TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sex Consent dan Kekerasan Seksual



Ulama KH Didin Hafiduddin menyoroti kabar Universitas Indonesia (UI) memberi materi sex consent pada mahasiswa baru. Kiai Didin berharap UI tak benar-benar mengajarkan materi semacam itu.

Sebelumnya, politikus PKS Almuzzamil Yusuf mengunggah video di akun Youtube guna menuntut klarifikasi atas materi sex consent yang diajarkan dalam E-class: Cegah Tindak Kekerasan Seksual oleh Pusat Kajian Gender UI. Materi itu yang dicantumkan Almuzzamil mengajarkan aktivitas seksual boleh dilakukan asal ada kesepakatan bersama alias suka sama suka. (Republika, 14/9/2020)

Istilah Sexual consent atau sex consent  mungkin masih terdengar asing ditelinga. Dalam benak kita yang terpikirkan adalah pendidikan seks. Namun hal ini ternyata lebih kepada aktivitas persetujuan untuk melakukan kegiatan seksual.  Disini segala bentuk aktivitas seks membutuhkan persetujuan antara kedua belah pihak, termasuk pada pasangan halal sekalipun.

Dalam sex consent, persetujuan seksual ditujukan untuk melindungi perempuan maupun laki-laki dari kekerasan seksual yang saling merugikan. Jika tidak ada  kata sepakat, maka kegiatan seksual dalam bentuk apa pun tergolong ke dalam kekerasan seksual.

Bisa dibayangkan untuk apa materi sex consent tersebut diberikan dan arahnya kemana? Jika materi  ini terus dilanjutkan pastinya  akan merubah pemahaman bagi mahasiswa untuk melakukan hubungan seksual (suka sama suka dan dilakukan tanpa paksaan)  disebut juga fornikasi sah-sah saja dilakukan. 

Apalagi,  berdasarkan hukum di Indonesia,   fornikasi tidak dianggap sebagai zina, kecuali terjadi pemerkosaan atau penggaran kehormatan. Maka  ini tidak perlu dikenakan hukuman. Sebagaimana dijelaskan dalam KUHP dalam bab XIV kejahatan terhadap kesusilaan. Pasal 284-289 KUHP tersebut  berisi;

 Ada izin (consent) dari wanita yang disetubuhi, wanita tersebut tidak sedang terikat perkawinan dengan laki-laki lain, wanita tersebut telah cukup umur secara hukum dan wanita tersebut dalam keadaan sehat akalnya, tidak pingsan dan mampu membuat keputusan.

Sedangkan  pada RUKUHP pasal 480 ayat (1) menjelaskan setip orang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang bersetubuh dengan pidana 12 tahun penjara.

Di ayat (2) pasal tersebut, pemaksaan dalam hubungan suami istri maupun sebalikna, juga dikategorikan tindak perkosaan.

Jelas disini bahwa hukum Indonesia yang masih mengadopsi hukum kolonial, sangat sekuler juga bertentangan dengan ajaran Islam.  Menghalalkan perzinaan dan memandang sama perlakuan hukum terhadap pasangan yang belum dan yang sudah menikah.

Upaya preventif Kekerasan Seksual dalam pandangan Islam

Upaya preventif kekerasan seksual dalam  pendekatan Islam adalah dengan memberikan pengajaran, penyadaran dan penerangan tentang masalah-masalah seksual kepada anak.  Sejak Anak mengerti tentang perkara-perkara yang berkenaan dengan naluri seksual dan perkawinan. Sehingga setelah anak tumbuh menjadi pemuda sudah dapat memahami perkara-perkara kehidupan, seperti mengetahui apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkan. 

Sebagaimana mana dijelaskan dalam QS. Al-Israa: 32 bahwa seseorang dilarang untuk mendekati zina seperti khalwat (berdua-duaan)  laki-laki maupun perempuan sebelum menikah. Kemudian menjaga pandangan nya seperti dalam surat QS. An-Nur : 30 serta menganjurkan untuk mensegarakan menikah bagi yang mampu.

Kemudian dalam perkawinan Islam juga mengatur bagaimana kewajiban istri  dalam melayani suami. Dari Thalqu bin Ali, Nabi Muhammad SAW bersabda.

Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur. (HR. Tirmidzi: 4/387; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 2/199).

Dari hadis tersebut dapat kita ketahui bahwa suami harus dilayani dan di patuhi kapan pun itu.  Dalam hadis yang lain juga  disebutkan bahwa:

Jika suami memanggil istrinya untuk tidur bersama , lalu istri menolak sehingga semalam itu suami menjadi jengkel (marah) pada istrinya, maka para malaikat mengutuk pada istri itu hingga pagi hari, (HR Bukhari).

Jadi menurut Islam menolak ajakan suami akan menjadikan dosa yang besar bagi istri begitu juga salat mereka tidak akan diterima, karena melayani suami adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. Islam juga memberi pengecualian terhadap hal tersebut.

Islam juga mentolerir istri  boleh menolak ajakan suami untuk berhubungan dengan ketentuan istri sedang Haid, istri sedang hamil, istri sedang lelah, dan sedang sakit.  Jadi, sex consent mustilah dipahami dari sudut pandang Islam. Sebab Islam punya rambu-rambu yang jelas dan tepat sesuai syariat. 

Apalagi kekerasan seksual tidak akan terjadi jika adanya pemahaman setiap orang terhadap aqidah Islam. Selain itu adanya pengaturan pergaulan secara Islam yang diterapkan secara kaffah dalam intitusi negara. Serta didukung  dengan sistem pendidikan yang berlandaskan Islam lepas dari sekularisme. Wallahu'alam.[]

Oleh: Zenia Rumaisya
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

Posting Komentar

0 Komentar