TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

PSBB Terjegal, Sampai Kapan Rakyat Jadi Tumbal?



Pandemi belum jugai usai. Korbannya justru semakin menjuntai. Hingga hari ini saja ada penambahan 3.806 kasus. Tiap hari laju pertambahan kasus corona kian melejit. Jika hal ini tak bisa diantisipasi dan  diberhentikan, ribuan nyawa bakalan melayang. 

Sebuah tindakan yang berani telah diinisiasi oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Beliau mengumumkan  menyampaikan bahwa perkembangan kasus corona sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu, untuk mengendalikan sebarannya perlu ditarik rem darurat dengan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total. Rencananya pemberlakuan itu akan dimulai 14 September 2020. (Kompas.com, 11/9/20) 

Pro kontra kebijakan

Seperti yang sudah-sudah, setiap kebijakan selalu menimbulkan pro kontra. Sangat mengejutkan jika kontra justru berasal dari para menteri presiden.  Seperti Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena tertekan oleh pengumuman PSBB DKI Jakarta.

Protes kedua dari Mendag Agus Suparmanto yang memperingatkan pemberlakuan PSBB bisa berpotensi mengganggu kelancaran distribusi barang, apalagi mengingat peran Jakarta dalam aliran distribusi nasional.

Sedangkan menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, kinerja industri manufaktur bakal kembali tertekan akibat keputusan tersebut. Dan menjadi lebih parah bila wilayah lain juga menerapkan hal serupa.

Jika ketiga hal tersebut terganggu, menurut mereka terganggu pula roda perekonomian negara. Bahkan bisa lebih parah lagi dari sebelumnya. Perekonomian akan anjlok dan akan ada banyak pekerja yang dirumahkan. 

Namun, tak sedikit yang justru mendukung kebijakan tarik mendadak ini. Sebut saja dr. Tirta yang menyetujui keputusan PSBB tersebut. Karena kondisi Jakarta sangat urgen, selain jumlah pasien meningkat drastis, kapasitas pelayanan juga mulai menipis. (pikiran-rakyat.com, 10/9/20) 

Beberapa warga yang pernah diwawancara pun banyak yang setuju. Salah satunya Iboi, yang mendukung diberlakukan kembali PSBB. Dengan catatan kebutuhan rakyat harus diperhatikan dan dipenuhi. Semata-mata dilakukan demi kesehatan. (Tempo.co, 11/9/20) 

Rakyat yang utama

Dalam masalah penanganan covid ini, harusnya rakyatlah yang menjadi prioritas utama. Bukan pertimbangan untung dan rugi. Bagaimana jadinya jika rakyat jadi yang kedua, sedang profit jadi yang utama? 

Kita bisa lihat dengan kebijakan akhir-akhir ini. Mulai dari pemilihan opsi PSBB, PSBB transisi hingga new normal ternyata tak memperlihatkan hasil yang memuaskan. Malah kasus covid semakin bertambah. Dan ribuan kali lipat dari sebelumnya. 

Semua itu terjadi karena tak ada pengetatan mobilitas manusia. Di era new normal mall, restoran, pasar, kantor, sekolah bahkan pariwisata dibuka sebagaimana biasanya. Hasilnya, lahirlah klaster-klaster baru penyebaran corona. Bahkan saat ini, keluarga sebagai bagian terkecil dalam masyarakat pun menjadi klaster penyebaran corona. 

Semua itu demi berputarnya roda ekonomi. Seperti yang sudah diberitakan, pertumbuhan ekonomi negeri ini yang menuju nilai negatif terancam terjadi resesi. Agar semua tak terjadi, maka kondisi perdagangan, perindustrian, hingga jasa harus terus berjalan. 

