TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Resesi dan Dampak Psikososial


Resesi   atau   kemerosotan   adalah kondisi   ketika   produk   domestik   bruto (GDP) menurun  atau  ketika  pertumbuhan  ekonomi  riil  bernilai  negatif  selama  dua  kuartal  atau lebih  dalam  satu  tahun.  Resesi  dapat  mengakibatkan  penurunan  secara  simultan  pada seluruh  aktivitas  ekonomi  seperti  lapangan  kerja,  investasi,  dan  keuntungan  perusahaan.

Resesi  sering  diasosiasikan  dengan  turunnya  harga-harga  (deflasi),  atau,  kebalikannya, meningkatnya  harga-harga  secara  tajam  (inflasi)  dalam  proses  yang  dikenal  sebagai stagflasi.  Resesi  ekonomi  yang  berlangsung  lama  disebut  depresi  ekonomi.  Penurunan drastis  tingkat  ekonomi  (biasanya  akibat  depresi  parah,  atau  akibat  hiperinflasi)  disebut kebangkrutan  ekonomi  (economy  collapse).  Kolumnis  Sidney  J.  Harris  membedakan istilah-istilah  atas  dengan  cara  ini:  "sebuah  resesi  adalah  ketika  tetanggamu  kehilangan pekerjaan; depresi adalah ketika kamu yang kehilangan pekerjaan.

Beberapa fakta resesi yang dialami oleh negara-negara ASEAN akibat pandemi covid-19 diantaranya adalah : resesi Filipina seperti dilansir Reuters, Kamis (6/8), ekonomi Filipina mengalami kontraksi 16,5 persen pada kuartal kedua dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Berdasarkan catatan Otoritas Statistik Filipina, ini menjadi penurunan terbesar dalam data PDB kuartalan pemerintah sejak 1981. Sebelumnya, pada kuartal pertama, ekonomi Filipina menyusut 0,7 persen.

Resesi juga terjadi di Singapore dengan indicator perekonomian merosot 13,2 persen secara tahunan pada kuartal kedua. Realisasi tersebut lebih buruk jika dibandingkan dengan proyeksi pemerintah, yakni  negatif 12,6 persen, maupun realisasi kuartal pertama yang minus 0,3 persen.

Bahkan Jepang juga tidak bisa terhindar dari resesi sejak kuartal pertama. Mengutip data dari Trading Economics, ekonomi Jepang kontraksi persen pada periode Januari sampai Maret menyusut 0,6 persen, setelah kontraksi 1,9 persen pada kuartal keempat 2019.

Waktu resesi lebih lama dialami Hong Kong. Kontraksi ekonomi telah terjadi empat kuartal berturut-turut, atau sejak kuartal ketiga tahun lalu. Saat itu, ekonomi Hong Kong tumbuh minus 2,8 persen yang diikuti penyusutan 3 persen pada kuartal berikutnya.

Salah satu dampak paling nyata akibat resesi adalah bertambahnya angka pengangguran. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat hingga 31 Juli 2020, jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja ( PHK) maupun dirumahkan mencapai 3,5 juta lebih (Kompas, 2020).

Pengangguran akibat terkena PHK akan mengganggu stabilitas individu maupun rumah tangga. Sebab tak lagi memiliki penghasilan akan berdampak langsung kepada masalah pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan papan.  Jika ketiganya terganggu, maka terganggu pula kejiwaannya.

Perubahan ekosistem ketenagakerjaan oleh David Blustein telah menimbulkan pandemi pengangguran global.  David Blustein, profesor psikologi konseling di Boston College menegaskan kondisi ini sebagai  krisis di dalam krisis.

Para psikolog mengatakan bahwa orang yang kehilangan pekerjaan kerap kali menghasilkan duka yang sama seperti saat kehilangan orang terkasih. Tahapan emosional dalam berduka pun sama, diawali dengan kekagetan dan penyangkalan, lalu rasa marah dan putus asa.

Dalam suasana kehilangan mata pencaharian yang selama ini menopang kehidupan keluarga akan menimbulkan seseorang kehilangan ekspektasi, kesempatan, harapan, atau hubungan, maka mereka akan mengizinkan diri mereka merasakan duka tersebut.

