Rapuhnya Keamanan dan Keadilan di Nusantara


  
Beberapa waktu yang lalu, masyarakat dikejutkan dengan terbakarnya gedung Kejaksaan Agung di Jakarta. Pengajar Teknik Sipil Konsentrasi Manajemen Proyek Konstruksi Universitas Pelita Harapan (UPH) Manlian Ronald A Simanjuntak mengatakan kebakaran yang terjadi di Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) menunjukkan kegagalan sistem keselamatan yang sangat fatal. 

"Perlu kita mengerti juga bangunan gedung utama merupakan bagian dari kawasan lingkungan Kejaksaan Agung. Dapat dicermati kebakaran yang terjadi merupakan kegagalan sistem keselamatan kawasan merespons bahaya kebakaran," kata Manlian saat dikonfirmasi dalam pesan tertulis, Minggu (23/8). (Jakarta, CNN Indonesia)

Masyarakat pun dibuat tercengang menyaksikan kebakaran hebat yang melahab hampir habis seluruh bangunan gebung tersebut, Gedung yang  terlihat kokoh megah dan angker bagi sebagian orang tersebut terbakar tanpa ada pelawanan. Jika ditilik dari kondisi dan keamanan gedung, maka secara otomatis tidak akan ada yang menyangka bahwa gedung tersebut akan semudah itu terbakar. Gedung yang menyimpan banyak dokumen berharga bahkan nyawa banyak orang tersebut harusnya dijaga dengan keamanan berlapis dengan menggunakan tenaga manusia dan teknologi seperti CCTV yang memudahkan pengawasan seluruh kondisi gedung.

Dilihat dari banyaknya kejanggalan dari kebakaran tersebut membuat banyak pakar angkat bicara mengomentari kebakaran tersebut seperti yang di sampaikan Pengamat Intelijen dan Keamanan UI Stanislaus Riyanta Stanislaus melihat potensi sabotase gedung tersebut pada Sabtu (22/8) malam.

Hal itu diungkapkan mengingat Kejagung tengah memproses berbagai kasus hukum besar di dalam negeri. 

"Opini dan peluang sabotase bisa terlihat dengan banyaknya kasus-kasus besar yang ditangani Kejagung, maka harus segera dilakukan penyidikan dan investigasi, meski mungkin agak sulit karena gedung sudah terbakar," katanya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (23/8).

Pada akhirnya masyarakat beropini bahwa kebakaran yang terjadi disengaja untuk menghilangkan banyak barang bukti dan kasus-kasus besar yang terjadi di negeri ini seperti halnya kasus jiwasraya yang sampai saat ini belum ada titik terang bahkan cenderung menguap tanpa jejak. Tidak hanya itu masih banyak kasus-kasus besar yang lain yang kemungkinan juga akan menghilang seiring dengan ludesnya gedung kejaksaan tersebut. Dengan begitu para koruptor dan kaki tangannya aman dari jeratan hukum yang selama ini mereka hadapi.

Jika benar ini hanya sekedar kecelakaan semata bagaimana mungkin bisa terjadi? Kasus kebakaran ini menunjukan betapa lemahnya keamanan system di negeri ini. Bagaikan bola panas, opini kesengajaan makin santer di tengah-tengah masyarakat. Ditengah makin cerdasnya masyarakat menyaring dan mentelaah informasi yang mereka dapat dari media mainstream.

Hal ini semakin menunjukkan bahwa  tidak ada yang mampu menyaingi keamanan dan keadilan seperti keadilan di dalam sistem Islam, dimana keadilan akan dirasakan oleh semua penduduk tanpa pengecualian. Seperti kisah Khalifah  Ali yang kehilangan baju besi dan ditemukan oleh seorang kafir (dzimmi) dan akan dijual ke pasar. ”Ini baju besiku yang jatuh dari untaku pada malam ini ditempat begini,” kata Ali. ”Tidak, ini baju besiku karena ia ada ditanganku wahai Amirul Mukminin,” jawab kafir(dzimmi) tersebut. 

Dan pada akhirnya kasus dimenangkan oleh kafir (dzimmi) karena ketiadaan saksi. Begitulah pengadilan di dalam Islam tidak membedakan status dari orang tersebut maka semua akan mendapatkan keadilan dan keamanan yang sama. Pemimpin yang amanah akan memutuskan perkara dengan ijin Allah dan akan dicintai oleh rakyatnya.[]

Oleh: Luthfiatul Khasanah

Posting Komentar

0 Komentar