TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Polemik Mariyuana, Ketegasan Hukum Ditanya

Ganja atau Mariyuana sempat menjadi perbincangan kontroversial di tengah-tengah lapisan masyarakat. Hal ini terjadi sebab Kementrian Pertanian (Kementan) mencabut sementara Keputusan Mentri Pertanian (Kepmentan) No 104/2020. 

Kontroversinya yakni masuknya ganja (Cannabis sativa) sebagai salah satu komoditas binaan pertanian (CNBC Indonesia 30/8/20). Hal ini bukanlah perkara baru. Sebab, Menteri Pertanian telah menandatangani aturan tersebut pada 3 Februari 2020 lalu.

Kebijakan ini tampak diputuskan sepihak dan sangat gegabah sehingga menuai kritik tajam dari kalangan masyarakat. Pasalnya, tak perlu lagi mencari aspek legalitas dari ganja sendiri, karena peraturan perundang–undangan telah final menetapkan bahwa ganja merupakan salah satu jenis narkotika golongan I yang terlampir dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (UU Narkotika). Salah satu ahli hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Mudzakir merespon kebijakan ini, bahwa keputusan ini berlawanan dengan banyak peraturan di Indonesia.  Mengapa hal ini bisa terjadi? apakah para menteri tak lagi memperhatikan kemashlahatan bagi masyarakat luas?

Terlihat jelas dari adanya kebijakan kontroversi mengenai ganja ini. Undang-Undang yang telah dibuat oleh para pembuat hukum bisa kapan saja diperbaharui bahkan dibatalkan bila bertentangan dengan kepentingan pemerintah yang lain. 

Padahal, bila memang kemashlahatan masyarakat luas yang menjadi prioritas utama pemerintah dalam setiap kebijakan, maka mustahil aturan yang sudah final tersebut kembali dirombak sana sini. Hal ini semakin menunjukkan, bahwa pemerintah saat ini sedang menjalankan sistem kapitalis-sekuler dalam mengatur tatanan kehidupan bernegara. 

Pemerintah hanya mengambil keuntungan/manfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak peduli apa dampak yang akan terjadi bila kebijakan tersebut diterapkan di masyarakat luas. Lantas, apa kepentingan pemerintah di balik kebijakan yang kontroversi ini?

Beginilah model sistem kapitalis-sekuler dalam mengatur kehidupan. Mengabaikan aturan Tuhan dan mencoba berani membuat aturan sendiri. Padahal secara eksistensi diri, manusia adalah makhluk yang lemah, terbatas, serba kurang dan sangat bergantung kepada yang lainnya. Sehingga, sudah dipastikan tak akan mampu membuat aturan yang sempurna. 

Bila ada yang mencoba melakukannya, maka bisa kita saksikan hari ini terbentuk aturan kehidupan yang tumpang tindih dan membingungkan masyarakat. Walhasil, tiap-tiap kebijakan senantiasa terus menerus merenggut kesejahteraan masyarakat. 

Namun, hal ini tidak akan berlangsung terus menerus bila pemerintah segera beralih menerapkan Islam sebagai peraturan kehidupan dalam naungan sistem khilafah Islamiyyah. Islam telah lebih dulu melarang memproduksi dan mendistribusikan barang-barang yang menghilangkan akal di tengah-tengah masyarakat. 

Dapat dilihat pada sabda Rasulullah saw : 
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَام
“Setiap yang memabukan adalah khomr dan setiap khomr adalah haram.” (HR. Muslim no. 2003 dari hadits Ibnu Umar, Bab Bayanu anna kulla muskirin khomr wa anna kulla khmr harom, Abu Daud, no. 3679)

Dalam fiqih kontemporer, narkoba disebut “al Mukhaddirat” yaitu semua zat yang menyebabkan hilangnya kesadaran manusia atau hewan dengan derajat berbeda-beda, seperti hasyisy (ganja), opium, dan lainnya (Ibrahim Anis dkk, al Mu’jam al Wasith, halaman ; 220).

Dalil-dalil tersebut menunjukkan betapa luar biasanya Islam dalam memelihara jiwa dan menjaga akal manusia. Sebab, aturan yang dijalankan adalah aturan sang Pencipta manusia yang Maha Sempurna. Ganja dan barang-barang memabukkan lainnya diharamkan karena dapat merusak akal dan jiwa manusia. Telah banyak penelitian ilmiah tentang ini. 

Salah satunya seperti lembaga The National Institusi on Drug Abuse menyatakan bahwa ganja bisa membuat seseorang ketagihan dan meningkatkan keingingan untuk menggunakan obat-obatan lainnya yang justru bukan menyembuhkan tapi akan memperparah penyakit yang diderita atau menimbulkan penyakit baru. Dampak kesehatan yang sering kita dengar dari penggunaan ganja ini yakni rusaknya saraf otak, serangan jantung, osteoporosis dan lainnya. Jelas, banyak mudarat yang ditimbulkan dari barang haram ini.

Islam akan mampu terterapkan di dalam seluruh aspek kehidupan bila adanya institusi negara yang dipangku oleh seorang khalifah. Khalifah sebagai pemimpin dan peri’ayah ummat (pengurus urusan ummat) akan senantiasa menjadikan aturan Allah menjadi tolak ukur kebijakan. 

Bukan mementingkan keuntungan pribadi atau kelompok seperti sistem kapitalis. Tentulah hal ini adalah hukum yang adil dan akan membawa kemashlahatan bagi masyarakat luas. Sehingga akan menghantarkan pada kesejahteraan hakiki di seluruh negri. Wallahua’lambisshowab.

Oleh: Qisti pristiwani
Mahasiswi UMN AW

Posting Komentar

0 Komentar