TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sejarah Tetap Menjadi Sejarah

Setelah kegaduhan terjadi akibat wacana penghapusan pelajaran sejarah dari kurikulum. Setelah  ramainya kritik terhadap kebijakan Kemendikbud, hingga muncul petisi penolakan rencana revisi kurikulum yang beredar ditandatangani lebih dari 9 ribu orang. Entah Mas Menteri luluh hatinya atau keder menghadapi kritikan,  kini Mendikbud mengklarifikasi tidak ada rencana perombakan kurikulum seperti wacana yang beredar. Minimal hingga akhir tahun 2021 kurikulum tidak akan berubah. Disinyalir isu pemangkasan mata pelajaran sejarah tersebut adalah usulan pembahasan yang bocor keluar dari internal Kemendikbud.

"Penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan sampai tahun 2022. Pada 2021, kami akan melakukan berbagai macam prototyping di Sekolah Penggerak yang terpilih dan bukan dalam skala nasional," ujar Nadiem di Jakarta, Minggu (20/9/2020) Kompas.com. Nadiem menambahkan "Jadi, sekali lagi tidak ada kebijakan apapun yang akan keluar di 2021 dalam skala kurikulum nasional. Apalagi, penghapusan mata pelajaran sejarah," sambungnya. Lebih lanjut, Mas menteri menambahkan bahwa semua perubahan itu akan ada dikaji dan apa pun respons masyarakat dipertimbangkan. Jadi bukan tidak mungkin kelak wacana ini benar-benar akan menjadi kenyataan.

Dari pernyataan Nadiem tersebut, kita bisa pahami bahwa; pertama, sudah menjadi permakluman di negeri ini terkait kebijakan pemerintah dan jajarannya. Pagi melandingkan wacana kebijakan baru, siang mendapat banyak kritikan dari masyarakat, sore mengkalrifikasi kebijakan atau merubah kebijakan. Sebenarnya sifat seperti ini ada sisi positifnya bagi masyarakat, bahwa pemerintah masih mendengarkan rakyatnya. Namun di sisi lain masyarakat juga jengkel dengan ulah pembuat kebijakan seperti ini, seolah pemerintah tidak memikirkan matang dan tidak berembug dengan pakar dibidangnya sebelum mengeluarkan kebijakan. Asal jeplak saja, jika menuai banyak yang protes, akhirnya kebijakan direvisi.

Kedua, saat wacana yang digulirkan banyak yang merespon, kemudian respon tersebut mendapat tanggapan, maka ini menjadi peluang kita bersama. Kita punya celah memperbaiki kebijakan dengan aspirasi kita. Jangan puas hanya dengan menjadi penonton kebijakan, karena cepat atau lambat, segala kebjakan yang dikeluarkan pemerintah akan berdampak pada kita juga. Kebijakan menghilangkan pelajaran sejarah pasti akan berdampak pada generasi mendatang, anak cucu kita. Bayangkan jika mereka tak memiliki gambaran jelas tentang begaimana negeri ini terbentuk. Siapa pahlawan dan siapa penghianat bangsa tak lagi dihiraukan. Jati diri bangsa akan mudah luntur, generasi Z akan mengekor pada sosok idola dari luar, yang notabene memiliki budaya berbeda dengan adat ketimuran.

Ketiga, meskipun hanya sebatas usulan, namun ide penghapusan pelajaran sejarah perlu di waspadai. Sebab dalam lingkaran Kemendikbud telah ada pihak-pihak yang menginginkan penghapusan sejarah. Apa yang salah dengan pelajaran sejarah kita sehingga mereka mau menghapuskannya, atau siapa mereka yang tak suka dengan konten pelajaran sejarah terutama di kelas 10. 

Keempat, jika dilihat dari meteri ajar pelajaran sejarah kelas 10 kurikulum 2013 revisi 2017, penulis melihat ada benang merah dengan viralnya film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN), yang membahas tentang hubungan antara Nusantara dengan Kekhilafahan Turki Utsmani. Sebab hampir 30 persen pembahasan adalah sejarah masuknya Islam ke beberapa kerajaan di Nusantara. Meskipun porsinya sedikit dan belum tentu lengkap, namun hal ini sudah bisa membentuk pondasi berpikir bagi siswa bahwa masuknya Islam ke Nusantara bahkan hingga ke Papua bukan murni akibat perdagangan semata. Sebab diketahui dari beberapa peninggalan yang ditemukan, masuknya Islam ke Nusantara adalah melalui utusan. 

Dari sini kita bisa lihat, ada upaya pengkaburan dan penguburan sejarah keislaman di Nusantara. Meskipun pelajaran di kelas 10 ini sudah diajarkan dari dulu, namun kita belum sampai paham betul tentang sejarah tersebut. Ibarat puzzle, ada kepingan-kepingan yang hilang dari sejarah Islam di Nusantara, sehingga tidak tergambar jelas bagaimana Islam bisa masuk ke Nusantara. Beruntung kita saat ini bisa melihat fakta bagaimana hubungan Islam di Nusantara dengan Khilafah Islamiyah di Turki dengan hanya melihat film dokumenter. Sayang Film tersebut kurang mendapat apresiasi dari pemerintah, bahkan cekalan yang didapatkan. Mungkin pihak yang tidak suka dengan sejarah (Islam) bangsa ini adalah orang yang sama dengan pencekal film JKdN. Wallahu ‘alam bishawab.[]

Oleh: Isna Yuli
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar