TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Poliandri: Menyalahi Kodrat, Menentang Syariat

Tak habis pikir bagaimana pola hidup masyarakat Indonesia saat ini. Semakin hari seolah semakin jauh dari tatanan yang semestinya. Belum usai kasus maraknya penyimpangan seksual LGBT. Kini, harus ditambah lagi dengan adanya pemberitaan terkait maraknya perempuan menikah dengan pria lebih dari satu alias poliandri. Lebih miris lagi, rupanya hal tersebut sudah banyak dijumpai di kalangan ASN wanita. 

Seperti yang dikatakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) RI Tjahjo Kumolo. Selama satu tahun ini pihaknya telah menerima 5 laporan kasus poliandri ASN.

"Sekarang yang menjadi tren baru adalah ASN wanita yang punya suami lebih dari satu. Ini fenomena baru, saya banyak memutuskan perkara ini," kata Tjahjo dikutip dari Antaranews, Jumat (28/8/2020). (www.kompas.com 30/8/2020)

Menilik dari kasus tersebut. Sebenarnya, hukum pernikahan di Indonesia menganut asas monogami. Hal ini tertuang dalam Pasal 3 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UUP), bahwa seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang istri, dan seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami. 

Sudah jelas, bahwa poliandri tidak dibenarkan dan tidak diperbolehkan ada di Indonesia. Namun, fakta di lapangan rupanya tidak berkata demikian. Aturan yang dibuat telah dilanggar oleh masyarakatnya sendiri. 

Semestinya kasus poliandri tidak bisa dianggap sepele. Karena hal tersebut sudah tentu menambah variasi persoalan yang semakin beragam di Indonesia dan tingkat kompleksitas penyelesaiannya yang juga semakin berat.  

Poliandri sendiri dipicu oleh beberapa aspek. Salah satunya adalah ketahanan keluarga yang lemah. Dari beberapa kasus yang ditemukan. Ada banyak sekali alasan-alasan kenapa muncul poliandri meski negara sudah melarang. Bermula dari ketidak berdayaan ekonomi masing-masing pasangan suami istri, aspek jarak, aspek tidak terpenuhnya hasrat biologis, aspek usia suami yang sudah lanjut dan aspek kurangnya iman dan lemahnya pemahaman agama sebagai kontrol sosial. 

Kebanyakan dari pasangan bergantung pada suami, yaitu hasil dari kerja suami. Sebagaimana manusia dewasa lainnya, apalagi bagi yang telah berkeluarga, kebutuhan bukan hanya nafkah lahir, seperti pemenuhan kebutuhan ekonomi, akan tetapi juga nafkah batin, seperti kasih sayang, perhatian, serta pemenuhan kebutuhan biologis bersama pasangan. Faktor-faktor tersebut adalah kendala-kendala yang sulit dihindari oleh TKW yang hidup berjauhan dari suami dan keluarga.   

Minimnya pemahaman syariat Islam bagi setiap individunya.  Sistem sekulerisme dan juga liberalisme pun memiliki andil besar di dalamnya. Betapa tidak? Saat masyarakat semakin jauh dengan hukum syara' maka ia akan bebas berbuat apa pun. Seperti kasus poliandri ini. 

Jika dibandingkan dengan aturan Islam, konteks undang-undang di atas tentu terdapat beberapa hal yang berbeda. Islam mengatur secara detail bagaimana hubungan manusia terbentuk. Apakah terkait hubungan manusia dengan sang pencipta. Atau hubungan manusia dengaan dirinya sendiri. Dan juga hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lain. Lebih-lebih dalam urusan pernikahan. Di mana hal tersebut merupakan ketahanan utama yang harus dijaga. 

Agama Islam adalah agama fitrah. Salah satu fitrahnya adalah disyariatkannya pernikahan yang bertujuan untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara laki-laki dan perempuan di bawah naungan syariat Islam dan batas-batas hubungan antar mereka.

Dalam Islam sendiri, laki-laki diperbolehkan memiliki 4 istri asalkan dia bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. 

Dalilnya adalah sebagai berikut : 

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا 

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [An-Nisaa’/4: 3].

Sementara itu, jika perempuan bersuami lebih dari satu, maka hal ini dilarang tegas oleh agama.

Adapun dalil tentang terlarangnya poliandri, diantaranya firman Allah Ta’ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا * وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء إِلاَّ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللّهِ عَلَيْكُمْ

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu” (QS. An Nisaa: 23-24)

Jika satu wanita disetubuhi oleh beberapa suami, maka tidak jelas anak yang lahir dari rahimnya adalah hasil pembuahan dari suami yang mana, sehingga tidak jelas akan dinasabkan kepada siapa.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: “Pernyataan ‘laki-laki dibolehkan menikahi empat orang wanita, namun wanita tidak dibolehkan menikahi lebih dari satu lelaki‘, ini adalah salah satu bentuk kesempurnaan sifat hikmah dari Allah Ta’ala kepada mereka. Juga bentuk ihsan dan perhatian yang tinggi terhadap kemaslahatan makhluk-Nya. Allah Maha Tinggi dan Maha Suci dari kebalikan sifat tesebut. Syariat Islam pun disucikan dari hal-hal yang berlawanan dengan hal itu. Andai wanita dibolehkan menikahi dua orang lelaki atau lebih, maka dunia akan hancur. Nasab pun jadi kacau. Para suami saling bertikai satu dengan yang lain, kehebohan muncul, fitnah mendera, dan bendera peperangan akan dipancangkan” (I’laamul Muwaqqi’in, 2/65)

Maka, penting sekali menanamkan kesadaran bagi masing-masing individu agar senantiasa mematuhi hukum syara' yang berlaku. Mengikat diri secara suka rela terhadapnya.[]

Oleh: Ummu Avicenna

Posting Komentar

0 Komentar