TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Penambahan Pasien Covid-19 di Atas 4000 Sehari, Fokuslah Atasi Pandemi




Indonesia mengalami rekor penambahan pasien Covid-19 dalam sehari kemarin, Senin (21/9/2020), dengan 4.176 kasus baru.

Data pemerintah pun memperlihatkan bahwa penularan virus corona masih terjadi di masyarakat hingga hari ini, Selasa (22/9/2020).

Berdasarkan data yang masuk pada Selasa (22/9/2020) pukul 12.00 WIB, terdapat 4.071 kasus baru Covid-19 dalam 24 terakhir.Penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia kini mencapai 252.923 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama penyakit ini pada 2 Maret 2020.(kompas.com, 22/9/2020)

Sejak awal kemunculan penyakit ini di Indonesia yaitu sejak diumumkan pasien pertama tanggal 2 Maret 2020 banyak kalangan aktivis Muslim yang menyarankan pemerintah agar segera memberlakukan lockdown seperti yang pernah dilakukan Rasulullah Saw.

Di zaman Rasulullah pernah terjadi wabah penyakit  kusta. Sebuah penyakit kulit, di mana penderitanya mengalami bercak-bercak merah pada kulit. Penderita juga mengalami mati rasa, tubuh melemah, dan berubah bentuk. Wabah kusta juga terjadi di daerah Arab, dan belum ditemukan obatnya. Kusta baru diteliti dan ditemukan pada tahun 1873.

Isolasi atau lockdown diberlakukan, saat terjadi wabah penyakit menular di sebuah wilayah. Hal ini bertujuan untuk mengurangi potensi penularan penyakit. Seperti dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari, 

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Situasi lockdown zaman nabi, juga diterapkan oleh Umar bin Khattab ketika mengunjungi Syam. Cerita ini dikisahkan dalam buku Biografi Umar bin Khattab karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi. Pada tahun 18 Hijriyah, suatu hari Umar bin Khattab bersama sabahat-sahabatnya, melakukan perjalanan menuju Syam. Sebelum memasuki Syam, di perbatasan mereka mendengar sebuah kabar tentang wabah penyakit kulit yang menjangkiti wilayah tersebut.

Penyakit kulit ini dinamai Wabah Tha’un Amwas. Penyakit menular yang menyebabkan benjolan di seluruh tubuh. Benjolan yang terus tumbuh hingga pecah, membuat penderita mengalami pendarahan hingga kematian.

Beberapa waktu kemudian, Gubernur Syam, Abu Ubaidah bin Al Jarrah, datang menemui rombongan Umar di perbatasan.Terjadi percakapan di antara para sahabat dengan Umar. Akhirnya mereka bersepakat untuk mengikuti Hadits Nabi, untuk tidak masuk ke daerah Syam yang sedang mengalami wabah, dan kembali pulang ke Madinah.

Syam diberlakukan lockdown. Setiap beberapa waktu sekali, Abu Ubaidah mengabarkan situasi kondisi yang terjadi di Syam, kepada Umar bin Khattab. Satu persatu sahabat Umar meninggal saat wabah, hingga tercatat sekitar 20 ribu orang yang wafat karena wabah. Jumlahnya hampir separuh dari penduduk Syam, termasuk di dalamnya ada Abu Ubaidah.

Posisi Gubernur kemudian digantikan oleh Amr bin Ash, Sahabat Umar. Amr bin Ash memerintahkan kepada penduduk Syam untuk saling berjaga jarak, agar tidak tidak saling menularkan penyakit, dan berpencar dengan menempatkan diri di gunung-gunung. Penularan penyakit pun dapat diredam, dan Syam kembali normal.

Demikianlah contoh yang bisa kita lakukan saat terjadi wabah penyakit menular yang belum diketemukan obatnya yaitu dengan memberlakukan Lockdown.

Namun apa yang terjadi di Indonesia saat kaum Muslimin yang kritis terhadap penanganan wabah Covid-19 yang amburadul?

Mereka(pemerintah) justru mempermasalahkannya, kalangan pembenci Islam meradang. Mereka mencoba mengkaitkan Islam solusi atasi pandemi sebagai benih-benih radikalisme dan bakal menuai ujaran kebencian. Ini bukan pertama kalinya rezim dan para pendukungnya menyudutkan dakwah Islam kaffah.

Padahal kaum Muslim yang memaparkan keunggulan Islam dan menegaskan Khilafah adalah ajaran Islam hanya berdakwah. Hanya mengingatkan kaum Muslimin yang saat ini melupakan solusi Islam yang dipandu oleh alquran, as-sunnah, ijma' sahabat dan qiyas.

Kelompok dakwah ini hendak mendekatkan kaum Muslimin hari ini dengan praktek Islam pada masa Rasulullah Muhammad Saw. dan kekhilafahan setelahnya

Toh dunia barat banyak yang mengakui keunggulan Islam sebagaimana laporan newsweek salah satu media mainstream di Amerika Serikat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah yang pertama kali menyarankan lockdown.

Dilansir dari mediaumat.news, (27/3/2020) yang mengatakan sebuah laporan media Amerika “Newsweek” memicu reaksi besar di jagat maya khususnya medsos, di mana penulisnya, Dr. Craig Considine mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah “yang pertama” menyarankan karantina kesehatan (lockdown) dan kebersihan diri dalam kasus pandemi.

Itu hanyalah fragmen kecil. Kalau para speaker program deradikalisasi itu mau jujur dan ironinya mereka justru didominasi oleh Muslim terdidik dan terkenal,mereka jelas akan mengakui hanya Islam yang patut dijadikan sebagai rujukan sebagai solusi atas semua masalah baik masalah pribadi ataupun publik, masalah agama ataupun politik, masalah perempuan maupun laki-laki, semua pasti tuntas oleh syariat Islam. Karena Allah Swt. telah memastikannya dan tidak ada yang bisa kita lakukan sebagai Muslim kecuali hanya yakin serta tunduk dan patuh.

Di dalam alquran surat al-Baqarah ayat 285

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ

Artinya: Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

Negara ini butuh solusi atasi pandemi bukan justru sibuk mengurusi radikalisme yang di ada-adakan ataupun menyudutkan Islam. Fokuslah mengurusi pandemi karena nyawa manusia sangatlah berharga. Bagaimana mungkin ekonomi bisa bangkit jika sumber daya manusianya banyak yang tiada. Semua cara sudah dilakukan dari PSBB, New Normal hingga PSBB kembali. Namun, solusi Islam belum di coba, maka cobalah.[]

Oleh: Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar