TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ramai-ramai Mementahkan JKDN, Menyembunyikan Kebenaran Sejarah

Pergantian tahun hijriyah 1442 H tahun ini umat Islam melewatinya dengan kegiatan banyak dirumah karena dunia sedang diserang pandemi global corona. Praktis umat Islam Indonesia khususnya menyambut bulan Muharram tidak dengan pawai seperti yang biasa dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan kajian  dakwah maupun tabligh akbar pun banyak dilakukan secara online. Ada satu hal yang menarik dan sangat menarik perhatian banyak kalangan pada 1 Muharram  1442 H tahun ini yaitu peluncuran perdana film dokumenter Jejak Khilafah Di Nusantara atau seringkali disingkat JKDN.

Film dokumenter yang tayang di youtube ini viral di medsos dan menjadi trending topik di twitter. JKDN sendiri sempat diblokir beberapa kali saat pemutarannya. Meski demikian team JKDN tetap berhasil menayangkannya hingga selesai. Pasca penayangannya berbagai respon bermunculan menanggapi film ini baik yang pro maupun kontra. Pihak yang mendukung JKDN mendapatkan gambaran yang jelas keterkaitan antara Nusantara dengan Khilafah hingga semakin yakin bahwa Khilafah dan Nusantara memiliki hubungan yang sangat erat, mengirimkan para Dai utusan khalifah berdakwah di nusantara hingga peran khilafah membantu melawan dan mengusir penjajah dari nusantara.

Dalam JKDN dipaparkan perjalanan sejarah khilafah dari periode Khulafaur rasyidin, Kekhilfahan Bani Abbasiyah, dan Kekhilafahan Turki Usmani. Proyeksi narasinya dibatasi antara tahun 632-1560-an. Dalam bentangan waktu ini, JKDN merajut narasi khalifahnya melalui carik-carik bukti primer sejarah, dari Samudra Pasai, Aceh Darussalam, Wali Songo, Demak dan Ternate. Di film ini data makam dan diplomasi dari Aceh terpapar jelas dan autentik hubungannya dengan dinasti Abbasiyah dan Turki.

Pihak penentang JKDN pun segera memberi sanggahan, komentar negatif yang meragukan dan menuduh narasi JKDN hanyalah propaganda. Sejarawan sekaligus guru besar emeritus Trinity College, Oxford, Peter Carey membantah klaim-klaim film JKDN. Peter Carey bahkan memberikan keterangan persnya untuk meluruskan informasi yang menurut klaimnya tidak memiliki bukti dokumenter kesejarahan yang valid.  

Menurut surat Peter Carey, sejarawan Turki Dr. Ismail Hakkı Kadı yang memiliki perhatian terhadap hubungan sejarah Ottoman di Asia Tenggara yang telah lama meneliti dokumen-dokumen Turki Utsmani di Arsip Utsmani di Istanbul mengungkapkan beberapa pokok pikiran soal hubungan Kesultanan Ustmani dengan Kesultanan di Jawa.
Pertama tidak ada dokumen di Arsip Turki Utsmani yang menunjukkan negara Islam pertama di Jawa yaitu Kesultanan Demak terutama Raden Patah memiliki kontak dengan Turki Ustmani.

Kesultanan yang ada di Pulau Jawa tidak dianggap sebagai vassal atau naungan Turki Utsmani, termasuk juga bukan wakil sultan-sultan Utsmani di Jawa.
Selain itu, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Turki Utsmani dan Kesultanan Yogyakarta yang didirikan 1749, termasuk tidak ada bukti yang menunjukkan panji Tunggul Wulung” merupakan bukti Yogyakarta adalah wakil dari Turki Utsmani di Jawa.

