TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pengajuan Perceraian di Pengadilan Agama Surabaya Membludak


Setelah sempat lockdown dua minggu, pengajuan perceraian di Pengadilan Agama Surabaya membludak. Per hari diperkirakan 40-50 cerai gugat. Antrean kasus perceraian di Kota Surabaya selama pandemi COVID-19 meningkat tiap bulannya. Banyaknya perkara perceraian itu didominasi cerai gugat atau gugatan dari pihak istri. Panitera Pengadilan Agama (PA) Surabaya Abdusalam Syakur Widodo mengatakan pihaknya mencatat sejak bulan Juni dan Juli, pihaknya mencatat kenaikan yang signifikan. (detiknews.com, 7/9/2020)

Maraknya gugat cerai di masa pandemi menunjukkan fenomena rapuhnya ikatan rumah tangga. 

Pandemi yang tiada berujung ini memang menimbulkan tekanan ekonomi pada sebagian besar keluarga. Pemasukan yang berkurang sementara kebutuhan hidup tetap berjalan sebagaimana biasanya, kebutuhan makan sehari-hari, susu anak, membayar spp, pajak, membayar tagihan listrik, tagihan air atau mungkin cicilan rumah, kendaraan dan lain-lain ditambah anggaran kuota anak karena belajar online dirumah.

Tidak tercukupinya kebutuhan hidup seringkali menyebabkan ketegangan hubungan anggota keluarga berupa cekcok suami istri hingga KDRT. Ketidaknyamanan ini acapkali dituntaskan dengan pikiran pendek yakni bercerai.

Dalam kondisi saat ini, perceraian menjadi perkara yang digampangkan bahkan fenomena yang terjadi, talak justru banyak dilakukan oleh para istri. Hal ini terjadi karena tidak adanya penjagaan berlapis berupa hukum-hukum perlindungan keutuhan keluarga yang mestinya dijalankan oleh berbagai pihak mulai dari pasangan suami istri itu sendiri, masyarakat maupun negara.

Demokrasi kapitalisme yang berasaskan sekularisme atau pemisahan Islam dari kehidupan telah gagal menjamin seluruh kepala keluarga untuk mampu menafkahi keluarga dengan menyediakan lapangan kerja yang luas, gaji yang pantas dan pemenuhan sarana publik yang baik, demikian juga dengan tidak adanya pendidikan dan pembinaan untuk pasangan suami istri telah menjadikan masyarakat sekuler membentuk keluarganya sesuai kadar pengetahuannya sendiri yang tidak sesuai dengan Islam sehingga rentan dalam menghadapi persoalan internal maupun eksternal.

Padahal, andai kata hidup dengan aturan Islam, semua akan terasa mudah. Karena makna keluarga bahagia itu bukan kecukupan materi, tapi keridhaan Ilahi. Ridha dan qanaah terhadap rizki pemberian Allah.

Istri ridha terhadap gaji suami, berapa pun nominalnya. Anak ridha terhadap pemberian orang tua, berapa pun jumlahnya, asalkan halal. Keluarga ridha atas harta yang dimiliki, meski sederhana. Sikap qanaah dan ridha akan qadha’ Allah SWT. ini hanya akan terwujud pada individu yang berideologi Islam.

Makna kebahagiaan adalah ridha Allah Swt. Tidak silau pada tawaran harta. Membeli berdasar kebutuhan, bukan semata keinginan. Keluarga tidak akan dihantui bom waktu berupa cicilan ribawi. Sudahlah memberatkan di dunia, sengsara pula di akhirat kelak.

Secara syar’i, talak berarti melepaskan ikatan perkawinan. Talak hukumnya boleh, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS Al Baqarah: 229)

Dalam pandangan Islam perceraian adalah sesuatu yang halal tetapi dibenci oleh Allah SWT. disebut sebagai pekerjaan setan yang menghasut agar suami bercerai.

“Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini.’ Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah bepisah (talak) dengan istrinya.’ Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.’” (HR. Muslim 2813).

Meski demikian, perceraian ada karena ia adalah solusi suami istri ketika terjadi sesuatu yang dapat mengancam ketentraman dan keharmonisan rumah tangga.

Ia adalah metode yang bisa digunakan kedua belah pihak untuk berpisah satu sama lain. Suami istri yang berpisah ini pun tetap akan mampu menjalani kehidupan yang terhormat dan masing-masing dapat mencari kebahagiaannya dengan istri atau suaminya yang baru.

Cara Khilafah Mencegah Perceraian

Khilafah adalah institusi negara yang akan menerapkan seluruh aturan Islam secara kaffah dan akan memastikan pelaksanaan hukum syariat oleh keluarga dan sistem kehidupan yang diperlukan oleh keluarga.

Khilafah akan memberikan pembinaan akidah, pendidikan dan pelatihan kerja bahkan jika dibutuhkan akan memberikan bantuan modal. 

Khilafah juga akan menyiapkan kurikulum pendidikan agar calon suami dan calon istri paham bahwa pergaulan suami istri adalah pergaulan persahabatan. Satu sama lain berhak mendapatkan ketentraman dan ketenangan. 

Masing-masing menjalankan kewajibannya sesuai syariat Islam dimana suami wajib mencari nafkah, menggauli istri dengan baik, memperlakukan istri dengan penuh kesabaran semua dilakukan hanya karena Allah saja begitupun sang istri yang selalu taat kepada suami selama suami memerintahkan kepada kebaikan, juga semata karena Allah saja sehingga dapat mengeliminir munculnya kasus KDRT, penelantaran keluarga dan sebagainya.

Khilafah pun akan menyediakan kecukupan untuk kebutuhan keluarga menyediakan rumah layak dengan harga terjangkau, pakaian dan pangan yang cukup dan murah.

Khilafah akan menyediakan sarana pendidikan, transportasi, komunikasi, kesehatan dan sarana publik lainnya dengan biaya sangat murah bahkan gratis karena semua pembiayaan didapatkan dari pos baitul maal kepemilikan umum sehingga meringankan keluarga.

Walhasil dalam Islam sejatinya negara berperan besar dalam menjaga keutuhan keluarga.

Jika bukan syariat Islam yang diterapkan oleh sebuah negara niscaya keutuhan keluarga dan kesejahteraannya mustahil untuk diwujudkan.[]

Oleh: Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar