TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Perempuan dan Pundi-Pundi Rupiah

Perempuan merupakan sosok yang tak membosankan untuk dibahas. Terlebih di masa pandemi yang entah kapan berakhirnya, peran perempuan dinilai sistem sekuler kapitalis mempunyai andil besar. "Perempuan menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya berhenti bekerja, diisolasi, atau meninggal dunia karena COVID-19," kata Indra Gunawan Deputi Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam seminar daring tentang pemberdayaan ekonomi perempuan yang diliput secara daring dari Jakarta (Antaranews.com, Rabu 9 September 2020)

Bahkan kalangan artis pun dilibatkan untuk memberikan dukungan pada para perempuan pekerja. Sebagaimana yang dilakukan artis Maudy Ayunda sebagai salah satu BrandAmbassador LUX yang memberikan apresiasi berupa donasi sebanyak 1.000 paket beauty kit pada bagi para wanita yang bekerja difrontliner maupun street workers. Menurutnya, di masa pandemi ini, para street workers inilah yang bisa dibilang sebagai #BintangMasaKini. (Wartajakarta.com, Senin 24 Agustus 2020)

Yang terbaru, partisipasi Indonesia dalam perayaaan Hari Kesetaraan Upah (18 September), yang dirasa akan memberikan "angin segar" bagi perempuan yang mana upah kerjanya masih sangat rendah. Menurut data global yang dirilis oleh UN Women menunjukkan bahwa perempuan masih dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, dengan perkiraan kesenjangan upah sebesar 16 persen. Sedangkan di Indonesia sendiri, data menunjukkan perempuan memperoleh pendapatan 23 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki. (Kumparan.com, Sabtu 19 September 2020)

Perempuan dan Kapitalisme

Kapitalisme sebagai sistem yang mengagungkan materi (uang) dan mengabaikan peran syariah Islam, telah nyata menyeret perempuan menjadi "garda terdepan" untuk memenuhi pundi-pundi rupiah keluarga.  Tugas tambahan inipun harus dipikul bersamaan dengan tugas utama sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Berbagai kebijakan yang ditelurkan pemerintah pun memberikan harapan agar perempuan tak perlu mengkhawatirkan kesenjangan upahnya. Hingga demi mendapatkan rupiah, para ibu pekerja ini rela menghilangkan hambatan (peran domestik). Namun, benarkah saat perempuan terlibat aktif dalam penggemukan pundi-pundi rupiah, maka kesejahteraan otomatis akan bisa diraih?. Atau justru menambah rumit masalah yang ada?. 

Mulianya Perempuan dalam Islam

Sebagai Din yang diturunkan Sang Pencipta Alam Semesta, Islam telah nyata menjamin kesejahteraan tak hanya perempuan, namun juga kesejahteraan seluruh penduduk baik laki-laki, perempuan, anak-anak, orang lanjut usia baik Muslim maupun ghoiru Muslim.

Bagaimanakah mekanisme Islam dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya?. 
Pertama, menerapkan syariah kaffah, dan menempatkan kewajiban dan hak manusia sebagaimana tuntunan Allah Ta'ala. Dalam Islam, laki-laki dan perempuan mempunyai amanah yang sudah diatur dengan sangat baik. Misalkan laki-laki bertanggung jawab dalam hal mencari nafkah. Sedangkan perempuan bertanggung jawab dalam urusan domestik  mendidik anak dan mengatur urusan rumah tangga. Terlaksananya peran ini harus benar-benar dipantau oleh negara sebagai perwujudan ibadah kepada Allah Ta'ala. Jika ada kewajiban yang tidak dijalankan, maka tugas negara adalah memberikan pendidikan, pendampingan dan sanksi sesuai dengan pengabaian amanah.

Kedua, pengaturan ekonomi negara sesuai Islam. Agar rakyat sejahtera, tentu ikhtiarnya adalah dengan mengatur ekonomi negara sesuai dengan pengaturan Sang Khalik. Sebagaimana dituliskan dalam buku Sistem Ekonomi Islam, ada beberapa bab yang dibahas diantaranya : sebab-sebab kepemilikan, mekanisme pengelolaan harta, perdagangan dan industri, kepemilikan umum, kepemilikan negara, baitul mal, distribusi kekayaan di tengah-tengah manusia, uang, perdagangan luar negeri dan bab menarik lainnya. Semua ini seharusnya dikembalikan lagi ke bagaimana Islam menuntaskan. Sehingga masalah yang ada tidak makin rumit, dan bisa tuntas diselesaikan sampai ke akarnya dengan syariah Islam. 

Sebagai contoh nyata dari jaminan kesejahteraan yang diberikan pada masa peradaban Islam, bisa dilihat dalam buku Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia karya Prof. Dr. Raghib As-Sirjani halaman 544, "sistem perekonomian Islam merupakan sistem yang belum pernah dikenal dalam peradaban lain, merupakan sistem yang paling awal dalam hal pengaturan pendapatan dan pendistribusian harta benda yang dimiliki negara. Pendapatan dan pendistribusian Baitul Mal ini dimaksudkan untuk menghadapi bahaya yang sewaktu-waktu menyerang negara seperti bencana alam, kekeringan, dan kelaparan atau paceklik yang berkepanjangan, dan menyebarnya wabah penyakit yang mematikan".

Umat Islam telah mendirikan Baitul Mal ini sejak masa Rasulullah saw. Pada waktu itu Rasulullah saw mengangkat para gubernur dan pegawai-pegawainya di wilayah-wilayah kekuasaan, dimana masing-masing gubernur bertugas mengumpulkan harta sedekah, pajak, pembagian ghanimah, upeti, dan seringkali Rasulullah saw mengirim para petugas khusus untuk menangani bidang keuangan ini. (Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia hlm.545)

Manusia diberikan Allah Ta'ala anugerah akal untuk berpikir. Berpikir apakah solusi sistem sekuler kapitalis saat ini sudah memberikan kesejahteraan bagi perempuan khususnya dan manusia pada umumnya. Ataukah justru sistem sekuler kapitalis semakin menjerat perempuan hanya sebagai "penghasil pundi-pundi rupiah", tentunya dengan rayuan kapitalis-nya yang tak pernah terwujud.

Saatnya kita berpikir lurus dan jernih untuk mengambil solusi yang solutif bagi kehidupan. Apalagi kalau bukan kembali dan menjadi sebenar-benarnya hamba Allah dengan tunduk pada semua syariahNya. Karena terbukti hanya dengan Islam yang diterapkan negara, maka kesejahteraan dan perlindungan pada manusia benar-benar bisa terwujud. Perempuan butuh khilafah sebagai institusi penerap syariah kaffah. Perempuan butuh Islam kaffah yang terbukti memberikan jaminan ketenangan hidup sejak masa Rasulullah saw. Tidakkah kita rindu dengan sistem Islam?. 

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (Terjemahan surah Al-Fatihah ayat 5-7).[]

Oleh: Dahlia Kumalasari, Pendidik

Posting Komentar

1 Komentar