"Pada mulanya, mereka merasa sangat marah," kata kepala peneliti Sarah Damaske, profesor rekanan untuk studi sosiologi, buruh, dan pekerja di Universitas Negeri Pennsylvania. "Secara psikologis, orang akan menyalahkan pandemi ketimbang menyalahkan diri sendiri, kata Cary Cooper, profesor Psikologi Organisasional di University of Manchester.

Penelitian menunjukkan, orang-orang yang terkena dampak finansial, kehilangan rumah dan pekerjaan, pada saat masa Depresi Besar lebih rentan memiliki masalah kesehatan mental, kata Benson. Resesi hebat terjadi di Amerika terjadi dari tahun 2007 hingga 2009, dan dampak kesehatan mental ini bertahan hingga 2013, hingga pemulihan ekonomi. Hal Itu menjadi sinyal bahwa ekses kesehatan mental akan berlangsung lama.

Forbes dan Kruiger 2019 : individu yang terdampak, mereka yang mengalami kesulitan pribadi selama resesi baik secara finansial atau terkait pekerjaan menunjukkan peningkatan gangguan panik, kecemasan, kekhawatiran berlebihan, depresi, dan penggunaan narkoba.

Bahkan, krisis ekonomi global 2008 mengakibatkan bunuh diri yang dilakukan di 54 negara oleh The British Medical Journal (2013). Dari hasil penelitian  ditemukan bahwa terdapat lebih banyak 4.884 kasus bunuh diri pada masa resesi dibandingkan sebelum krisis ekonomi. (Gunnell 2013). Krisis ekonomi 1998 di Indonesia juga telah mengakibatkan depresi sosial yang berujung kepada kerusuhan dan penjarahan.

Untuk menghindari dampak psikologis akibat pandemi atau resesi, maka mesti ada pendekatan psikospiritual. Dalam perspektif spiritual, apa yang dialami oleh manusia yang tidak bisa dikuasai atau dikendalikan, maka itu disebut sebagai ujian. Menghadapai ujian harus tetap bersabar, yakni istiqomah dalam kebenaran meski ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan.

Jika tak terkendali secara emosional, maka krisis ekonomi ini justru bisa menjerumuskan orang kepada kondisi ketidaksabaran. Hal ini bisa berakibat fatal, sebab orang yang tak bersabar bisa terjerumus kepada tindakan-tindakan kontraproduktif, seperti menjarah, mencuri, merampok, bunuh diri maupun lari ke penyalahgunaan narkoba.

Namun kesabaran harus diikuti oleh sikap optimis akan pertolongan Allah dengan tetap maksimal berusaha mencari pekerjaan baru atau bahkan menciptakan pekerjaan. Ketenangan batin akan mempermudah solusi, sebaliknya makin panik, maka akan semakin sulit untuk mendapatkan solusi di tengah tekanan masalah yang menimpa.  

Kreatifitas dan kolaborasi juga merupakan langkah-langkah terukur disaat mendapatkan ujian akibat pandemi atau resesi. Sebab setiap orang pada dasarnya membutuhkan bantuan orang lain, tidak mungkin bisa hidup sendiri. Nah, dengan berkolaborasi akan timbul pemikiran-pemikiran kreatif agar tetap bisa eksis di tengah resesi.

Namun, lebih jauh dari itu, seorang muslim harus yakin bahwa saat ada masalah, maka Allah akan menyediakan solusinya, ibarat penyakit, maka akan ada obatnya. Masa-masa sulit yang dihadapi, mestinya menambah kedekatan kepada Allah untuk senantiasa berdoa, bukan malah makin menjauhiNya.

Demikian pula secara makro, bangsa dan negara ini mestinya makin dekat kepada Allah, bertobat dan kembali kepada Allah. bangsa ini harus sadar bahwa krisis ekonomi atau resesi ini adalah akibat kesalahan penerapan sistem ekonomi, yakni kapitalisme sekuler liberal. Sebab bukan hanya individu, negarapun bisa depresi jika tak mampu menghadapi masalah.

Selain akan terhindar dari stress dan depresi, bertobat kembali kepada jalan Allah akan melahirkan keberkahan dari langit dan bumi atas pertolongan Allah. orang-orang beriman mestinya tetap optimis menghadapi berbagai krisis dengan terus mencari solusi berdasarkan apa yang telah Allah tetapkan. Allah berjanji akan membuka pintu-pintu keberkahan, jika penduduk di suatu negeri beriman dan bertaqwa.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96).[]


Oleh: Dr. Ahmad Sastra, M.M.

Posting Komentar

0 Komentar