TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Penodaan Al Quran: Mengapa Kelompok Anti-Islam Semakin Berani Merendahkan Islam?



Dikutip melalui Republika.co.id (31/8/2020), hariJumat lalu, kekerasan meletus di kota Malmo Swedia. Kala itu lebih dari 300 orang berkumpul untuk memprotes kegiatan anti-Islam.

Seperti dilansir dalam sebuah artikel di laman indianexpress.com, aksi demonstrasi merebak setelah salinan Alquran dibakar di Malmo pada hari Jumat itu oleh anggota partai sayap kanan garis keras Denmark, Stram Kurs.

Sebelumnya, pada hari itu juga, pemimpin partai sayap kanan yang dikenal anti Islam dan kaum imigran, Rasmus Paludan, ditolak izinnya oleh pihak berwenang Swedia untuk mengadakan pertemuan di Malmo. Rencannya Paludan akan bicara dengan topik "Islamisasi di negara-negara Nordik". 

Surat kabar Swedia Aftonbladet pun melaporkan kala itu Alquran akan dibakar. 
Paludan diundang oleh artis dan provokator Swedia Dan Park, yang sebelumnya dihukum karena menghasut kelompok etnis.

Tak hanya di Swedia, dilansir via Republika.co.id (30/8/2020) ketegangan memuncak di Ibu kota Norwegia, Oslo ketika seorang pengunjuk rasa anti-Islam merobek-robek halaman-halaman Alquran. Kepolisian Norwegia sampai menembakkan gas air mata untuk memisahkan dua kelompok yang bentrok.

Sedikitnya ada 30 orang yang ditangkap polisi Norwegia. Akibat bentrokan itu, unjuk rasa anti-Islam di Oslo pada Sabtu (29/8) membuat acara itu diakhiri lebih awal dari jadwalnya. Seperti dilansir Deutsche Welle (DW) pada Ahad (30/8), unjuk rasa anti-Islam itu diorganisir kelompok Stop Islamisasi Norwegia (SIAN). Unjuk rasa berlangsung di dekat gedung parlemen Norwegia.

Sementara itu dilaporkan kantor berita DPA ratusan pengunjuk rasa lainnya juga berkumpul dengan meneriakkan tidak ada rasis di jalanan kami. Situasi ini pun memuncak ketika seorang wanita yang merupakan anggota SIAN merobek halaman Alquran dan meludahinya. Wanita itu sebelumnya pernah didakwa kemudian dibebaskan atas ujaran kebencian. Dalam unjuk rasa itu, wanita tersebut mengatakan pada para pengunjuk rasa "lihat sekarang saya akan menodai Alquran,"

Bentrokan pun tak dapat terhindarkan antara pengunjuk rasa anti-Islam yang dimotori SIAN dengan kelompok yang kontra. Kelompok yang kontra melemparkan telur kepada anggota SIAN dan mencoba melompati barikade polisi. Beberapa pengunjuk rasa bahwa menendang van polisi ran menaiki kap kendaraan polisi.

Hal tersebut langsung mendapatkan kecaman dan kutukan dari umat Islam. Termasuk umat Islam di Indonesia mengutuk dan mengecam tindakan pembakaran Al Qur'an itu.


Penyebab Aksi Penodaan Al Quran di Negara-negara Eropa, Khususnya Swedia dan Norwegia

Dikutip melalui Republika.co.id (30/8/2020), Jumat malam lalu Malmo yang merupakan ibu kota Swedia rusuh. Dipicu oleh aksi pembakaran Al Qur'an. Dunia pun terkejut. Mengapa? Ini karena selama ini Swedia adalah negara yang termasuk paling makmur di Eropa yang dengan tangan terbuka menerima kedatangan pengungsi dari negara berpenduduk Muslim akibat perang di Timur Tengah. Selama ini mereka aman dan nyaman di sana. Tak ada gangguan apa pun.

Namun, utamanya pada dua dekade terkahir, khususnya dua tahun terakhir, terlihat ada perubahan sikap dari masyarakat negara itu, sebagai umumnya sikap orang Eropa lainnya. Mereka melihat imigran Muslim adalah biang segala masalah. Maka mau tidak mau identitas Islam ikut terbawa. Akibatnya, secara perlahan --bahkan semakin kuat -- Islamofobia menguat di negara itu dan juga di negara Eropa lainnya.

