TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Seberapa Penting Pengubahan Definisi Kematian Akibat Covid-19?



Hingga Selasa, 29 September 2020 kasus Covid-19 di Indonesia telah mencapai 283.000 kasus dengan jumlah kematian mencapai 10.601 jiwa. Angka ini semakin meningkat dari hari ke hari, bahkan persentasi kematian di Indonesia akibat Covid-19 lebih tinggi dari Filipina dan India. India memiliki 96.351 kasus kematian, dari total kasus yang telah dikonfirmasi sebanyak 6,1 juta. Tingkat kematian di India sekitar 1,58 persen. Sementara, Filipina mencatatkan 309.303 kasus Covid-19, dengan 5.448 kasus kematian. Dengan demikian, tingkat kematian di negara ini adalah sekitar 1,76 persen. Sementara, Indonesia memiliki tingkat kematian sebesar 3,7 persen (www.kompas.com, 29/09/2020). 

Di satu sisi, Pemerintah justru berupaya mengubah definisi angka kematian akibat Covid-19 menjadi hanya akibat virus Corona dan mencoret akibat penyakit penyerta (Kemenkes.go.id, 17/09/2020). Telah diketahui bahwa provinsi Jawa Timur merupakan wilayah dengan jumlah kasus covid-19 tertinggi diantara provinsi lainnya di Indonesia. Sehingga Menteri Kesehatan (Menkes) RI berdasarkan Instruksi Presiden RI untuk berkolaborasi dan membantu dalam penurunan angka penularan, penurunan angka kematian dan meningkatkan angka kesembuhan di wilayah Jawa Timur dalam waktu 2 minggu ke depan. 

''Kita harus berusaha dalam 2 minggu kedepan terjadi penurunan angka penularan, peningkatan angka kesembuhan, penurunan angka kematian di 9 Provinsi termasuk wilayah Jawa Timur'' Ungkap dr. H. M Subuh selaku Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Kesehatan Kementerian Kesehatan. Ketiga poin tersebut dapat ditekan terkhusus pada penurunan angka kematian, ''Penurunan angka kematian harus kita intervensi dengan membuat definisi oprasional dengan benar, meninggal karena Covid-19 atau karena adanya penyakit penyerta sesuai dengan panduan dari WHO, dan juga dukungan BPJS Kesehatan dalam pengajuan klaim biaya kematian pasien disertai Covid-19'' lanjut M. Subuh.

Apalagi Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa angka kesembuhan dari covid-19 terus menunjukkan peningkatan yang sangat drastis. Presiden juga membeberkan data yang menunjukan angka positivity rate Indonesia pada 31 Agustus, yang sebelumnya berada di atas, kemudian melandai.  (gridhealth.id, 02/09/2020). 

Kesalahan dalam penanganan pandemi covid-19 akan berimbas ke berbagai lini kehidupan, bukan hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan perekonomian, bahkan berimbas pada struktur sosial, pendidikan, dan yang paling mengerikan hilangnya nyawa manusia. Rasulullah saw bersabda, 

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. An-Nasa’i). Dalam riwayat dari Ibnu Abbas r.a ia berkata, “Ketika Rasulullah SAW memandang Ka’bah, beliau bersabda, ‘Selamat datang wahai Ka’bah, betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi orang mukmin lebih agung di sisi Allah daripadamu’.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul iman, no. 4014: shahih)

Indonesia memang bukan negeri Islam, namun ia merupakan negeri dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Kesadaran akan salah penanganan akibat kapitalisme yang mewabahi negeri ini, membuat masyarakat semakin berfikir atas keseriusan pemerintah dalam menangani pandemi ini apalagi data kematian akibat covid-19 kian menanjak naik di atas 10.000 kasus kematian. 

Angka kematian yang tidak sedikit ini seharusnya membuat pemerintah bekerja lebih serius dan bersungguh-sungguh dalam mengeluarkan kebijakan yang benar-benar berorientasi pada keselamatan jiwa masyarakat. Bukan hanya dari kemampuan pemerintah dalam mengotak-atik data yang terkesan ingin memperbaiki citra diri. Karena kenyataannya, penanganan covid-19 dengan cara yang sering berubah-ubah tetap tidak mampu menekan angka kematian.[]

Oleh : Novida Sari

Posting Komentar

1 Komentar

  1. harusnya mereka mengurusi agar wabah ini berhenti. bukan bermain di statistik data

    BalasHapus