TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sertifikat Penceramah, Bikin Umat Resah




Kementerian Agama telah resmi meluncurkan program penceramah bersertifikat. Acara ini digelar di Jakarta pada Jumat (18/9). Program ini  diresmikan oleh Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi mewakili  Menteri Agama Fachrul Razi (www.republika.co.id, 18/9).

Sebelumnya Kamaruddin Amin selaku Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag  menyebut program Penceramah Bersertifikat ini merupakan arahan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Untuk tahun ini, target peserta program adalah 8.200 penceramah. Terdiri dari 8.000 penceramah di 34 provinsi dan 200 penceramah di pusat (www.republika.co.id, 7/9).

Kamarudin juga menjelaskan bahwa yang tak bersertifikat juga tetap boleh berceramah, bukan berarti yang boleh berceramah hanya yang bersertifikat saja. Sedangkan untuk pembiayaan penceramah bersertifikat tidak dianggarkan di kemenag. Karena penceramah bersertifikat ini bukan sertifikasi profesi. Artinya mereka tidak mendapatkan bayaran apa-apa dari kemenag.

Menuai banyak Penolakan

Meskipun program ini menuai banyak penolakan dari berbagai kalangan, namun kemenag tetap melanjutkan program ini.

Dikutip dari www.republika.co.id,7/9/2020, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menolak rencana kebijakan ini. Menurutnya, kebijakan itu cenderung mendiskreditkan Islam. Anwar melihat selama ini sikap dan cara pandang Menteri Agama yang selalu bicara tentang radikalisme yang ujung-ujungnya mendiskreditkan dan menyudutkan umat Islam.

Bahkan menurut Anwar, apabila MUI mendukung program ini maka dirinya akan mengundurkan diri tanpa kompromi.

Wakil ketua Umum MUI, KH Muhyiddin Junaidi juga menyampaikan penolakannya. Muhyiddin khawatir program penceramah bersertifikat Kemenag akan disalahgunakan. MUI memandang dakwah tanggung jawab masing-masing muslim dan muslimah. Maka, sertifikat penceramah  tidak dibutuhkan.

Selanjutnya Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad menyatakan sertifikasi hanya cocok diberlakukan untuk para penceramah, penyuluh agama, atau tokoh agama berstatus PNS karena mereka dibayar negara. Sedangkan bagi Non ASN tidak perlu bersertifikat.

Sedangkan Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif menilai program lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Selama ini penceramah di Indonesia dalam kondisi baik-baik saja. Kondisi tidak baik terjadi sejak rezim sekarang berkuasa. Ulama kita mulai dipecah belah dan dikotak-kotakan. Politik belah bambu terhadap ulama diterapkan.

Slamet menyarankan agar Kemenag merangkul dan mengayomi setiap ulama, serta tak terlalu menaruh kecurigaan tinggi terhadap mereka yang berbeda pandangan dengan negara (www.tirto.co.id, 8/9/2020).

Dakwah itu Wajib, tak butuh Sertifikat

Islam tersebar seluruh penjuru dunia lewat dakwah rasululah Saw. Awalnya rasul hanya berdakwah pada keluarga dan sahabat beliau saja. Setelah mendapat perintah dari Allah untuk dakwah terang-terangan, maka rasulullah dan para sahabat yang telah memeluk agama islam mulai berdakwah dikota Makkah.

Disinilah rasul mendapat banyak halangan dan rintangan, bahkan beliau juga pernah mau dihabisi nyawanya. Tapi apakah rasul dan para sahabat menghentikan dakwah? Tentu tidak, rasul berhasil melewati semua hambatan dakwah itu. Hingga Allah beri pertolongan, berupa tempat lain yang lebih memuliakan dakwah rasul. Inilah Madinah, akhirnya rasul dan para sahabat hijrah ke Madinah.

Andaikah dakwah itu bukan perintah Allah, mana mungkin rasul kita mau melakukannya. Dengan segala tantangannya, mulai dari harta, keluarga bahkan nyawa. Maka dari itu, amat egois kita jika saat ini banyak kalangan yang justru menghalangi jalan dakwah ini.

Dakwah adalah mengajak manusia ke jalan Allah SWT. Di dalamnya termasuk seruan amar makruf nahi mungkar. Dengan dakwah manusia bisa keluar dari kegelapan jahiliah menuju cahaya terang Islam.

Dakwah hukumnya wajib. Setiap pribadi muslim yang telah balig dan berakal, baik laki-laki maupun wanita, diperintahkan untuk berdakwah. Allah SWT berfirman,

فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ

“Karena itu berdakwahlah dan beristikamahlah sebagaimana diperintahkan kepada kamu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (TQS asy-Syura [42]: 15).

Allah SWT pun berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (TQS an-Nahl [16]: 125).

Rasulullah Saw. pun bersabda,
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR al-Bukhari).

Oleh karena itu tugas dan kewajiban dakwah berlaku umum atas setiap Muslim tanpa memandang profesi, status sosial, maupun tingkat ilmunya. Dakwah bukan sekadar tugas dan kewajiban pihak-pihak yang mendapatkan label “ulama”, “ustaz” atau nantinya dai yang bersertifikat dari penguasa.

Karena itu, pengemban dakwah tak perlu sertifikat dari penguasa. Apalagi jika program dai “bersertifikat” tersebut malah mengaburkan esensi dakwah Islam dan menghalangi amar makruf nahi mungkar (termasuk kepada penguasa).

Setiap Muslim pada hakikatnya adalah penyambung tugas Rasulullah Muhammad Saw. dalam menyampaikan risalah dakwah.  Risalah dakwah yang diemban Rasulullah Saw. adalah ciri kemuliaan beliau. Oleh karena itu setiap Muslim yang meneruskan aktivitas mengemban risalah dakwah juga akan memiliki kedudukan yang mulia.

Allah SWT dan Rasul-Nya banyak memberikan dorongan dan pujian yang ditujukan kepada para pengemban dakwah dan penyampai hidayah-Nya.

Allah SWT, misalnya, berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal salih dan berkata, ‘Sungguh aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?'”  (TQS al-Fushilat [41]: 33).

Imam Hasan al-Bashri memberikan penjelasan terkait ayat di atas, bahwa mereka yang menyeru manusia ke jalan Allah adalah kekasih Allah, wali Allah dan pilihan Allah.
Mereka adalah penduduk bumi yang paling dicintai Allah karena dakwah yang mereka serukan. Inilah kemuliaan yang akan diberikan kepada setiap Muslim yang berdakwah.

Rasulullah Saw. pun bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقَصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

“Siapa saja yang menyeru manusia pada hidayah Allah, ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh oleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.” (HR Muslim). 
Wallahu 'alam bisshowab.[]


Oleh: Yudia Falentina 
(Pemerhati Lingkungan dan Masyarakat)

Posting Komentar

0 Komentar