TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pengamat Sosial Politik: Buzzer itu Jempolnya Lebih Maju Ketimbang Otaknya

Foto: Ustaz Iwan Januar pada Cinta Quran Channel


TintaSiyasi.com-- Tagar #BubarkanMUI bertengger pada Tren Populer jagat Twitter, Sabtu (5/9/2020) mendapat kritik oleh pengamat sosial politik Iwan Januar. Tagar #Bubarkan MUI dinaikkan oleh para buzzer menanggapi ancaman mundur Ustaz Anwar Abbas Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI), jika MUI terlibat dalam rencana program Da'i Bersertifikat yang diusulkan Kementerian Agama (Kemenag).

"Para buzzer itu orang-orang yang jempolnya lebih dulu maju ketimbang otaknya. Mereka tidak paham substansi hukum Islam (dan) tentang dakwah, yang mereka pahami, kalau ada kelompok Islam yang menentang kebijakan rezim maka wajib ditindas, dipersekusi bahkan kalau bisa dibungkam," tuturnya pada TintaSiyasi.com, Senin (7/9/2020).

Ia juga mengungkapkan, ramainya tagar #BubarkanMUI adalah ulah para buzzer politik yang dipelihara oleh kekuasaan, baik yang dibayar maupun yang gratisan.

"Apa yang salah dengan sikap MUI? (MUI) itu benar. Sudah seharusnya masalah ceramah ini didudukan sesuai hukum Islam. Lagi pula, sertifikasi (dai) itu berpotensi mengebiri dakwah. Nantinya para dai yang lulus sertifikasi, hanya mereka yang selalu sumuhun dawuh (menuruti perintahnya), nurut pada apa saja kepentingan kekuasaan," bebernya. 
 
Ia pun mempertanyakan, apa jadinya dai bersertifikat dengan para buzzer politik? Menurutnya, umat harus makin pintar, berani menolak program sertifikasi da'i dan jangan sekadar sibuk urusan perut, tapi harus melek politik agar tahu negeri ini makin karut marut. 

"Selain itu, harus berani. Speak up, jangan jadi setan bisu dengan mendiamkan kemungkaran. Kalau orang yang tahu kebenaran memilih diam, lama kelamaan kebatilan akan merajalela," pungkasnya.[]


Reporter: Ika Mawar 

Posting Komentar

0 Komentar