TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Rasisme Sistemik Era Sekulerisme

Demonstrasi anti Islam memicu kerusuhan di negara-negara Skandinavia. Diwarnai dengan aksi membakar dan meludahi Al- Qur'an tepatnya di Oslo, Norwegia. Unjuk rasa berlangsung di dekat kantor parlemen yang mana diorganisasi oleh kelompok Stop Islamization of Norway (SIAN). (Dilansir Deutsche Welle, 30/8)

Aksi ini memuncak ketika ada seorang wanita anggota SIAN merobek halaman Al-Qur'an dan meludahinya. Di wilayah lain, seorang politikus rasis Rasmus Paludan yang juga merupakan pemimpin partai keras anti-imigran Denmark melakukan perjalanan berbicara anti-Islam ke Swedia. Meski telah ditangkap akibat terduga pelanggaran hukum dan ancaman masyarakat. Aksi tetap berlangsung dan memicu kerusuhan. (Detik.com)

Kecaman terhadap aksi rasisme terhadap Islam bermunculan. Kementrian Luar Negeri Turki menyampaikan kecaman terhadap Islamophobia di Swedia. Islamophobia bukanlah hal yang baru di pemberitaan Internasional bahkan sudah menjadi bagian umum yang terus terjadi berkelanjutan. Kecaman tanpa aksi nyata membuat rasisme semakin menggejala. Kebencian yang terus berkobar kepada Islam di Negara Barat hingga memicu aksi-aksi ektrem yang sungguh mengoyak hati umat Islam.

Keterdiaman negara-negara muslim atas pelecehan terhadap Al-Qur'an menjadi penanda bahwa mereka telah sakit. Sakit yang teramat sangat parah. Kecaman yang hanya sebuah kata tanpa efek yang bisa merubah keadaan. Bertindak lebih dari itu? Tentu harus dipertimbangkan 3x lipat mengingat hubungan ekonomi ataupun investasi menjadi nadi dalam tubuh negara-negara muslim. Apalagi sekat Nasionalisme menjulang tinggi menjadikan negara muslim tidak dapat berkutik mencampuri negara lain sekalipun yang mereka lecehkan adalah Al-Qur'an. Yaitu detak jantung umat Islam.

Nyatanya, Nasionalisme adalah salah satu cabang dari kapitalisme/sekulerisme yang dijadikan sistem hampir diseluruh dunia. Termasuk negara-negara muslim. Wajar bila akhirnya yang terpikirkan adalah untung dan ruginya dalam mengambil tindakan. Bila itu menguntungkan akan dilakukan begitupun sebaliknya. Jika membela Al-Qur'an merugikan maka hanya dikecam. Setelah waktu berlalu kecamam itu hanya akan menjadi angin lalu. Banyaknya kehinaan yang harus umat Islam telan atas pilihan mereka hidup di dalam sistem kapitalisme.

Berulang kali hal ini terjadi namun Umat Islam memilih mengecam bahkan diam. Pelecehan terhadap marwah Nabi Muhammad ataupun terhadap kitab suci Al-Qur'an semakin meningkat. Seolah dengan diam dan bersabar maka akan membawa kebaikan. Justru penghinaan semakin menjadi-jadi. Mereka yang memilih diam ketika identitas keislamannya dihina sebenarnya telah melakukan sebuah dosa. Yaitu diam ketika melihat kemungkaran. Mereka seperti lupa dengan sindiran Imam asy-Syafii kepada orang yang diam saat agamanya dihina:

مَنِ اسْتُغْضِبَ فَلَمْ يَغْضَبْ فَهُوَ حِمَارٌ

Siapa yang dibuat marah namun tidak marah maka ia adalah keledai (HR al-Baihaqi).

Bahkan seorang Ulama besar yaitu Buya Hamka rahimahulLah pernah juga mempertanyakan orang yang tidak muncul ghirahnya ketika agamanya dihina. Beliau menyamakan orang-orang seperti itu seperti orang yang sudah mati. “Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.” maka jika kaum muslimin diam ketika Al-Qur'an diludahi dan di robek sudah sepantasnya memakai kain kaffan. Maka jika tidak ingin memakainya. Marahlah!

Sungguh ini adalah bukti bahwa sistem sekulerisme dengan liberalisasinya dan 4 pilar kebebasannya membuat kamu muslimin terus berada pada kehinaan. Orang-orang rasis terus tersistemik untuk menghina agama Islam. Kebebasan berpedapat membuat para pendengki ataupun pembenci Islam memiliki panggung untuk merealisasikan kebencian mereka. Bukankah Allah telah berkata dalam Surah Al-Baqarah bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Dan kebencian itu semakin besar didalam hati mereka.

Islam tidak akan dapat dilindungi jika umat Islam masih terus menggunakan sistem kapitalisme yang jelas memberi tempat luas untuk para rasis melecehkan Islam. Karena umat Islam tidak lagi memiliki perisai kuat yang mampu melindungi dari pelecehan. Dan sejarah pernah mencatatnya dimasa-masa Islam berjaya dalam naungan bingkai kekhilafahan. Yaitu pada masa Khilafah Utsmaniyah yang mampu menghentikan rencana pementasan drama karya Voltaire yang akan menista kemuliaan Nabi saw.

Saat itu Sultan Abdul Hamid II langsung mengultimatum Kerajaan Inggris yang bersikukuh tetap akan mengizinkan pementasan drama murahan tersebut. Sultan berkata, bahwa jika mereka tetap menayangkan pementasan khalifah akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul dan akan mengobarkan jihad akbar. Kerajaan Inggris pun ketakutan. Pementasan itu dibatalkan. Sungguh, saat ini umat membutuhkan pelindung yang agung itu. Yaitu khilafah. Wallahu A'lam.[]

Oleh: Lismawati, Mahasiswi dan Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar