang ada dibalik otak kejahatan tersebut?

Kemudian ada lagi ulama kharismatik berasal dari Madinah, Syeikh Ali Jaber ingin mengabdikan dirinya dengan berdakwah di Indonesia. Beliau sedang menyimak hafalan Qur'an seorang hafidz. Kemudian ada pemuda tiba-tiba naik panggung dan menusuk dada sang ulama. Namun Allah masih menyelamatkan beliau, hingga bisa menangkis pisau pelaku. Kemudian pisau menusuk lengan kanan sang ulama.

Dari kejadian-kejadian tersebut, yang pasti pelakunya bukan pemuda good looking yang hafidz Qur'an. Dalam hal ini Allah membuat skenario yang teramat indah. Allah hendak membuktikan bahwa pelaku kejahatan, kekerasan, yang menjadi bibit radikalisme itu bukan yang good looking paham bahasa Arab dan hafidz.

MasyaAllah, yakin akan pertolongan Allah. Maka Allah selalu memiliki skenario terbaik untuk menjawab tuduhan-tuduhan yang menyakitkan umat Islam.

Allah pasti melindungi agamaNya, Allah juga yang akan melindungi dan menjaga para pejuangNya. Seharusnya tugas pemimpin negara yang memiliki amanah untuk menjaga keamanan para ulama, juga seluruh umat pada umumnya.

Namun, sekarang pemimpin adil pelindung umat itu tidak ada. Maka kewajiban kita semua untuk berjuang mengembalikan sang junnah tersebut, hingga bisa menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam seluruh aktivitas kehidupan. Wallahu a'lam bish shawwab.[]

Oleh: Lilik Yani

Posting Komentar

0 Komentar