Apa yang terjadi? Rakyatlah yang jadi tumbal. Korban kepentingan ekonomi. Ribuan nyawa melayang, dan puluhan ribu dalam perawatan. Mungkin ini yang disebut sebagai herd imunity. Sebuah program yang tak perlu banyak pembiayaan. Karena imun masyarakat akan terbentuk dengan sendirinya. Dan wabah akan hilang dengan sendirinya. Tapi sampai kapan? Dan menunggu berapa korban lagi yang harus jadi tumbal? 

Kalau seperti ini bukanlah rakyat yang diutamakan. Tapi kepentingan jalannya ekonomi lebih diprioritaskan. Bukanlah rakyat yang lebih dikedepankan. Tapi kepentingan para kapital yang dipentingkan. 

Tugas utama negara

Apa yang telah dilakukan para aparat dengan mementingkan ekonomi itu perlu ralat. Pasalnya, tugas negara adalah mengayomi, mengurusi kebutuhan rakyatnya. Dimana kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar. Tentunya hal itu perlu diperhatikan. Senada dengan sabda Rasul, 

"Siapa dari kalian yang bangun pagi dalam keadaan hatinya aman/damai, sehat badannya dan memiliki makan hariannya maka seolah-olah telah dikumpulkan dunia untuk dirinya". (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad, al-Qudha’i dalam Musnad Syihâb, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Îmân dan al-Humaidi dalam Musnad al-Humaidi).

Maka, tugas negara adalah memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Baik sandang, pangan, papan maupun kesehatan. Meski ekonomi juga penting, namun dalam hal ini kesehatan harus lebih diperhatikan. Pasalnya, menyangkut keselamatan jiwa. 

Tersandera kapitalis

Tak bisa dipungkiri, dalam tata aturan saat ini setiap kebijakan selalu berbenturan dengan untung dan rugi. Pantaslah, jika sang pemimpin ingin mengambil keputusan demi keselamatan rakyatnya, justru dilabeli sinis. Bahkan di-bully dan tak dihormati lagi. 

Wajar saja, sistem yang dipakai saat ini bukanlah sistem yang bertujuan mengurusi rakyat. Tapi sistem saat ini adalah sistem yang berlandaskan akal manusia. Untung dan rugi kebijakan hanya dinilai bedasarkan akal. Dan pesanan para kapital alias pemilik modal. Inilah sistem kapitalis, yang selalu bertindak minimalis untuk rakyat tapi maksimal untuk pemilik modal. 

Islam mengajarkan tanggung jawab

Bagi Islam, tanggung jawab sebagai pemimpin adalah amanah. Amanah adalah hal yang harus ditepati. Dalam pelaksanaanya pun perlu hati-hati. Karena setiap amanah akan diminta pertanggungjawaban. 

Jika dalam kapitalis sangat susah  menjalankan amanah karena terganjal kepentingan. Maka Islam justru mewajibkan menjalankan amanah atas dasar keimanan. Dengan iman pemimpin akan berusaha sebaik-baiknya melaksanakan amanah. Sekaligus berusaha menjalankan titah Sang Pembuat Kehidupan. 

Jika pandemi tak kunjung usai, pemimpin Islam akan menjadikan Islam sebagai dasar penyelesaian. Mulai dari mengkarantina total masyarakat, hingga seluruh kasus terungkap. Memberikan jaminan kebutuhan dasar terpenuhi secara sempurna. Dan memberikan pengobatan terbaik demi kesembuhan rakyatnya. Serta memisahkan si sakit dan si sehat agar tak tertular penyakit tersebut. 

Namun, itu semua tak akan terealisasi pada sistem kapitalis. Karena semua butuh dana banyak, pengorbanan besar, dan ketaatan hanya karena Allah. Semua itu hanya bisa terlaksana dengan sistem Islam. Sistem paripurna dan sempurna. Dengan demikian rakyat tak lagi jadi bulan-bulanan tanpa kepastian. Wallahu'alam bishowab.[]

Oleh : Asy Syifa Ummu Sidiq


Posting Komentar

0 Komentar