TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

PSBB, Solusi Separo Hati, Rakyat Tersakiti

Laju penyebaran wabah covid-19 semakin tak terbendung. Memaksa penguasa Jakarta kembali memberlakukan PSBB. Sayangnya, program ini nampak tidak mendapatkan dukungan oleh pihak-pihak terkait. Misalnya kementerian sosial yang menyatakan akan fokus pada program sebelumnya saja.  Tidak bisa serta merta memberikan bantuan pada masyarakat terdampak PSBB karena perlu koordinasi lebih dalam dan menanti arahan presiden. (news.detik.com, 13/09/2020)

Sementara dari pihak para pengusaha, yang salah satunya diwakili oleh Budi Hartono. Ia mengirim surat kepada Pak Presiden terkait keengganannya terhadap pemberlakuan kembali PSBB. Menurutnya PSBB tidak efektif untuk menghentikan laju penularan virus. 

Disampaikannya bahwa menurut beberapa lembaga survey masyarakat lebih takut kehilangan pekerjaan dan pendapatan serta kelaparan daripada ancaman penularan Covid-19. Hasil survey menunjukan 80 persen masyarakat tidak menghendaki adanya PSBB kembali." (m.solopos.com, 13/09/2020) 

Hal ini memang tidak bisa dipungkiri. Wajar. Karena PSBB adalah upaya separo hati penanganan pandemi. Rakyat dibatasi aktivitasnya sementara kebutuhannya tidak dicukupi. Jelas ini solusi yang menyakiti. 

Namun demikian, membiarkan new normal terus berlangsung juga bukan hal yang menyelamatkan. Sebagaimana fakta dan data juga bicara. Korban terus berjatuhan akibat tidak terkontrolnya interaksi. Semakin banyak fasilitas umum yang dibuka, semakin besar peluang penularan. 

Adapun memperketat protokol kesehatan juga bukanlah solusi tuntas. Karena, pertama, masyarakat kita belum cukup dewasa untuk melakukannya dengan kesadaran masing-masing. Sementara petugas kontrol tidak ada atau sangat minim. Di sisi lain, kebijakan untuk terus membuka fasilitas umum secara besar-besaran membuat masyarakat kehilangan kepercayaan bahwa Covid-19 itu benar-benar ada. 

Lebih penting dari itu, jikapun protokol kesehatan benar-benar berjalan, hal ini hanya membantu mengurangi kecepatan penularan. Bukan perkara yang benar-benar mampu memutus mata rantai penularan. Sebagaimana yang terjadi pada beberapa pasien covid yang ada selama ini, banyak diantara mereka adalah orang-orang yang sudah menjalankan protokol kesehatan. Misalnya saja para tenaga medis. Pastilah mereka telah menjalankan protokol kesehatan dengan sangat baik, nyatanya masih tertular juga. 

Karenanya cara efektif atasi pandemi adalah seperti yang disampaikan banyak ahli kesehatan di awal-awal Indonesia terwabah. Yakni isolasi wilayah terwabah atau lockdown. Selain direkomendasikan oleh para ahli, hal ini sudah pernah terjadi dan terbukti berhasil mengatasi hal pandemi. Yakni saat penyakit menular lepra menyerang Madinah saat pemerintahan Umar Bin Khatab. Saat itu sang Khalifah langsung memberlakukan isolasi, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw.

"Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Semua akses keluar masuk Madinah ditutup. Masyarakat diminta hidup berjauhan dengan menyebar di bukit-bukit tanpa interaksi sosial. Namun kebutuhan mereka dipenuhi dengan baik. Disediakan dan didistribusikan oleh para petugas negara ke permukiman masing-masing. 

Sementara yang sudah terjangkit diberikan pengobatan terbaik oleh negara hingga benar-benar sehat. Sembari terus mengerahkan para ilmuwan untuk melakukan berbagai penelitian untuk menemukan pengobatan dan pencegahan penyakit tersebut.

Demikianlah isolasi total yang dijalankan berdasar syariat Islam tidak sedikitpun menyebabkan rakyat tersakiti. Otomatis mereka nurut, sukarela menahan diri di rumah. Alhasil wabah lepra bisa benar-benar hilang seperti padamnya api saat kayu-kayu bakar saling dijauhkan satu sama lain.

Hal ini mudah dilakukan dalam konsep pemerintah Islam yang menjadikan keselamatan rakyat sebagai urusan utama negara. Didukung penuh oleh sistem ekonomi Islam yang memiliki istimewa. Yakni terdapat banyak sumber kas masuk sehingga tidak bertumpu pada pajak yang tergantung pada pergerakan ekonomi rakyat semata.

Dalam Islam, pos pendapatan terdapat bisa diperoleh dari kharaj, fa'i, jizyah, ghanimah, hingga pengelolaan harta kepemilikan bersama berupa sumber daya alam. Semua itu meniscayakan negara mampu mengcover seluruh biaya penanganan pandemi. Baik untuk menanggung seluruh kebutuhan rakyat saat diisolasi, juga untuk pengobatan dan penelitian untuk menemukan vaksin dan segala hal yang bisa mencegah penyebaran wabah.

Oleh karena itu, kasus pendemi hari ini semestinya bisa membuka hati penguasa negeri ini untuk mau meneladani apa yang terjadi di masa lalu, menjadikan Islam sebagai aturan kehidupan. Niscaya negeri ini akan mampu menangani pandemi dengan isolasi syar'i. Bukan PSBB atau solusi separo hati lainnya. Dimana nasib rakyat selalu dikemudiankan. Saatnya berjuang bersama, mengembalikan tegaknya kembali syariat Islam dalam kehidupan! []

Oleh: Umi Diwanti

Posting Komentar

0 Komentar