TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Racun Kapitalisme, Kesetaraan Upah untuk Perempuan



Dilansir bisnis.com (21/9/ 2020) Saat ini tenaga kerja perempuan masih dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, dengan perkiraan kesenjangan upah sebesar 16 persen dan 23 persen lebih rendah terjadi di indonesia. Meskipun banyak  yang bergelar sarjana namun pendapatannya masih cukup rendah dibandingkan laki - laki.

Upah ini memberikan dampak negatif bagi perempuan dan keluarganya apalagi selama pandemi covid - 19. Karena banyak perempuan yang bekerja di sektor - sektor perekonomian yang paling terkena dampak krisis, seperti: akomodasi, makanan, penjualan dan manufaktur. Banyak juga yang bekerja di perekonomian informal seperti:perawat, Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang tidak memiliki asuransi kesehatan dan perlindungan sosial.

World Economic Forum (WEF) menyebutkan perlu waktu 257 tahun untuk mewujudkan kesempatan kesetaraan ekonomi antara laki-laki dan perempuan (republika.co.id 18/12/2019). Tak hanya kesetaraan upah yang dituntut tetapi, mereka juga menghendaki punya peluang sama untuk bekerja di berbagai jenis pekerjaan dan menduduki jabatan top level seperti menejer, direktur, dan lain-lain.

Berangkat dari isu ini untuk pertama kalinya Indonesia bersama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB) turut berpatisipasi dalam merayakan Hari Kesetaraan Upah Internasional pada tanggal 18 September 2020. Ini juga sebagai bentuk komitmen dari PBB untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan.(Kumparan.com 19/9/2020)

Akankah kesetaraan upah ini benar-benar terwujud atau hanya sekedar basa-basi khas sistem sekuler-kapitalis dalam mengatasi masalah kaum perempuan. Fakta kesenjangan upah diselesaikan dengan seremoni peringatan Hari Kesetaraan Upah Internasional.Perhatian terhadap kesejahteraan perempuan juga diwujudkan dengan cara ekspolitatif yakni mendorong perempuan bekerja tanpa khawatir terhadap kesenjangan upahnya juga dengan menghilangan hambatan (peran domestik) untuk terjun kesemua jenis pekerjaan agar tidak menuntut negara menjamin kesejahteraannya. Inilah kondisi buruk yang dialami perempuan pada sistem kapitalisme.

Jika dibandingkan dengan Islam, dalam Islam kesetaraan atau keadilan itu akan terwujud jika manusia menerapkan syariat Islam secara sempurna baik dalam rana individu, masyarakat, maupun negara. Islam menetapkan aktivitas manusia itu sesuai dengan fitrahnya. Seorang laki-laki iadalah qowam (pemimpin) bagi perempuan atau keluarganya. Laki-laki berkewajiban bekerja untuk menafkahi keluarganya, sementara perempuan adalah al-umm warobatul bait, ibu pendidik sekaligus pengatur rumah tangga. Status ini menempatkan perempuan pada status yang bergengsi dan tinggi dalam ketetapan Allah SWT. Karena Allah lah yang telah menempatkan perempuan seperti itu sesuai ketentuan syara'. Wallahua'lam biishowab.

Oleh : Ummu Haqi

Posting Komentar

0 Komentar