Tak hanya di Swedia, negara sebelah yaitu Norwegia juga terjadi kerusuhan karena aksi pelecehan terhadap Al Qur'an. Diduga kuat dua aksi yang terjadi di benua Eropa ini karena merebaknya Islamofobia.
 
Adanya soal ini jelas memantik perhatian berbagai pihak. Salah satunya adalah Narzanin Massoumi. Dia dosen di University of Exeter di Inggris dan co-editor “What Is Islamophobia? Racism, Social Movements and the State.” Dia di harian The New York Times menulis opini bertajuk: "Why Is Europe So Islamophobic?" dengan sub judul: "The attacks don’t come from nowhere". Tulisan ini dimuat pada awal Maret 2020 silam.

Massoumi menuliskan, pada Februari (2020) terjadi serangan terhadap Muslim di Eropa, satu di Hanau di Jerman, yang lainnya di London, terjadi dalam waktu 24 jam satu sama lain. Meski situasinya berbeda - penyerang di Hanau meninggalkan "manifesto" yang penuh dengan teori konspirasi sayap kanan, sementara motivasi penyerang London kurang pasti - sasarannya sama: Muslim.

Kedua peristiwa itu menambah daftar serangan kekerasan terhadap Muslim di seluruh Eropa. Pada tahun 2018 saja, Prancis mengalami peningkatan 52 persen insiden Islamofobia; di Austria terjadi kenaikan sekitar 74 persen, dengan 540 kasus.

Puncak dari satu dekade serangan yang terus meningkat terhadap Muslim, tokoh-tokoh seperti itu mengekspresikan antipati yang meluas terhadap Islam. Empat puluh empat persen orang Jerman, misalnya, melihat "kontradiksi mendasar antara Islam dan budaya serta nilai-nilai Jerman".

Di seluruh Benua, organisasi dan individu Islamofobia telah mampu memajukan agenda mereka. Gerakan jalanan Islamofobia dan partai politik menjadi lebih populer. Dan ide-ide mereka telah dimasukkan ke dalam --dan dalam beberapa contoh diberikan oleh-- mesin negara modern, yang mengawasi dan mengawasi Muslim, menjadikan mereka sebagai ancaman bagi kehidupan bangsa.

Dari tulisan Massoumi mengkonfirmasi bahwa Islamofobia adalah penyebab utama munculnya penistaan dan pelecehan terhadap Al Qur'an, ajaran Islam, maupun umat Islam. 

Padahal hal tersebut terjadi di negara yang mengagung-agungkan HAM, tapi anehnya HAM tidak berlaku untuk umat Islam. Umat Islam seolah tidak mendapat pembelaan jika agamanya dinista dan dirinya dianiaya akibat akidahnya.

Hal serupa juga pernah terjadi pada tahun 2010 di Negeri Ratu Elizabeth sendiri yang katanya mengagungkan kebebasan dan toleransi, saat para pengikut Pendeta Terry Jones membakar Al Quran sebagai ekspresi peringatan atas peristiwa 911.
 
Bahkan, di Negeri mayoritas muslim Indonesia, hal yang demikian juga pernah terjadi meskipun dalam bentuk yang lain yaitu penistaan terhadap Al Qur’an khususnya surat Al Maidah: 51 yang akhirnya menjadi pemantik lahirnya peristiwa 212 yang fenomenal.

Peristiwa penistaan terus berulang, khususnya  yang menyasar kitab suci umat Islam. Hal ini telah mengkonfirmasi kepada kita sebagai berikut.

Pertama, kebencian kepada Islam dan umat Islam itu nyata. Peristiwa pembakaran Al Qur’an merupakan sebagian dari ekspresi ketidaksukaan pada Islam dan umatnya atau yang dikenal dengan islamophobia. 

Islamofobia radikal lebih tepatnya, karena kebencian mereka yang mengakar dan berani mengekspresikannya. Adanya islamophobia radikal itu ada dan nyata. 

Bahkan sedari dulu sudah diingatkan langsung oleh Alloh SWT dalam surat Al Baqoroh ayat 120 dimana Alloh SWT berfirman yang artinya “orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. 

