TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Rezim Sekuler Melindungi Ulama, Mitos atau Fakta



Ahad lalu, umat Islam kembali tersakiti sebab insiden ulama yang merupakan simbol syiar Islam menjadi korban penyerangan oleh oknum. Syekh Moh Ali Jaber yang tengah menjalankan safari dakwahnya di Bandar Lampung, tepatnya di Masjid Falahuddin, Tamin, Tanjung Karang Pusat, saat ditengah acara beliau ditusuk oleh pria tak dikenal. Pihak kepolisian menyatakan bahwa pelaku tindak kriminal tersebut adalah seorang yang mengalami ganguan jiwa. (13/9/2020)

Kecamanan tidak hanya datang dari masyarakat umum, bahkan berbagai tokoh menyesalkan pengambilan kesimpulan oleh pihak aparat yang cendrung terburu-buru. Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKS, Nasir Djamil, meyakini bahwa pelaku penusukan bukanlah orang tak waras, ia meminta polisi tak mengambil keputusan terlalu cepat dengan menyatakan pelaku mengalami gangguan jiwa (detiknews.com 14/9/2020). 
Hal senada juga diutarakan Damai Hari Lubis, seorang anggota mujahid 212, ia memberikan keterangan: “Harus diusut tentang motif dari si pelaku, sehingga berani menusuk seorang ulama. Kali ini sebaiknya Polri jangan lagi terburu-buru menyimpulkan pelaku gila seperti acap kali publik dengar.” (riaunews.com 13/9/2020).Menkopolhukam, Mahfud MD, tak ketinggalan memberikan pernyataan terkait hal ini, ia memaparkan bahwa semua aparat akan menjamin kebebasan ulama untuk terus berdakwah dengan tetap mengikuti protokol kesehatan (viva.co.icd 13/9/2020).

Na’as, fakta yang ada menyajikan mirisnya suasana di negeri +62 yang padahal mayoritas penduduknya adalah muslim. Tak jarang ajaran-ajaran Islam dikebiri, dijadikan bahan olok-olokan. Ulama dan aktivis dakwah dipersekusi bahkan simbol-simbol Islam juga disangkut pautkan pada hal yang tak sesuai dan bersebrangan dengan Islam. Serangan terhadap ulama dan tokoh Islam sudah sering kali terjadi bahkan ujung ceritanya selalu sama, pelaku di diagnosa mengalami gangguan jiwa.

Pada 23 Juli lalu, seorang Imam Masjid Al Falah Darul Muttaqin di Pekanbaru mendapat luka tusukan di dada bagian kiri dan dilaporkan bahwa pelaku penusukan adalah seorang yang menglami gangguan jiwa (riauaktual.com 14/8/2020).  Kejadian di Jambi bahkan berujung pada hilangnya nyawa seseorang, almarhum AF yang merupakan seorang imam masjid di Kasang Tumpeh  Kab. Muarojambi diserang di rumahnya hingga mendapat luka tusukan di leher dan berujung meninggal dunia, tersangka juga dikabarkan mengidap gangguan jiwa (tribunnews.com 3/4/2019). Juga kasus penyerangan seorang imam pada 2018 lalu, Ustad Tajuddin yang tengah memimpin jama’ah sholat maghrib tiba-tiba diserang dengan kapak hingga kepala bagian belakang beliau terluka, pelaku pun berujung dengan diagnosis mengalami gangguan jiwa (m.kumparan.com 4/3/2018).

Jika kasus yang demikian tidak diusut tuntas, hal ini akan sangat berpotensi kasusnya menjadi mudah tenggelam dan kejahatan serupa rentan sekali berulang dengan pola yang sama. 

Ulama adalah pewaris para Nabi untuk menyebarkan risalah Islam dimuka bumi, derajatnya pun ditinggikan oleh Allah beberapa tingkat diatas manusia lainnya, “Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu diantara kalian beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan (TQS. Al- Mujadilah[58] : 11)”. 

Maka menjadi hal yang wajar ketika umat sakit hati dan marah kala ada ulama yang diperlakukan tidak baik, sebab ulama lah yang akan meneruskan perjuangan para nabi untuk mengajak kepada yang ma’ruf (Islam) dan mencegah dari yang munkar. Barang siapa yang memusuhi ulama juga mendapatkan ancaman dari Allah SWT, sebagaimana dalam sebuah hadist qudsi, “Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku telah mengumumkan perang kepada dirinya” (HR. Bukhori).

Walaupun +62 adalah negeri dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia, namun kaum muslim tampak dibuat tidak merasa ‘aman’, ajaran Islam, ulama dan umat muslim kian di dzalimi termasuk dengan memberikan tuduhan-tuduhan radikalisme yang teramat abstrak pendefinisiannya namun berujung menyudutkan ajaran-ajaran Islam. Negeri ini telah gagal menjamin keamanan warga negaranya.

Segala kezaliman yang terjadi hari ini ialah sebab syariat Islam yang diturunkan oleh Rabb semesta alam tidak diterapkan. Rentetan ketidak-adil-an dan tindak kejahatan menjadi akibat dari penerapan sistem kehidupan yang memisahkan agama dan kehidupan (sekularisme). 

Dalam Islam, sistem persanksian akan mampu menjadi solusi sekaligus penyelamat bagi kehidupan dunia-akhirat. Hukum islam yang tegas akan mampu mencegah terulangnya tindak kejahatan/perbuatan maksiat, dengan begitu dosa pelaku juga telah ditebus didunia dan meniadakan baginya sanksi diakhirat.Hanya sistem Islam yang dapat menjamin keamanan dan keadilan setiap warga negaranya. 

Sudah saatnya kita meninggalkan sistem rusak yang merusak dan kembali melanjutkan kehidupan Islam. Wallahua’lam bissawab.[]


Oleh: Agustin Pratiwi S.Pd, Owner Mustanir Courses

Posting Komentar

0 Komentar