TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Propaganda Dibalik Isu Radikalisme, antara Fakta atau Ilusi?

Berulang kali Menag Fachrul Razi membuat narasi tentang radikalisme yaitu merupakan suatu paham yang berbahaya. Namun tuduhan yang dilontarkan selalu menyasar umat Islam dan ajaran Islam. Baru-baru ini Menag menyatakan bahwa paham radikal bisa masuk melalui anak-anak muda yang berpenampilan good looking (menarik), memiliki kemampuan bahasa arab yang baik dan hafiz Quran.

Salah satu artikel yang muncul yakni Menag mengungkapkan strategi paham radikal masuk ke lingkungan ASN dan masyarakat melalui agen radikalisme. Dikutip melalui Detik.com (4/9/2020) Menag mengatakan "Dikirimkan anak good looking menguasai Bahasa Arab, hafiz, ikut jadi imam, orang orang situ bersimpati, hingga diangkat jadi pengurus masjid. Lalu mulai masuk temannya dan ide-ide yang tadi kita takutkan." Hal ini disampaikan beliau dalam kegiatan webinar Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara, yang disiarkan di YouTube KemenPAN-RB pada Rabu (2/9) kemarin.

Pernyataan Menag bukan sekali atau dua kali ini saja, tahun lalu, Menag juga mengatakan bahwa radikalisme berkembang melalui PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Sebagaimana dilansir melalui laman Rapublika.co.id (11/9/2019), Menteri Agama Fachrul Razi mengakui adanya paparan paham radikalisme di sektor pendidikan PAUD. Untuk itu dia mengaku bakal mengeliminasi radikalisme di Indonesia, termasuk di PAUD. "Paud ada (dugaan terpapar radikalisme), tapi kita coba eliminasi," kata Menag Fachrul, di Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (11/12/2019). Tidak hanya Paud, permasalahan cadar dan celana cingkrang juga pernah menjadi polemik.

Untuk PAUD sendiri kecurigaan terjadi pada pemahaman guru yang memiliki paham fikih yang sesat. Sehingga para guru akan difilter secara kapasitas. Filterisasi guru ini mengacu pada kapasitas pengetahuan terkait fikih. Karena apabila hanya mengajar sejarah namun tidak memahami fikih dengan benar maka dikhawatirkan, para guru pengajar memiliki aliran fikih yang sesat. Sebenarnya ini tuduhan yang tidak mendasar dan bentuk kekeliruan dan kesalahan dalam berfikir.

Kalau kita merujuk pengertian radikalisme dalam situs Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki tiga arti. Radikalisme adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik, atau sikap ekstrem dalam aliran politik. Selain itu, pengertian radikalisme yang lain adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. 

Dari beberapa penelitian juga mengungkapkan bahwa radikalisme adalah alah gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka. Padahal Islam merupakan agama kedamaian dan tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan serta paham politik. 

Sedangkan apabila radikalisme bemakna positif, yakni memiliki makna tajdid (pembaharuan) dan islah (perbaikan), suatu spirit perubahan menuju kebaikan. Hingga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara para pemikir radikal sebagai seorang pendukung reformasi jangka panjang. Artinya pandangan/cara berfikir seseorang yang menginginkan peningkatan mutu, perbaikan, dan perdamaian lingkungan multidimensional, hingga semua lapisan masyarakatnya dapat hidup rukun dan tenteram. (Faiz Yunus, 2017)

Pemahaman terhadap radikalisme itu sendiri mengalami pelencengan makna, baik pemerintah dan masyarakat umum hanya menyoroti apa yang kelompok-kelompok radikal lakukan (dalam hal ini adalah praktik kekerasan). Namun, tidak pernah berusaha menggunakan sudut pandang perbaikan. Alhasil adanya diskriminasi terhadap seseorang atau kelompok tertentu karena dianggap radikal, namun masalahnya adalah mereka ini tidak pernah melakukan praktik kekerasan, malah menjadi tertuduh walaupun memiliki paham radikal bermakna positif yakni perbaikan.

Apabila kalau kita mau terbuka dengan jujur sebenarnya yang dihalangi adalah ide terhadap penerapan syariah dan penerapan Khilafah. Pertanyaannya kenapa syariah dan Khilafah jadi masalah? Karena dengan penerapan syariah dan Khilafah akan menutup habis dominasi Barat dan sekutunya terhadap negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia. 