Kedua , hilangnya penjaga kehormatan dan kemuliaan Islam dan kaum muslimin yaitu Khilafah Islam. Mengapa kelompok anti Islam sedemikian berani mengekspresikan kebenciannya terhadap Islam? Mengapa urat nadinya seolah terputus, tidak ada rasa takut sama sekali menghina Islam dan umatnya ? 

Hal yang demikian tidak akan terjadi pada masa Rasulullah SAW. Apalagi ketika Rasulullah SAW telah menjadi kepala negara dalam institusi daulah Khilafah Islamiyyah. 

Rasulullah SAW telah memberikan contoh nyata bagaimana kehormatan Islam dan kaum muslimin harus dilindungi. 

Tatkala ada peristiwa tersingkapnya aurat seorang muslimah yang dilakukan oleh orang Yahudi Bani Qoinuqo’, Rosululloh SAW bertindak tegas dengan melakukan pengusiran kaum Yahudi tersebut dari Madinah. 

Hal yang demikian juga dipraktikkan oleh penguasa muslim selanjutnya seperti ancaman tegas bagi Prancis dan Inggris oleh Khalifah Abdul Hamid yang akan mengobarkan jihad. 

Tatkala akan diadakannya pertunjukan theater di negeri tersebut yang isinya adalah penghinaan terhadap Rasulullah SAW. Mereka gentar dengan ancaman tersebut yang pada akhirnya berujung pada pembatalan.

Tak ada junnah atau perisai yaitu Khilafah adalah penyebab utama maraknya penistaan dan pelecehan yang menimpa umat Islam di berbagai belahan dunia. Tak hanya penistaan tapi umat Islam juga dizalimi oleh kaum kafir harbi dengan sistem kufur yang mereka terapkan.

foto: Republika.co.id

Pengaruh dan Akibat dari Aksi Penodaan Al Qur'an terhadap Kerukunan Umat Beragama dan Keamanan Negara

Belum juga kapok dan menyesal, dilansir melalui republika.co.id (2/9/2020), pemimpin partai Garis Keras anti-Islam Swedia Rasmus Paludan mengancam jika pembakaran Alquran akan terus berlanjut. Ancaman itu dia lontarkan, menyusul dalih dan permintaanya agar perusuh yang mayoritas Muslim bisa berperilaku sebagaimana ‘masyarakat beradab.’’  

Lebih lanjut, pihaknya juga mengklaim tidak merasa terganggu dengan adanya ratusan Muslim Malmö yang tersulut atas pembakaran tersebut. Sebaliknya, partai garis keras itu menegaskan akan membakar Alquran kembali di distrik Rosengård, daerah Muslim yang mayoritasnya adalah keturunan imigran.  

Pemimpin partai Rasmus Paludan, awalnya diketahui akan membakar Alquran lagi. Namun, dirinya dilarang masuk ke Swedia selama dua tahun karena ada ancaman serius bagi keamanan nasional Swedia.    

Dia mengklaim, jika hal itu terus terjadi, maka masa depan yang suram akan terjadi di Skandinavia. Sehingga, pihaknya berjanji akan melanjutkan pembakaran Alquran di Swedia.    

Paludan adalah pengacara Denmark yang menjadi politisi dan mendirikan partai Garis Keras etno-nasionalis pada 2017 lalu dan dikenal karena membuat video anti-Muslim di YouTube. Pembakaran Alquran olehnya, diklaim sebagai kebebasan berpendapat.

Gerakan anti-Islam yang dipimpin Paludan memang sengaja melakukan penodaan pada Islam dengan dalil kebebasan berpendapat. Selain itu, dia juga menganggap bahwa berkembangnya Islam di Eropa adalah ancaman. Sehingga dia dan kelompoknya bebas menodai agama Islam.

Paludan dan kelompoknya berjanji akan melakukan penodaan lagi. Aksi ini jelas akan memicu kerusuhan lagi.

 Apalagi posisi aparat tidak mampu menghentikan aksi penodaan terhadap Islam di sana. Aparat hanya meredakan kerusuhan, tidak ada solusi untuk menindak tegas para penoda Islam. Lumrah jika umat Islam di sana marah.

Aksi pembakaran Al Qur'an di Swedia dan Norwegia langsung medapat kecaman dari berbagai pihak. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk keras aksi sobek dan bakar Al Qur'an di Norwegia dan Swedia. Aksi tersebut merusak nilai dan budaya bangsa Eropa yang menjungjung tinggi kebebasan beragama dan hak asasi manusia (HAM).

