TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Radikalisasi Good Looking: Apakah Bapak Sudah Pusing?



Dilansir dari CNN Indonesia , Kamis (3/9) Menteri Agama membeberkan cara masuk kelompok maupun paham radikalisme ke masjid-masjid yang ada di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan di tengah masyarakat. Salah satunya dengan menempatkan orang yang berpaham radikal dengan kemampuan keagamaan dan penampilan yang tampak mumpuni.

"Caranya masuk mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk," kata Fachrul dalam webinar bertajuk 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara', di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9).


/ Anti Radikalisme, Core of The Core Rezim /

Kontroversial. Begitulah sosok bapak satu ini. Sejak awal dilantik, pernyataan dan kebijakannya terkait anti radikalisme, kerap memantik pro-kontra. Ingat balada cadar-celana cingkrang bagi ASN? Lalu, sertifikasi penceramah yang sebentar lagi diberlakukan, pendaftaran majelis taklim, menolak perpanjangan SKT FPI, hingga penggeseran eh penggusuran konten jihad dan khilafah dari matpel fikih ke matpel Sejarah Kebudayaan Islam. 

Rezim berharap keduanya diingat sekadar sebagai romantisme kejayaan Islam. Bukan konsep yang wajib diterapkan. Tapi saat film Jejak Khilafah di Nusantara ditayangkan, diblokir habis-habisan dengan keterangan ada keluhan dari pemerintah. Padahal itu film dokumenter sejarah.  

Berdalih memerangi apa yang disebut dengan radikalisme, sang bapak terkesan membabi-buta. Bahkan, maaf, sering terkesan ngawur. Masih getolnya memburu radikalisme hingga kini, meneguhkan bahwa core of the core rezim adalah anti radikalisme. Paket komplit kabinet anti radikalisme terdiri dari  Menkopolhukam, Menag, Mendagri, serta Menteri PAN dan Reformasi. 


/ Radikalisasi Good Looking, Tendensius /

Radikalisme lagi. Lagi-lagi radikalisme. Meski tak laku keras di pasaran, "gorengan" radikalisme terus dijajakan. Direproduksi, diberi zat pewarna, perasa dan pengawet, digoreng lagi. Dikemas ulang. Dijual lagi. Begitu seterusnya. Hingga mungkin masyarakat sudah merasa "neg" saking bosannya. 

Menyebut bahwa masuknya radikalisme ke masjid-masjd lewat anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arab bagus dan hafiz Alquran, merupakan bentuk pelecehan terhadap Islam. Dengan kata lain, beliau mendeskripsikan bahwa ciri-ciri radikal ialah good looking, pandai berbahasa Arab dan hafiz Alquran. 

Menjadi sosok good looking tentu keutamaan bagi muslim. Tak hanya "enak" dilihat secara fisik, tapi hal ini sebagai pancaran kepribadian Islam nan mulia. Cerdas akal, sholih tindak-tanduknya. Pun, keutamaan lainnya dalam menguasai Bahasa Arab dan hafiz Alquran. Benarkah sosok baik dalam pandangan Islam ini, dinisbatkan sebagai orang radikal yang identik dengan ulah kekerasan, tidak toleran, bahkan pelaku bom? 

Apakah sang bapak mulai pusing? Sehingga memunculkan statemen ngawur dan tendensius. Pusingkah, terus dikejar target proyek deradikalisasi sementara dananya mungkin masih banyak? Pusing, karena memerangi sesuatu yang tidak ada wujudnya? Pusing, karena definisi hukum tentang radikalisme hingga saat ini tidak ada? 


/ Radikalisme, Propaganda Tanpa Fakta /

Yah, kini sebagian masyarakat mulai tercerahkan bahwa radikalisme hanyalah propaganda tanpa fakta. Radikalisme itu mirip hantu. Tidak ada, tetapi dibuat cerita seolah nyata dan menakutkan. 

Definisi hukumnya saja tidak ada. Yang mengemuka adalah radikalisme sebagai istilah politik yang makin kesini arahnya kian jelas. Menyitir pendapat Prof. Suteki sebagai pakar hukum, nomenklatur radikalisme bersifat lentur dan obscure (kabur). 

Karena inilah, narasi radikalisme rentan ditarik ulur sesuai syahwat penguasa. Nampak sebagai alat gebuk bagi orang atau kelompok yang berseberangan pemikiran dan kepentingan dengan rezim berkuasa. Mereka digebuk dengan narasi radikal, intoleran, anti Pancasila, anti NKRI, hingga pemecah-belah bangsa. 


/ War on Radicalism, Proyek Global /

Banyak pihak mulai memahami bahwa proyek anti radikalisme di negeri ini adalah bagian dari War on Radicalism, proyek global untuk memerangi Islam. Tersebab ketakutan mereka akan gejala kebangkitan Islam yang kian lama kian nyata. 

Berikut strategi Barat di balik narasi radikalisme. Pertama, sebagai upaya pecah-belah umat Islam antara kaum yang disebut radikal dengan kaum moderat. Kedua, sebagai upaya pendangkalan ajaran Islam. Jika ada muslim yang yakin kebenaran Islam dan ingin mewujudkannya secara kafah disebut kaum radikal. 

Ketiga, upaya menghadang kebangkitan Islam. Muslim yang mengajak umat bangkit untuk menerapkan syariah dan khilafah akan disebut radikal. Keempat, strategi politik Barat agar tetap bercokol dan melakukan hegemoni terhadap negeri-negeri muslim.

Wahai Bapak yang berkuasa, radikalisme bukan masalah utama negeri ini. Justru masalah kita adalah ketidakadilan yang merajalela. Kerusakan di segala lini hidup bangsa. Yang semuanya itu akibat setianya penguasa pada penerapan sekularisme kapitalis liberal nan hina. Paham ini yang harusnya diperangi. 

Bukan menciptakan paham khayalan semacam radikalisme. Yang ujung-ujungnya adalah menghantam Islam, ajaran yang dipeluk oleh mayoritas penduduk negeri ini. Ajaran yang Anda peluk juga, tapi Anda ikut memusuhinya. Hanya karena desakan perut dan bagian atas bawahnya, serta sejumput kenikmatan dunia lainnya. 


/ Islam Bukan Radikalisme /

Mau dihantam berapa kalipun dengan isu radikalisme, tetapi karena Islam memang bukan radikalisme, maka proyek ini pasti akan gagal. 

Makar manusia dalam menjatuhkan Islam dan pejuangnya pasti akan kalah dengan makar Allah. 

وَمَكَرُوا۟ وَمَكَرَ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَٰكِرِينَ 

"Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS.  Ali Imron: 54)

Terbukti, narasi radikalisme kini hanyalah  proyek GaTotKaCa alias (maaf) Gagal Total Kakean Cangkem.

Islam bukan ajaran radikal sebagaimana tuduhan Barat. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Menyandingkan kata Islam dengan radikal atau radikalisme sehingga menjadi Islam radikal atau radikalisme Islam adalah bentuk propaganda kebohongan. 

Maka, umat Islam mesti bersatu melawan stigmatisasi radikalisme. Teruslah berjuang hingga Allah Saw. menurunkan kata menang atau hingga tanah mengalang.[]


Oleh: Puspita Satyawati


Posting Komentar

0 Komentar