TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pecah Telur, Kasus Covid-19 Tembus Angka 4.000: Akankah Wabah Ini Berakhir?



Melihat grafik pertambahan jumlah kasus positif covid-19 yang tembus angka 3.000 kasus per hari, hari ini kembali dibuat geleng-geleng melihat pertambahan kasus positif covid tembus kepala 4 yaitu 4.168. Tetapi sepertinya angka tersebut tidak bermakna apapun untuk sebagian besar orang. 

Jalan-jalan tetap ramai dengan orang-orang yang bersepeda ria, pasar-pasar masih penuh sesak dengan orang-orang berbelanja dan pabrik-pabrik tetap beroperasi tanpa batas. Yang saya heran justru saat suatu daerah akan menerapkan PSBB untuk memutus rantai penularan, justru seorang konglomerat menentangnya. Sebenarnya apa yang terjadi di negeri ini, mengapa seolah uang dan pekerjaan lebih berarti daripada kesehatan dan nyawa? Apakah tidak mungkin rakyat hidup tenang tanpa wabah dan hidup sejahtera?

Jika kita buka kembali sejarah, akan kita dapati bahwa jauh sebelum muncul wabah covid-19 ini, seorang ilmuwan islam yang bernama Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi, atau dikenal sebagai Rhazes di dunia Barat, yaitu salah seorang pakar sains yang hidup antara tahun 251-313 H/865-925 M telah meneliti tentang penyakit menular seperti covid-19 ini. Sepanjang pengalamannya mengelola bimaristan, dia meneliti berbagai macam penyakit, terutama yang bersifat menular. 

Dalam catatannya, penyakit menular mengubah tatanan dan stabilitas sosial. Kehidupan yang semula begitu dinamis, mendadak menjadi vakum. Daerah yang terserang wabah akan terlihat sepi, karena masyarakat di dalamnya lebih memilih mengurung diri di rumah, bahkan ada yang hijrah ke kota lain demi mendapatkan kehidupan lebih baik. Beberapa nasihat ar-Razi tentang penyebaran wabah penyakit sangat menginspirasi keadaan yang di alami dunia saat ini berupa wabah Covid-19. 

Dalam Kitab al-Mansur fit Tibb Bab empat, dia mengatakan transportasi umum harus dihentikan. Orang-orang tidak boleh berkumpul di tempat keramaian selama wabah menyebar.  Orang-orang harus meninggalkan daerah yang terjangkit wabah.

Rumah dan kemah-kemah militer harus berada di lokasi yang tinggi di atas arah angin. Pasien yang berbau busuk dan terjangkit wabah harus ditangani ahli medis. Intinya, dilakukan isolasi wilayah/lockdown.
Pada saat itu rumah sakit juga dibuat dengan kapasitas yang besar. Pada zaman pertengahan, hampir semua kota besar memiliki rumah sakit. Di Kairo, rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8.000 pasien. Tidak hanya itu, rumah sakit ini sudah digunakan sebagai pendidikan dan riset. Riset-riset juga difasilitasi untuk mencari alternatif penyembuhan penyakit. Rakyat yang menjalani isolasi juga mendapat jaminan kesejahteraan dari pemerintah. Semua itu terjadi pada masa kegemilangan khilafah Abbasiyah.

Pertanyaannya adalah apakah kita dapat mewujudkan penanganan wabah yang luar biasa seperti pada masa tersebut? Jawabnya adalah BISA, apabila kita bisa menghadirkan kembali Khilafah ‘ala min hajji nubuwah di tengah-tengah kita. Wallahu ‘alam bishowab.[]

Oleh: Kamilah Azizah

Posting Komentar

0 Komentar