Haedar Nasir Ketua PP Muhammadiyah juga mengecam aksi pembakaran dan penghinaan tersebut. Haedar menyebut aksi ini menunjukkan sikap Islamofobia yang buruk du era modern saat ini.

Wasekjen PPP, Achmad Baidowi (Awiek) mendesak pemerintah mempersoalkan ke forum internasional PBB. GNPF-U Sumut juga meminta pemerintah tidak mendiamkan soal penistaan ini.

Kecaman dan kutukan tidak hanya datang negeri ini. Dari negeri Islam lainnya juga mengutuk dan mengecam tindakan penistaaan pembakaran Al Qur'an tersebut. Ada beberapa yang dapat dibaca dalam kasus penodaan ini, sebagai berikut.

Pertama, umat Islam di dunia hanya bisa mengutuk dan mengecam tindakan vandalisme penodaan Islam, khususnya Al Qur'an yang dilakukan kelompok islamofobia radikal tersebut. Tak ada yang berani mengirimkan pasukannya untuk menuntut keadilan terhadap penistaan yang mereka lakukan.

Kedua, pihak aparat di Eropa hanya mampu meredakan kerusuhan. Atas dalil kebebasan berpendapat dan berekspresi, aparat tidak mampu memberikan hukum jera bagi pelaku penoda Islam di sana. Inilah kibat dari sistem sekuler yang diterapkan di sana. Jika pihak Islam yang kebebasan beragama terancam, tidak ada gembar-gembor HAM yang disuarakan untuk membela umat Islam yang dinodai, dilecehkan, atau dihina.

Ketiga, bukti bahwa kerukunan umat beragama tidak mampu diwujudkan dalam sistem kapitalisme sekuler. Mereka memang mejunjung tinggi HAM dan demokrasi. Hanya saja, HAM dan demokrasi tidak ada untuk membela umat Islam. Jika yang terbungkam adalah kebebasan beragama umat Islam, HAM membisu. Akibatnya begitu banyak para penista Islam, kelompok anti-Islam, dan islamofobia radikal yang lahir dari sistem kapitalisme sekuler atas dalil kebebasan.

Inilah bentuk lemahnya umat Islam tanpa perisai yaitu Khilafah. Ada yang mengusulkan untuk membawa masalah ini ke pihak internasional yaitu PBB. Tapi, akankah masalah ini dibawa ke sana? Apakah PBB mampu memberi balasan yg adil terhadap pelaku penistaan tersebut? Nyatanya PBB hanya mengecam dan mengutuk tindakan tersebut. Tak ada sanksi jera bagi para penista Islam di dunia.

Selama ini PBB hanya dijadikan alat kaum kafir harbi fi'lan (kaum kafir yang memusuhi umat Islam) untuk memuluskan kepentingan mereka menjajah negeri-negeri Muslim. Nyatanya PBB memang tidak pernah sedikit pun menunjukkan sikap pembelaan terhadap umat Islam.

Dari kasus muslim Rohingya, muslim Uyghur, muslim Khasmir, PBB hanya beretorika tentang kemanusiaan tanpa bukti yang nyata. Wajar, jika PBB tidak bisa diharapkan menyelesaikan masalah ini.

 Seharusnya umat Islam menyadari bahwa mereka butuh institusi yang mampu melindungi dan menjaga kehormatan dan kemuliaan Islam yaitu khilafah. Karena, hanya Khilafah yang bisa membuat perhitungan kepada para penista Islam.


foto: mercusuarumat.com

Strategi Menjaga Kemuliaan dan Kehormatan Al Qur'an dalam Perspektif Syariat Islam

Al Quran adalah kitab suci umat Islam. Kitab suci yang dijaga kemurniannya langsung oleh Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al Hijr ayat ke 9 yang artinya: “Sungguh kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan sungguh kami benar-benar menjadi pemeliharanya”. 

Dengan ayat tersebut, sejak pertama kali Al Qur’an turun ke bumi, sampai detik ini, bahkan sampai hari kiamat kelak, kemurniannnya akan senantiasa terjaga. Usaha-usaha manusia untuk merusak kemurnian akan berhadapan langsung dengan Allah SWT Dzat pemilik kalam-kalam yang tidak ada keraguan sedikitpun atas kebenaran isinya. 

