TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Predator Anak Semakin Marak, Bukti Sistem Rusak



Bermodal foto yang diambil dari jejaring media sosial, Indrawan (20) mencabuli tiga gadis di bawah umur. Pelaku berhasil memperdaya korban dengan mengancam akan memviralkan foto korban yang tak senonoh.

"Ini merupakan kasus predator anak yang berhasil kita ungkap. Awalnya pelaku menghubungi korban melalui pesan WhatsApp. Di situ pelaku mengaku memiliki foto korban yang tidak pantas, dan mengancam akan menyebarkannya ke media sosial," ujar Kapolres Sragen AKBP Raphael Sandy Cahya Priambodo saat jumpa pers di Mapolres Sragen, Rabu (23/9/2020).

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku kini meringkuk tahanan Mapolres Sragen. Pelaku diancam Pasal 81 ayat 1 subsider Pasal 82 ayat 1 Jo Pasal 76 E UURI Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas UURI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (Detik news.com, 23/09/2020)

Sungguh miris kasus pemerkosaan anak yang marak terjadi akhir-akhir ini. Berbagai modus nekad ditempuh demi memuaskan nafsu birahi sang pelaku. Tak tanggung-tanggung, kali ini remaja di bawah umur yang dijadikan sasaran empuk. Bermodalkan jurus gertak sambal pelaku dengan mudah menipu korban dan meminta mereka 'menyerahkan dirinya' di bawah ancaman. 

Peristiwa tersebut tentu membuat resah dan gelisah pihak orang tua manapun yang memiliki anak gadis di bawah umur. Setidaknya ada 3 hal yang bisa dianalisis terkait hal ini:

Pertama, dilihat dari modus yang digunakan, pelaku memanfaatkan media sosial untuk menjaring sasaran korban dari kalangan remaja putri yang masih polos dan mudah diperdaya. Informasi lengkap yang diberikan pada akun medsos (hingga nomor Whatsapp) memudahkan pelaku untuk mengontak para korbannya.

Kedua, para korban yang notabene gadis di bawah umur pastilah memiliki fasilitas handphone (HP) pribadi alias tidak menumpang orang tua sehingga ia bebas berselancar di dunia maya meski tanpa pengawasan orang tua. Yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka mudah diperdaya oleh pelaku yang notabene laki-laki asing? Meski tak disebutkan di pemberitaan, patut dipertanyakan mengapa para korban dengan mudah pula dijemput di rumahnya lalu diajak pergi jalan-jalan. Dimana keberadaan orang tua mereka?

Ketiga, entah apa yang menginspirasi pelaku untuk melakukan perbuatan bejat dengan memanfaatkan akun media sosial korban. Dugaan kuat ia terinspirasi oleh tayangan film ataupun video viral serupa di dunia maya. Bahkan pihak kepolisian mengkategorikannya sebagai predator anak.

Alam sekulerisme yang serba liberal membuat kehidupan sosial menjadi hancur berantakan. Padahal Islam dengan aturannya yang paripurna begitu menjaga kehidupan sosial di tengah masyarakat dan berhasil mengantarkan manusia pada peradaban yang tinggi. Islam memberikan pandangan yang khas dan solutif bagi berbagai permasalahan termasuk kasus di atas dengan beberapa pandangan berikut ini:

Pertama, Islam memberikan aturan yang khas terkait pendidikan terhadap anak usia pra hingga pasca baligh. Penguatan akidah tentu dilakukan di masa-masa rentan ini dengan pelibatan orang tua secara penuh. Orang tua yang faham akan hal ini jelas tidak mungkin melakukan pembiaran terhadap perilaku menyimpang anak seperti penyalahgunaan fasilitas HP dan pengumbaran aurat yang membuka peluang terjebaknya anak pada pergaulan bebas. 

Kedua, Islam tidak akan membiarkan beredar luasnya pornografi ataupun pornoaksi di berbagai media cetak maupun sosial yang akan memancing terjadinya kasus penyimpangan bahkan kekerasan seksual di tengah masyarakat. Di samping itu, kontrol masyarakat dalam sistem Islam senantiasa berjalan dengan adanya aktivitas da'wah menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (TQS. An-Nahl: 125)

Ketiga, sanksi hukum yang tegas akan diberikan kepada pelaku kejahatan sesuai dengan perintah Allah subhaanahu wa ta'aala. Orang yang melakukan pemerkosaan berarti melakukan tindak pemaksaan untuk melakukan hubungan seksual. Ulama mengategorikan pemerkosaan sebagai tindakan zina. Hukumannya adalah had yang sudah ditetapkan dalam kasus perbuatan zina. Jika pelaku belum menikah, hukumannya cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Jika pelakunya sudah menikah maka hukuman rajam bisa dilaksanakan. 

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah (cambuklah) tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (cambuk)”. (TQS. An-Nûr: 2)

Dalam kasus pemerkosaan ada pengecualian bagi korban. Korban pemerkosaan tidak dikenakan hukuman zina. Jika tindakan zina, maka dua pelakunya sama-sama mendapatkan hukuman had. Namun dalam pemerkosaan, sang korban terbebas dari hukuman. Dalilnya adalah Alquran surah al-An'am ayat 145. 

"Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkan dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Imam Malik dalam Al-Muwatha' berpendapat, orang yang memperkosa wanita selain dijatuhi hukuman had zina juga mendapat sanksi tambahan. Sang pelaku diharuskan membayar mahar kepada wanita. Sementara Imam Abu Hanifah berpendapat, pemerkosa hanya mendapatkan had zina saja tanpa kewajiban membayar mahar.

Jika tindakan pemerkosaan dibarengi dengan tindakan penyiksaan atau perampasan harta maka hukumannya bisa ditambah. Beberapa ulama berpendapat, tambahan hukuman bagi pemerkosa yang menyiksa atau merampas harta sesuai dengan Alquran surah al-Maidah ayat 33.
Allah SWT berfirman, 

"Sesungguhnya, hukuman terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, adalah mereka dibunuh atau disalib, dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang (keluar daerah). Yang demikian itu, (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar."

Demikianlah solusi yang Islam berikan bagi tindak pidana pemerkosaan. Dengan aturan yang tegas maka peristiwa serupa di atas tidak akan berulang terus dan menghasilkan fenomena predator anak. Sungguh fenomena yang sangat tidak diharapkan oleh orang tua manapun di dunia. Dan semua pasti sepakat hanya sistem Islam dalam naungan Khilafahlah yang mampu menyelesaikan dengan tuntas permasalahan tersebut. Wallaahu a'lam.[]


Oleh: Lely Herawati 
(Praktisi Pendidikan dan Aktivis Muslimah Pecinta Islam)

Posting Komentar

0 Komentar