Barat dengan ideologi sekulerismenya mengambil sumber daya alam serta menjadikan negeri-negeri muslim sebagai konsumen untuk peradaban dan produk dari Barat. Mereka tidak ingin apabila umat Islam itu bangkit dengan ide syariah dan Khilafah. Karena mereka juga memahami dan menyadari bahwa yang bisa menghentikan dominasi dan penjajahan mereka adalah aktivitas politik dalam bentuk Khilafah.

Upaya penghadangan sudah dilakukan sejak Khilafah Turki Utsmaniyah di runtuhkan. Namun tahun 2000-an aktivitas tersebut semakin gencar dilakukan dengan slogan _War on Terorism_. Bahkan mereka juga melakukan kajian serta riset yang mendalam tentang kebangkitan Khilafah. Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat, NIC (National Intelegent Council) pada akhir tahun 2004 membuat laporan terkait hal tersebut. Maka dari itu mereka tidak berhenti untuk menghalangi tegaknya Khilafah.

Salah satu postulat yang ditebarkan oleh Barat melalui berbagai corong media mereka saat ini adalah atribut “Islam radikal” atau istilah radikalisme. Sebagai strategi adu domba sesama Muslim, maka Baratpun membuat istilah tandingan kontra radikalisme yang disebut dengan “Islam moderat”, baik Islam radikal maupun Islam moderat. Keduanya adalah istilah yang diproklamirkan Barat untuk menyerang Islam. (Ahmad Sastra, 2018) 

Istilah-istilah inilah yang digunakan sebagai narasi mengahalangi Khilafah.
Menurut Ahmad Sastra (2018), setidaknya ada empat karakteristik dan tujuan Barat melancarkan imperialisme epistemologi sebagai propaganda Barat menyerang Islam. Artinya menggunakan berbagai istilah radikalisme sehingga kelak melahirkan islamophobia di Barat dan seluruh dunia. 

Pertama; Harakah at-Tasykîk, yakni menumbuhkan keraguan (skeptis) pada umat Islam akan kebenaran Islam. Diantara keraguan yang mereka lancarkan adalah gugatan tentang otentitas al-Quran, Islam sebagai Mohammadanisme, keraguan atas kerasulan Muhammad saw. Dampak dari at-tasykîk adalah tumbuhnya sikap netralitas dan relativitas terhadap ajaran Islam. Jika masih ada seorang Muslim yang secara fanatik memahami Islam maka mereka kemudian dicap sebagai fundamentalis, radikalis, islamis dan teroris.

Kedua; Harakah at-Tasywîh, yaitu menghilangkan rasa kebanggaan terhadap ajaran Islam dengan cara memberikan stigma buruk terhadap Islam. Mereka dengan gencar mencitrakan Islam secara keji melalui media-media. Dampak dari tasywîh ini adalah menggejalanya inferiority complex (rendah diri) pada diri umat Islam, islamopobhia, pemujaan kepada Barat.

Ketiga; Harakah at-Tadzwîb, yakni gerakan pelarutan (akulturasi) peradaban dan pemikiran. Dampaknya adalah umat Islam terjebak dalam pemikiran pluralisme agama. Pluralisme jelas bertentangan dengan Islam. Pluralisme, menurut WC Smith, bermakna transendent unity of religion (wihdat al adyan), dan global teologi menurut John Hick.

Keempat; Hakarah at-Taghrîb, yakni gerakan westernisasi segala aspek kehidupan kaum Muslim. Paradigma Barat dijadikan sebagai kiblat kaum Muslim dengan meninggalkan tsaqâfah Islam. Melalui berbagai bidang seperti fun, fashion, film dan food, Barat terus mempropagandakan ideologinya.

Walhasil radikalisme itu ada, yaitu radikal dalam menggunakan ‘istilah radikalisme’ untuk menghalangi penerapan syariah dan tegaknya Khilafah. Sikap ekstrem bahkan dilakukan dengan tindakan tuduhan, paksaan ketetapan hukum, serta persekusi terhadap individu-individu aktivisnya hingga kelompok yang memperjuangkannya. Sedangkan bagi yang ingin menerapkan syariah dan Khilafah, radikalnya semata-mata untuk perbaikan dengan aktivitas pemikiran, dakwah dan tanpa kekerasan, kalau di anggap ekstrem atau melakukan tindakan kekerasan maka itu hanya ilusi.[]

Oleh: Wandra Irvandi, Direktur Lembaga Kajian ANSPI Kalimantan Barat


Posting Komentar

0 Komentar