Seorang muslim pun harus berbangga dengan Al Qur’an sebagai kitab sucinya. Aqidah Islam yang tertanam dalam jiwanya harus memancarkan ghiroh untuk mempelajari, mengamalkan, mendakwahkan, dan membelanya tatkala ada yang melecehkannya.

Sebagaimana Imam Nawawi (w.676 H) dalam At Tibyan menuliskan bahwa para salafus salih memberikan keteladanan dalam berinteraksi dengan Al Qur’an yang ditandai dengan besarnya perhatian dalam mempelajari, mentadaburi, mengamalkan, mendakwahkan, dan membela Al Qur’an dari segala bentuk penyimpangan.


Dikutip via laman dalamislam.id, Al Quran adalah kitab suci umat Islam yang tidak ada celah apapun padanya. Kitab ini mulia dan merupakan kitab yang berisi firman Allah. Allah pun menantang orang-orang yang tidak beriman pada Al Quran untuk membuat yang serupa dengannya, namun tidak akan ada seorang pun yang mampu. 

Hal ini membuktikan betapa sempurna dan agungnya kitab Al Quran ini. Tidak hanya itu, Al Quran juga merupakan petunjuk utama bagi setiap muslim dalam menjalani hidupnya. Di dalamnya berisi banyak perintah dan larangan serta hikmah yang bisa kita ambil sebagai panduan hidup kita.

Melihat begitu pentingnya Al Quran, maka tidak heran bahwa setiap muslim wajib memuliakan dan mengimaninya. Bahkan, beriman pada Al Quran merupakan salah satu rukun iman umat Islam, jika kita meninggalkannya maka tidak sempurna pula keislaman kita. 

Menurut kesepakatan para ulama, siapa pun yang menghina Al Quran, terlebih menghina atau mengatakan bahwa isi Al Quran terdapat kebohongan, maka orang tersebut bukan Islam atau telah keluar dari Islam. 

Imam an Nawawi menyatakan dalam ‘At Tibyan fi Adaabi Hamaalatil Qurán’, “Para ulama telah bersepakat akan wajibnya menjaga Mushaf Al Quran dan memuliakannya.” Para ulama mazhab Syafií juga berkata dalam kitab Asna’ al Mathalib, “Jika ada seorang muslim melemparkan Al Quran ke tempat kotor, maka dihukumi kafir.” Lebih jauh lagi, mereka juga berkata, “Haram hukumnya menjadikan Al Quran sebagai bantal”. 

Al Quran merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil aalamiin. Menghina Al Quran merupakan sebuah perbuatan dosa besar. Dalam surat At Taubah ayat 65 hingga 66, “Jika kamu bertanya kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Sungguh, kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Mengapa kepada Allah, ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kalian selalu menistakan? Kalian tidak perlu meminta maaf karena kalian telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa’”

Dari ayat di atas, terdapat beberapa tafsir atau kesimpulan yang diungkapkan oleh para ulama. Seperti Imam Ibn Qudamah al Maqdisi berkata, “Siapa saja mencaci Allah SWT telah kafir, sama saja dilakukan dengan bercanda atau serius. Begitu juga orang yan mengejek Allah, ayat-ayat-Nya, para Rasul-Nya atau kitab-kitab-Nya”. 

Sementara itu, al Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Syarf al Nawawi juga berkata dengan tegas bahwa, “Ragam perbuatan yang menjatuhkan seseorang pada kekafiran adalah yang muncul dengan sengaja dan menghina agama Islam secara terang-terangan”. Selain itu, masih berkaitan dengan ayat di Surat at Taubah di atas, al Qadhi Iyadh menegaskan, “Ketahuilah, siapa saja yang meremehkan Al Quran, mushafnya atau bagian dari Al Al Quran, atau mencaci-maki Al Quran dan mushafnya, maka ia kafir (murtad) menurut ahli ilmu dengan konsensusnya”.

