TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Rizal Ramli: Demokrasi Kriminal Merusak Indonesia

Ekonom Rizal Ramli usai mengajukan uji materi presidential threshold di MK. Sumber foto: suara.com/Bagaskara.


TintaSiyasi.com-- Indonesia rusak disebabkan oleh demokrasi kriminal. "Demokrasi kriminal inilah yang merusak Indonesia. Karena yang memilih sebelumnya itu cukong-cukong. Kemudian cukongnya membantu biaya survei. Cukongnya membantu buzzer, influencer, dan media," kata Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri Rizal Ramli saat mendaftarkan uji materi ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) ke Mahkamah Konstitusi, Jakarta, 4 September 2020 dari detik.com.

Menurut Rizal Ramli, begitu seseorang terpilih sebagai pejabat (bupati, gubernur, presiden), dia lupa cita-cita buat membela rakyat. Dia lupa cita-cita untuk berjuang buat kepentingan nasional. Mereka malah mengabdi kepada cukong-cukongnya. 

Rizal juga bercerita pernah ditawari menjadi presiden pada tahun 2009. Namun harus menyediakan dana sebesar 900 miliar. "Saya 2009 pernah ditawarin. Mas Rizal dari kriteria apa pun lebih unggul dibandingkan yang lain. Kita partai mau dukung, tapi kita partai butuh uang untuk macam-macam," jelasnya.

"Satu partai mintanya Rp 300 miliar. Tiga partai itu Rp 900 miliar. Nyaris satu triliun. Itu 2009, 2020 lebih tinggi lagi," lanjutnya.

Dia menilai demokrasi Indonesia menjadi tidak selektif dan kompetitif karena para pemimpin berkualitas yang bakal maju harus menyokongi partai dalam kontestasi politik.

"Ada yang mau jadi bupati, berarti nyewa partai. Sewanya itu antara 30 sampai 50 miliar. Ada yang mau jadi gubernur harus nyewa partai dari 100 miliar sampai 300 miliar. Presiden tarifnya lebih jauh lagi," pungkasnya.[]

Reporter: Achmad Mu'it

Posting Komentar

0 Komentar