Namun bagaimanakah sejarah mendudukkan persoalan ini? Diwawancara Anadolu Agency sejarawan Turki Dr. Ismail Hakkı Kadı yang ditanya Apakah Kerajaan Utsmani memiliki relasi dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara baik secara politik, ideologi, budaya, militer, dan administratif? Beliau menjawab tentu saja ada. Kita perlu membagi hal itu menjadi dua kategori; hubungan formal dan hubungan informal. Dalam hal ini, hubungan formal adalah relasi berbasis politik dan militer, yakni hubungan yang dibangun pada abad ke-16 melalui surat-menyurat dan bermacam-macam hubungan militer.(https://faktualnews.co)  

Dr. Ismail Hakkı Kadı juga menegaskan perbedaan antara ungkapan “belum menemukan dokumen” dan “relasi itu tidak ada sama sekali”.  Menurutnya justru hal seperti  ini seharusnya meningkatkan minat orang-orang untuk menelitinya, dan penelitian tentang hal ini akan bertambah. Ada potensi penemuan jejak dengan semakin banyak orang yang ikut meneliti, maka semakin banyak hal yang dapat ditemukan.

Seorang Doktor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Kasori Mujahid, mempunyai perspektif yang berbeda, bahkan Doktor yang menulis disertasi tentang relasi Demak dengan Turki Utsmani ini menjelaskan, pada abad yang lebih muda, ada surat yang merekam ucapan selamat Pakubuwono X saat Sultan Abdul Hamid II selamat dari upaya pembunuhan dan kudeta. Dilansir dari Republika.com (21/8/2020).

Dr. Kasori mengungkap surat tersebut ada pada arsip Turki Utsmani. Isinya menjelaskan ucapan selamat Sultan Surakarta Abdurrachman (gelar PB X). Dr. Kasori juga mengungkap bahwa banyak sumber Barat mencatat hubungan para ulama Demak dengan negeri-negeri di Timur Tengah dan Turki Utsmani. Di antara sejarawan yang menulis relasi tersebut adalah Tome Pires, Mendez Pinto, dan H. J. De Graaf.

Sejarah ini penting dipahami sehingga semakin mendorong persatuan dikalangan umat Islam menjadi satu tubuh. Jika hari ini banyak penentangan terhadap film ini bahkan penentang pun mengaku belum melihat secara utuh patutlah kita bertanya-tanya. Jika penentangnya dari kalangan muslim, mengapa ditentang? Apakah tidak suka bersatu menjadi satu tubuh umat Islam?. Jika penentangnya dari kalangan kafir mungkin bisa dimaklumi sebab mereka tidak ingin umat islam bersatu. Apalagi jika penentangnya adalah antek dan agen penjajah, sudah barang tentu mereka membenci Islam dan Khilafah, sebab khilafah akan menghentikan penghianatan dan kejahatan mereka. Upaya penentangan tanpa pembuktian secara valid dan ilmiah dengan penelitian lanjutan adalah sikap gegabah dan terkesan ada tindakan sengaja mengubur  atau mengaburkan sejarah kekhilafahan islam di dunia.

Secara hematnya film JKDN ini memberi tantangan para intelektual dan sejarawan untuk lebih dalam meneliti hubungan Nusantara, Khilafah, Islam dan pengaruhnya. Penggarap film JKDN Nicko Pandawa mengaku pembuatan film ini berangkat dari studi ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Sebagai umat Islam seharusnya dengan munculnya JKDN memberi suntikan semangat tersendiri tentang persatuan umat islam sedunia dan satu kepemimpinan Islam. 

Bahwa persatuan umat Islam di dunia itu bukan hal yang mustahil, meski begitu luas wilayah negara menyeberangi samudera dan lintas benua, berbeda-beda suku bangsa, tidak menghalangi persatuan.  Persatuan umat Islam adalah kewajiban agama, taat kepada pemimpin yang sholih dan amanah yakni khalifah adalah kewajiban agama. Khilafah terbukti melindungi umat islam di seluruh dunia, membantu dan memperjuangkan nasibnya. Islam dan Khilafah terbukti selalu menjadi penetang penjajahan didunia, maka sangat logis jika kita ingin terbebas dari penjajahan kapitalis barat dan timur adalah berjuang mengekakkan kembali Khilafah.[]

Oleh: Ratih Puji Lestari, S.Pd.

Posting Komentar

0 Komentar