Hukuman bagi Penghina Al Quran

Mengingat tindakan menghina Al Quran ini termasuk dosa besar, tentu ada hukuman yang patut diberikan untuk pelakunya. Hukuman yang diberikan bagi seseorang yang menghina Al Quran pun termasuk hukuman yang berat. Jika seseorang tersebut merupakan seorang muslim, maka dia bisa mendapat hukuman mati, sama dengan hukuman seseorang yang murtad. Jika penghina Al Quran tersebut merupakan non-Muslim Ahli Dzimmah, maka dia harus diberi hukuman berat hingga seberat hukuman mati. Sementara itu, jika penghina Al Quran tersebut merupakan non-Muslim yang bukan Ahli Dzimmah, maka pemimpin akan memperhitungkan hukumannya dengan tetap memprioritaskan kehormatan dan kepentingan Islam dan kaum muslim.

Di dalam Al Quran disebutkan bahwa orang-orang yang meragukan kebenaran Al Quran termasuk ke dalam golongan orang yang merugi di dunia dan akhirat, baik dirinya beragama Islam maupun bukan. Hal ini disebut dalam Surat al Kahfi ayat 103-106, “Katakanlah maukah kami kabarkan orang-orang yang paling merugi amalannya? Yaitu mereka orang-orang yang sesat dalam kehidupan dunia tetapi mereka mengira sedang berbuat kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang kafir dengan ayat-ayat Tuhan mereka dan pertemuan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan mereka dan kami tidak akan menimbang amalan mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan untuk mereka dengan Jahanam atas kekafiran mereka dan sikap mereka yang menjadikan ayat-ayat kami dan rasul sebagai olok-olok.”

Selain dalam Surat Al Kahfi di atas, Allah SWT juga berfirman dalam surat At Taubah ayat 12, “Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti”. 

Dari ayat ini, kita mengetahui bahwa Allah SWT menyebut orang kafir yang mencerca dan melecehkan agama Islam bukanlah orang kafir biasa yang bisa kita biarkan. Bahkan, menurut al Hafizh al Qurthubi, sebagian ulama berdalil dengan ayat ini tentang kewajiban untuk memberi hukuman mati kepada setiap orang yang mencerca agama Islam karena ia telah kafir.

Oleh karena itu, segala bentuk penghinaan atau pelecehan terhadap agama Islam dan segala syiarnya sama saja dengan ajakan berperang. Tindakan ini akan membahayakan keutuhan dan persatuan umat Islam. Maka, pelaku penghinaan itu haruslah diberi tindakan tegas oleh Khilafah.

Nabi Muhammad sendiri sebagai kepala negara Islam pernah memaklumkan perang terhadap Yahudi Bani Qainqa’. Hal ini disebabkan kaum Yahudi ini telah merusak atau menodai kehormatan seorang Muslimah pada saat itu. Nabi Muhammad pun mengusir kaum Yahudi ini keluar dari Madinah karena dianggap mereka telah melanggar perjanjian dengan negara.

Selain itu, Khalifah al Mu’tashim juga pernah mengerahkan puluhan ribu pasukan muslim untuk memberi tindakan tegas kepada orang Kristen Romawi yang melakukan perbuatan buruk kepada seorang Muslimah. Orang Kristen Romawi ini diperangi sampai-sampai 30 ribu pasukan Kristen tewas, sementara 30 ribu yang lainnya ditawan oleh pasukan Muslim.

Jika penghinaan atas seorang muslimah saja tidak bisa dibiarkan, apalagi penghinaan atau pelecehan terhadap Al Quran? Dengan hukum yang setara dengan di atas, maka dimaklumkan untuk siapapun yang menghina Al Quran untuk diperangi. 

Maka, bagi siapapun orang yang pernah mengingkari atau menghina Al Quran, maka segeralah untuk bertaubat kepada Allah. Allah telah berjanji akan mengampuni dosa siapapun yang bertaubat dengan taubatan nasuha, bahkan jika orang tersebut merupakan orang kafir sebelumnya. Hal ini disebutkan dalam Surat Al Anfal ayat 38, “Katakanlah kepada orang-orang kafir, jika mereka berhenti (dari kekafirannya) makan akan diampunkan dosa-dosa mereka yang telah lalu”.

Penjagaan terhadap kehormatan Al Qur’an harus terus terjaga. Sudah mahfum menjadi pemahaman para ulama’ bahwa pelaku penista Al Qur’an harus ditindak dengan tegas. Apabila pelakunya adalah dari kalangan orang-orang kafir harbi maka tindakan tegas yang harus dilakukan adalah diperangi atau dibunuh kecuali dia masuk Islam. 

