TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Riki Febi Rinaldi: Pelaku Pelanggaran UU ITE dan SARA dari Pendukung Ide Liberal dan Rezim Berkali-kali Dilaporkan Masih Melenggang

Foto: pembacaan pernyataan sikap Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Indonesia


TintaSiyasi.com-- Dianggap kebal hukum, Koordinator Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Indonesia (APMI) Riki Febi Rinaldi menyesalkan sikap aparat kepada pelaku pelanggaran Undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) dan SARA (Suku, Ras, Agama, dan Antar golongan) dari pendukung ide-ide liberal dan pendukung rezim.

“Di sisi lain pelaku pelanggaran Undang-undang ITE dan SARA dari pendukung ide-ide liberal dan pendukung rezim berkali-kali dilaporkan masih saja melanggar melenggang sampai hari ini,” ujarnya saat menyampaikan Pernyataan Sikap APMI setelah menghadiri sidang kasus Ali Baharsyah di depan Pengadilan Tinggi Negeri Jakarta, Kamis (17/9/2020).

Ia memberikan beberapa contoh pelaku pelanggaran Undang-undang ITE dan SARA yang bebas dan belum ditangani kasusnya.

 Pertama ,  Ade Armando dilaporkan oleh Johan Khan karena melakukan dugaan penistaan agama  melalui akun facebook miliknya. Ade menuliskan “Allah kan bukan orang Arab, tentu Allah senang jika ayat-ayat-Nya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, Cina,  Hiphop, atau Blus.” Akan tetapi, tiba-tiba kasus Ade Armando dihentikan padahal sudah menjadi tersangka. 

 Kedua , Denny  Siregar dilaporkan karena diduga kuat menyebarkan berita bohong pada kicauannya di akun Twitternya soal video pengeroyokan suporter Persija berisi kalimat tauhid. Namun, Denny masih saja bebas membuat konten-konten yang diduga provokatif dan menyakiti umat Islam. 

 Ketiga , Permadi Arya (Abu Janda) dilaporkan ke polisi lantaran diduga kuat karena menistakan agama Islam. Abu Janda menyebut bahwa bendera tauhid adalah bendera teroris. “Tapi, lagi-lagi pendukung rezim dan ide-ide liberal ini melenggang begitu saja,” tegasnya. 

 Keempat , Guntur Romli dan Immanuel Ebenezer yang diduga kuat menyakiti ajaran dan umat Islam tak ada kabar sampai meja hijau. 

Menurutnya, serangan pada Islam dan umat Islam diperparah dengan banyaknya sejumlah menteri dan pejabat yang selalu menyasar umat Islam dengan program deradikalisasi. 

Ia pun memberikan contoh kasus terbaru dan terheboh tentang pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi soal modus penyebaran radikalisme oleh Muslim yang good looking dan hafidz Quran.

“Seolah-olah umat Islam-lah yang menjadi masalah terbesar Indonesia. Sedangkan kepada permasalahan negeri yang utama mereka banyak tutup mata, bahkan mengalihkan isu. Sebut saja kasus korupsi Century, BLBI, E-KTP, KPU, Pelindo, Jiwasraya, sampai kasus suap Pemilu belum jelas hingga hari ini,” pungkasnya.[]

Reporter: Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar