TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sistem Sekuler, Lahan Subur Manusia Silver



Keberadaan manusia silver kian marak. Bak jamur di musim penghujan, manusia silver amat mudah ditemukan di persimpangan lampu merah  kota-kota besar tanah air.

Belakangan, kemunculan manusia-manusia yang melumuri hampir seluruh tubuhnya dengan cat sablon warna perak itu meresahkan masyarakat. Pasalnya, mereka meminta sumbangan di jalan raya. 

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Jakarta Timur, Budhy Novian menyampaikan, mengemis di sarana umum, baik di lampu merah atau di mana pun menjadi fenomena menganggu ketertiban. Selain itu, dikhawatirkan ada modus kriminal yang mungkin saja dilakukan oleh para manusia silver. Walau demikian, Budhy tidak bisa menjelaskan akar permasalahan munculnya fenomena manusia silver ini. Menurutnya, yang bisa melakukan pengkajian ialah dinas sosial (kompas.com, 9/9/2020).

Menyikapi menjamurnya manusia silver, pemerintah berupaya mengambil tindakan tegas. Razia dan penertiban telah dilakukan di berbagai kota. Di Jakarta, misalnya, ratusan Satpol PP dikerahkan untuk menindak di beberapa titik. Penertiban ini sesuai dengan Perda  Provinsi DKI Jakarta nomor 8 tahun 2007 tentang ketertiban umum. 

Penertiban juga dilakukan di Medan, Palembang, Tangerang Selatan, Banyumas, dan beberapa kota lainnya. Pemerintah Kota Palembang bahkan mengenakan ancaman sanksi penjara 3 bulan hingga denda mencapai 50 juta rupiah kepada manusia silver maupun yang memberikan uang kepada mereka. Hal ini berdasarkan Perda No 12 Tahun 2013 yang memuat larangan pemberian uang kepada pengemis (kompas.tv, 7/09/2020). 

Menelusuri Akar Masalah

Memang benar, manusia silver yang menjamur ini menambah masalah baru bagi negeri ini. Sedikit banyak mereka mengganggu kenyamanan pengguna jalan raya. Tak sedikit juga yang risih, mengkhawatirkan keselamatannya bila tidak memberi uang pada mereka. Terlebih bila manusia silver itu berkelompok, maka si pemberi pun harus menyediakan uang dalam jumlah yang lebih. 

Keberadaan manusia silver di jalanan pun membahayakan diri mereka sendiri. Ditambah lagi di tengah pandemi yang meninggi ini, mereka sama sekali tidak mengenakan alat pelindung diri, tanpa masker, kerap bercelana pendek dan bertelanjang dada. Bukan tidak mungkin mereka dapat terinfeksi covid-19 ini. Mirisnya lagi, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak. 

Masalah ini kian pelik lantaran jadi fenomena di banyak kota. Karenanya, hal ini tidak bisa dianggap biasa. Pengkajian akar masalah pun seyogianya bukan berhenti di Dinas Sosial semata. Tindak lanjut dan penyelesaiannya juga tidak semata-mata diserahkan pada masing-masing pemda. Masalah ini menjadi masalah bersama, membutuhkan sinergitas semua pihak. Perlu langkah cepat dan akurat dari pemerintah pusat. 

Pasalnya, jika ditelusuri lebih dalam, fenomena manusia silver ini merupakan masalah sistemis. Kendati awal mula kemunculannya dianggap sebagai sebuah kreativitas seni dan bermotif amal (menggalang dana) semata, tetapi  manusia silver yang menjamur hari ini lebih dipicu karena masalah ekonomi. 

Beban hidup masyarakat kian meningkat. Masa pandemi menambah sulit situasi ekonomi.  Negeri ini bahkan masuk jurang resesi, gelombang PHK meninggi, lapangan kerja makin sempit. Kondisi ini memicu rakyat harus berjuang lebih keras untuk bertahan hidup. 

Sementara itu, paham sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan)  telah merasuk dan mengakar di benak masyarakat. Dengan paham ini, manusia cenderung mengabaikan aturan agama dalam berbuat. Alhasil, acapkali dijumpai seseorang berbuat tanpa mempertimbangkan lagi halal-haram ataupun tercela-terpuji. Pun, menghalalkan segala cara demi meraih kepentingan, terlebih lagi demi bertahan hidup. 