Sebagaimana Imam Al Qurthubi saat menafsirkan surat Al Baqarah: 193 yang menjelaskan bahwa Alloh SWT memerintahkan memerangi mereka yaitu para penghina islam. 

Namun seruan dalam surat Al Baqarah ayat 193 tersebut tidak mungkin terealisir tanpa adanya penguasa di tengah-tengah kaum muslimin yang akan mengobarkan dan memimpin jihad fi sabilillah. 

Maka selama kaum muslimin tidak memiliki amirul jihad yang diakomodir oleh khalifah atau Imamah, maka pelecehan atau penistaan terhadap Al Qur’an oleh para pembenci Islam akan terus berulang. 

Sebuah kesalahan besar jika ada orang yang mengaku cinta Al Qur’an, mendiamkan para pelaku pelecehan atasnya sembari memperolok-olok muslim lain yang berusaha mewujudkan solusi tuntas atas masalah ini dengan hadirnya khalifah Islam sebagai junnah/ perisai. Khalifah melalui institusi khilafah  yang akan menjaga kemuliaan dan kehormatan Al Quran, ajaran Islam, dan umat Islam. 

Dari paparan di atas dapat dibaca strategi menjaga kemuliaan dan kehormatan Islam terutama Al Quran dapat lahir dari individu, masyrakat, dan instiusi negara. 

Pertama, sebagai individu muslim wajib menjaga kemuliaan al Quran, karena ini adalah konsekuensi keimanan dan ketaqwaan sebagai Muslim.

Kedua, begitu pula masyarakat sebagai pelaku kontrol sosial. Masyarakat juga harus melakukan mencegah kemunkaran. Salah satu contohnya jika terjadi penodaan terhadap Islam.


Ketiga, institusi negara. Negara yang menerapkan hukum Islam secara kaffah yang akan memberikan efek jera dan menegakkan keadilan Islam bagi para pelaku penista Islam. Di mana pun mereka berada, khilafah akan mengejar mereka dan akan membuat perhitungan kepada para penista Islam.

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pertama. Banyakanya kasus penistaan terhadap agama Islam dikarenakan adanya kelompok islamofobia radikal. Mereka berani mengekspresikan kebenciannya pada Islam karena sistem sekuler yang diterapkan dan kapitalisme global yang manaunginya. Kelompok islamofobia radikal ini berkembang atas dasar HAM, kebebasan berpendapat dan berekspresi, dan demokrasi.  Selain itu, tidak adanya junnah atai perisai yaitu khilafah Islam menyebabkan maraknya penodaan kepada Islam.

Kedua. Akibat dari aksi penodaaan Islam di benua Eropa, khususnya negara-negara sekuler yaitu, aparat hanya mampu meredakan  aksi kerusuhan tanpa mampu memberi efek jera kepada pelaku penoda dan penista Islam di sana. Kasus maraknya kelompok penista Islam, anti- Islam, dan kelompok islamofobia radikal telah mengkonfirmasi bahwa kerukunan umat beragama tidak mampu diwujudkan dalam naungan sistem kapitalisme sekuler. Selain itu, umat Islam di dunia hanya mampu mengutuk dan mengecam perbuatan tersebut. Tidak ada satu negeri Muslim yang berani mengirimkan pasukannya untuk memberi keadilan pada pelaku nista tersebut.


Ketiga. Menjaga kemuliaan dan kehormatan Al Quran adalah kewajiban individu, masyarakat, dan Negara. Sekalipun kemurnia Al Quran dijaga langsung oleh Allah SWT, sebagai umat Islam wajib menjaga dan membelanya. Hukuman bagi para penista ajaran Islam sangat berat sekali, hingga sampai dijatuhi hukuman mati. Tapi saat ini, tidak ada institusi yang mampu menegakkan hukuman tersebut. Selama umat Islam tidak memiliki institusi penerap syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah, penistaan akan marak terjadi. Karena sudah terbukti hukum buatan manusia tidak mampu wujudkan keadilan bagi umat Islam.


Oleh: Ika Mawarningtyas, S. Pd.
Analis Muslimah Voice dan Dosen Online UNIOL 4.0 Diponorogo

Posting Komentar

0 Komentar