TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Polemik Ganja dalam Pusaran Komoditas Obat




Kementerian Pertanian (Kementan), memasukkan tanaman ganja ke dalam daftar komoditas binaan tanaman obat. Daftar tersebut termuat dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 14/KPTS/HK.140/M/2/2020, tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian yang ditandatangani Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sejak 3 Februari. Untuk diketahui, ganja berada dalam satu kelompok dengan 65 tanaman obat lainnya seperti lempuyang, brotowali, sambiloto dan kratom. Meski masuk kategori tanaman obat, ganja tetap ilegal untuk dibudidayakan tanpa izin pemerintah. 

Sementara dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ganja tergolong narkotika golongan 1 bersama dengan sabu, kokain, opium, dan heroin yang Izin penggunanya hanya diperbolehkan dalam hal-hal tertentu seperti pengobatan medis.  Bagi siapa saja yang memproduksi, atau mendistribusikan narkotika golongan ini akan diancam hukuman pidana penjara hingga maksimal seumur hidup atau hukuman mati. Sementara bagi penyalahguna diancam pidana paling lama 4 tahun. 

Sementara itu, menurut Direktur Sayuran dan Tanaman Obat kementan Tommy Nugraha, pengaturan ganja sebagai kelompok komoditas obat hanya dilakukan bagi tanaman ganja yang ditanam untuk kepentingan pelayanan medis dan atau ilmu pengobatan, dan secara legal oleh UU Narkotika. Namun, karena sampai saat ini belum dijumpai satu pun petani ganja yang menjadi petani legal dan binaan kementerian, maka Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memutuskan untuk mencabut sementara Kepmentan Nomor 104 Tahun 2020 tentang pemberian izin usaha budidaya tanaman yang telah diterbitkan untuk direvisi dengan stakeholder terkait.

Marijuana, atau yang dikenal sebagai ganja ini jika digunakan akan memberikan efek yang bervariasi kepada para penggunanya, tergantung dari dosis yang dipakai, cara penggunaan, pengalaman sebelumnya, penggunaan obat lain secara bersamaan, suasana hati, dan lingkungan sosial. Beberapa efek yang muncul adalah kondisi kesadaran yang berubah seperti perubahan mood yang sangat gembira, santai, dan tanpa hambatan. 

Lebih sensitif terhadap hal-hal disekitarnya, peningkatan denyut nadi dan detak jantung, koordinasi dan konsentrasi yang terganggu, cemas, panik, halusinasi, delusi, bahkan psikosis bila digunakan dalam dosis yang tinggi (Drugs.com). Untuk efek jangka panjang, ganja dapat mempengaruhi perkembangan otak dengan mengganggu fungsi berfikir, memori, dan belajar. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan di Selandia Baru menunjukkan bahwa seseorang yang menggunakan ganja di usia remaja akan kehilangan rata-rata 8 poin IQ antara usia 13 dan 38 (www.drugabuse.gov).

Meski keputusan ini sementara dicabut dan direvisi, namun rakyat terlanjur resah dengan adanya keputusan tersebut dibuktikan dari adanya pemusnahan sejak April 2018 pada 100 batang ganja yang ditanam di kebun di Desa Ujung Blang Dusun Kuala Mamplam Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe akibat adanya laporan dari warga setempat (Dialeksis.com). 

Selain itu, baru-baru ini juga terjadi pemusnahan pada 15 hektare ladang ganja di kawasan Lamtueba Droe, Kecamatan Seulimuem, Kabupaten Aceh Besar. yang dipimpin Kapolda Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada M Phill, PJU Polda Aceh, bersama jajarannya (aceh tribunnews.com 20/7). Hal serupa juga terjadi di Jawa Barat, dimana Satuan Reserse Narkoba Polresta Cimahi menemukan ladang ganja seluas 1 hektare di Gunung Cibodas, kawasan Bukit Tunggul, perkebunan Kina, Kampung Patrol, Desa Sunten Jaya, Lembang, Minggu 12 Juli 2020. Di wilayah lainnya, Kepolisian Resor Kota Cimahi juga berhasil menangkap lima orang yang terlibat dalam peredaran narkoba jenis ganja. Polisi mengatakan dari hasil ladang ganja itu, tersangka setiap tiga bulan bisa menghasilkan 40 kilogram ganja, atau sekitar 1.000 hingga 2.000 batang ganja. Kemudian, satu kilo ganja menurutnya bisa dijual senilai Rp 6 juta. Maka jika pelaku telah empat kali panen dengan hasil 40 kg mereka telah meraup sekitar 960 juta. (bogor.pikiran-rakyat.com 13/07). 

Hal ini menunjukkan, tanpa adanya izin resmi dari pemerintah sudah banyak ditemukan ladang ganja di berbagai daerah beserta pengedar dan jual belinya. Apalagi jika ada izin legal dari pemerintah, maka akan sangat rawan untuk disalah gunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Sistem Kapitalisme akan sulit meninggalkan apa pun yang berhubungan dengan uang. Bisnis narkoba diakui sangat menggiurkan dan berpeluang mendatangkan limpahan rupiah. Karenanya, keberadaannya seolah dipertahankan salah satunya dengan memasukkan ganja kedalam komoditas tanaman obat. Sistem sekuler tidak mampu menghasilkan kebijakan yang menjamin terwujudnya rasa aman sekaligus kemaslahatan fisik. Seharusnya dalam mengambil kebijakan, pemerintah lebih memikirkan dampak jangka panjang terhadap negeri ini, dan setiap kebijakan harus bisa menghasilkan kemaslahatan tanpa menimbulkan kekhawatiran dan dampak buruk terhadap masyarakat. 

Berbeda dengan sekularisme-kapitalisme, Islam tegas mengharamkan narkoba dan akan menghilangkan peredarannya di tengah masyarakat. Ada yang mengharamkan karena meng-qiyas-kannya pada keharaman khamr (QS Al-Maidah: 90). Sebagian lainnya mengharamkan karena narkoba termasuk barang yang akan melemahkan jiwa dan akal manusia. Pendapat ini berdasarkan hadis dengan sanad sahih dari Ummu Salamah, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)”. Islam menetapkan sanksi tegas terhadap pelanggar hukum yang akan membahayakan akal dan jiwa manusia. 

Sanksi bagi mereka yang menggunakan narkoba adalah ta’zir, yaitu sanksi yang jenis dan kadarnya ditentukan Qadhi, misalnya dipenjara, dicambuk, dan sebagainya. Sanksi ta’zir dapat berbeda-beda sesuai tingkat kesalahannya. (Saud Al Utaibi, Al Mausu’ah Al Jina`iyah Al Islamiyah, 1/708-709; Abdurrahman Maliki, Nizhamul Uqubat, 1990, hlm. 81 & 98). Maka masalah ini tidak mungkin selesai selama sistem yang melahirkannya tetap diterapkan. Satu-satunya solusi menyelamatkannya adalah dengan mengganti sekularisme-kapitalisme dengan sistem Islam dalam institusi Khilafah.[]

Oleh: Adelia Firanda

Posting Komentar

0 Komentar