Karenanya, wajar manusia silver menjamur. Kreativitas meminta-minta ini dianggap bagian dari kebebasan berekspresi, sebagai cara cepat dan mudah untuk memperoleh penghasilan. 

Tanpa peduli lagi hal itu membahayakan keselamatan dan kesehatan. Juga tanpa memandang bahwa hal itu bukan perbuatan terpuji. 

Di sisi lain, sekularisme pun diadopsi mentah-mentah oleh negara sebagai landasan dalam mengurusi seluruh urusan rakyat. Penguasa mengabaikan agama dalam urusan politik dan pemerintahan. 

Akibatnya, roda pemerintahan pun cenderung semrawut, korup, saling berebut kepentingan hingga abai pada rakyat. Negara yang sekuler menerapkan sistem ekonomi kapitalis nan ribawi. Padahal, telah terbukti sistem ini rentan krisis, resesi, bahkan depresi, baik global maupun nasional. Krisis ekonomi ini secara pasti berdampak pada kehidupan rakyat jadi kian sulit. 

Di samping itu, kapitalisme meniscayakan pemilik modal (kapitalis) dapat menguasai kekayaan tanpa batas, sekalipun itu SDA yang seharusnya milik rakyat. Prinsip kebebasan kepemilikan yang berpadu dengan politik kepentingan menyebabkan negara hanya bertindak sebagai regulator bahkan fasilitator bagi pengusaha. 

Akibatnya, SDA dikuasai swasta, bahkan asing hingga negara tak punya lagi dana untuk memakmurkan rakyat. Lagi-lagi, rakyat harus berjuang secara mandiri. 
Dengan demikian, sistem sekulerlah akar permasalahannya. Kesulitan ekonomi yang menjadi penyebab menjamurnya manusia silver adalah buah dari penerapan sistem sekuler- kapitalis. Sistem yang mengabaikan aturan agama dalam mengurusi urusan kehidupan dan berpihak pada pemilik modal. 

Entaskan Manusia Silver dengan Sistem Super

Permasalahan sistemis tidak bisa terselesaikan secara parsial. Karenanya, untuk mengatasi masalah manusia silver tidak cukup dengan rutinitas razia dan penerapan sanksi semata. Pendataan, penampungan, dan pembinaan di Dinas Sosial pun bukan solusi total. 

Karena itu, masyarakat dan negara harus membuang jauh-jauh paham sekularisme. Agama tidak boleh dipisahkan dari kehidupan sebab Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Syariat Islam sebagai aturan yang diturunkan Allah berisi aturan yang menyeluruh dan terperinci harus diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. 

Dalam mengatur masalah ekonomi, Islam mengharamkan praktik ribawi. Dengan konsep ini sistem ekonomi Islam terbukti stabil dan antikrisis. Islam juga mengatur masalah kepemilikan harta ke dalam tiga ketegori (individu, umum dan negara). SDA yang melimpah merupakan bagian dari kepemilikan umum, tidak boleh dimiliki individu, swasta maupun asing. Ia milik umat yang harus dikelola oleh negara dan hasilnya untuk kepentingan umat. 

Aturan dalam kepemilikan ini menutup peluang kapitalisasi atas harta umat. Tidak ada perampokan SDA oleh swasta ataupun asing. Negara akan memiliki cukup dana untuk menyejahterakan rakyat. Kebutuhan pokok rakyat berupa pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan dijamin pemenuhannya oleh negara. Bila rakyat telah terpenuhi kebutuhannya, kecil peluang baginya meminta-minta.

Di samping itu, sistem pendidikan Islam  membentuk manusia mulia yang berkepribadian Islam. Tsaqofah Islam menancap kuat dalam pemikiran dan diimplementasikan  dalam perbuatan. Akidah Islam menuntun agar manusia berbuat berdasarkan hukum syariat, memandang  baik-buruk sesuatu, terpuji-tercela dari sudut pandang syariat. Dengan pemahaman itu seorang mukmin akan mencegah dirinya dari meminta-minta.  Rasulullah saw bersabda, 
“Tidaklah seorang hamba membuka pintu untuk meminta-minta melainkan Allah membukakan baginya pintu kefakiran.” (HR. Ahmad) 

Di samping itu, negara berkewajiban menjamin terpenuhinya lapangan kerja. Sebab dalam sistem pemerintahan Islam, kepala negara adalah penanggung jawab. "Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)
Wallahua’lam bishshowwab.[]

Oleh: Saptaningtyas

Posting Komentar

0 Komentar