TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pentingnya Pelajaran Sejarah Bagi Generasi Suatu Bangsa

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim membantah isu penghapusan mata pelajaran sejarah. Nadiem menyebut, tidak ada kebijakan penghapusan pelajaran sejarah di kurikulum nasional.

Nadiem menjelaskan, saat ini sedang ada pengkajian untuk penyederhanaan kurikulum. Namun, tidak ada penghapusan mata pelajaran sejarah. Penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Perlu uji coba kepada beberapa sekolah, namun tidak secara nasional. (detiknews.com, 20/9/2020)

Pembelajaran sejarah sejatinya dapat menjadi  instrumen strategis untuk membentuk identitas dan karakter generasi muda sebagai penerus bangsa.

Pembelajaran sejarah juga dapat meningkatkan apresiasi terhadap karya para pendahulu, memberikan perspektif  dan ukuran untuk menilai perjalanan bangsa.  

Setiap bangsa pasti memiliki memori peristiwa sejarah baik peristiwa yang kelam ataupun peristiwa sejarah yang menjadikan bangsa itu besar.

Sejarah kelam seperti Gerakan 30 September PKI yang sering di singkat G30S PKI, pernah dialami bangsa ini. Peristiwa sejarah ini bukan hanya melenyapkan para pejabat pemerintah pusat tetapi juga penduduk biasa terutama para ulama- ulama tradisionalis, santri dan lain-lain yang dikenal karena keshalihan mereka kepada Islam. Mereka dianiaya, disayat-sayat dengan silet, disiksa dengan keji hingga ditembak sampai mati.

Para generasi harus memahami peristiwa yang mengerikan ini? Atau bagaimana sejarah masuknya ke kekhilafahan Islamiyah sejak Dinasti Abbasiyah dan Kesultanan Turki Utsmaniah yang membawa keberkahan bagi negeri ini yang buktinya sampai sekarang pun masih ada.

Dengan penyampaian sejarah secara benar(jujur) maka generasi tidak akan  kehilangan memori tentang jasa ulama bagi negeri atau  tragedi kekejaman PKI. 

Artinya sejarah memuat berbagai informasi yang penting bagi para generasi seperti karakteristik suatu peradaban manusia, para pelaku sejarah maupun para pemimpin suatu bangsa. Sehingga dengan mempelajari sejarah para generasi memiliki informasi terdahulu mengenai peristiwa yang pernah terjadi. Inilah urgensitas mempelajari sejarah bagi keberlangsungan kehidupan bangsa dan generasi. 

Bahkan Alquran pun menyebut kepentingan untuk mempelajari sejarah. Karena dalam sejarah terdapat ibroh dari setiap peristiwa. Allah Swt. berfirman dalam alquran surat Yusuf ayat 111 

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ ٱلَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Posisi Pendidikan Sejarah Dalam Islam

Pertama, sejarah akan diposisikan sebagai salah satu mata pelajaran yang penting untuk diajarkan kepada generasi.

Dalam Islam, sejarah dipandang sebagai bagian tsaqofah yaitu informasi atau pengetahuan- pengetahuan yang dipengaruhi oleh akidah dan pandangan hidup. Artinya dalam mempelajari sejarah umat Muslim harus menjadikan akidah Islam sebagai standar. 

Jika bertentangan dengan akidah maka seorang Muslim tidak boleh mengambilnya dan meyakininya dan sebaliknya jika tidak bertentangan dengan akidah, maka seorang muslim boleh mengambilnya dan meyakininya.

Namun tidak ada larangan untuk mengenal suatu akidah dan pengetahuan lain yang bertentangan dengan akidah Islam dan menyimpang dari pemikiran- pemikiran yang terpancar dari akidah Islam untuk membantahnya dan mengambil sikap syar'i terhadapnya.

Paradigma mengenai sejarah yang seperti ini tidak bisa diwujudkan kecuali dalam sebuah negara Islam yakni Khilafah. 

Kedua, Negara akan memfalidasi jalur-jalur sejarah beserta informasinya. Negara khilafah akan menunjuk para ahli sejarah, sirah, hadist dan keahlian terkait untuk melakukan riset sejarah. Sehingga sejarah yang diajarkan kepada generasi adalah sejarah yang benar.

Selain itu, hasil riset sejarah akan menjadi dokumen politik dan hukum negara, maka hasil riset harus memuat dua hal;

Pertama, memuat aturan Islam dalam segala hal baik yang menyangkut individu, masyarakat maupun negara.

Kedua Memaparkan bagaimana sistem Islam yakni khilafah diterapkan dalam mengatur urusan umat seperti ekonomi, politik, pergaulan dan lainnya yang hal tersebut tidak mungkin dapat diterapkan kecuali dengan negara.

Ketiga, dalam kurikulum sistem pendidikan negara khilafah, sejarah termasuk bagian dari tsaqofah Islam selain Alquran, akidah, fiqih, sunnah Nabi dan pemikiran-pemikiran dakwah.

Oleh karena itu sejarah akan diajarkan kepada seluruh anak didik dan disesuaikan dengan jenjang pendidikannya.

Untuk jenjang pendidikan dasar, menengah dan atas. pengajaran sejarah dimaksudkan untuk menancapkan pemahaman Islam tentang kehidupan. Maka sejarah yang diajarkan akan ditekankan pada aspek keberanian yang menonjol pada orang-orang yang mempunyai kepribadian Islam seperti para sahabat, tabi'in dan orang-orang yang akan datang setelah mereka dari kalangan penguasa dan ulama.

Misalnya peranan Abu Bakar ra. dalam membela Rasulullah Saw., peranan Umar bin Khattab ra.pada saat hijrahnya, Usman bin Affan ra. dengan kedermawanannya, Ali bin Abi Thalib ra. dengan keberaniannya, Bilal dengan kesabaran dan daya tahannya menanggung penderitaan, Imam Syafi'i dengan fiqihnya, Imam Ahmad bin hambal dengan ketegasan dan keberaniannya dan masih banyak lagi. 

Adapun dalam jenjang perguruan tinggi, sejarah akan digunakan untuk memahami pola pikir bangsa-bangsa dan umat- umat lain untuk kepentingan interaksi dan pengembangan dakwah Islam kepada mereka.

Alhasil generasi yang dihasilkan dalam sistem pendidikan Islam adalah generasi yang politis dalam memandang sejarah. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya?[]

Oleh: Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar