TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Paradox of Terrorism



Ketika berbicara tentang Terorisme, hal yang langsung terbayang dalam benak kita adalah umat Islam. Bagaimana pun juga, dari sekian banyak non-state actors yang masuk dalam list kelompok teror oleh US State Departement, hampir seluruh kelompok terafiliasi dengan Islam. Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan, benarkah gerakan Islam adalah satu2 penyebar teror? atau Siapa yang lebih layak yang disebut teroris?

Jika melihat definisi kata Terorisme dalam tataran ilmu sosial, terorisme mempunyai makna yang beragam. Tetapi, semua ahli terorisme sepakat, definisi Terorisme punya pondasi yang sama. Kelompok teroris selalu menggunakan kekerasan dalam menjalankan aksinya, selalu mempunyai tujuan politis, membunuh orang-orang yang tidak bersalah dan bertujuan untuk menciptakan ketakutan banyak orang.

Sejarah mencatat, pola gerak kelompok teroris selalu berbeda setiap zaman nya. Pada 1789 misalnya, ketika revolusi Prancis muncul, gerakan teroris dianggap positif karena menginginkan demokrasi dan meruntuhkan monarki. Berbeda pula pada tahun 1980an dimana definisi teroris disematkan pada sebuah negara seperti Uni Soviet, karena perbuatan nya yang tidak manusiawi.

Seorang teroris pada dewasa ini bertindak atas pembenaran yang semu, setidaknya itu yang dikatakan ahli terorisme barat. Mereka dianggap bertindak demi kebaikan agama atau dijanjikan surga. Hal ini lah yang menjadi alasan utama mengapa teroris mau bertindak dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.

Namun, sebuah paradoks muncul, ketika teori tersebut berkembang kita justru bisa melihat bahwa semua hal yang dilakukan para teroris zaman modern, dilakukan juga oleh negara adidaya. Ketika tentara Hamas mempertahankan tanah Palestina dari gempuran zionis Israel atau krisis kemanusiaan di Yaman yang disebabkan oleh intervensi barat mengakibatkan terbunuhnya jutaan umat Muslim yang tidak bersalah, semua itu bukan tindakan terorisme.

Disini, kita melihat bahwa sebuah institusi negara, bahkan adidaya dan pelopor perdamaian dunia, bisa melakukan aksi terorisme. Sejarah seperti terulang, ketika sebuah negara seperti Nazi Jerman dan Uni Soviet di cap teroris oleh Sekutu karena berlaku kejam terhadap kemanusiaan. Kini, jari itu berbalik menunjuk diri sendiri, dimana mereka justru melakukan banyak genosida di berbagai belahan dunia, dengan dalih kebaikan dan keamanan dunia seperti hal nya tuduhan yang mereka sematkan bahwa teroris Islam melakukan aksi teror karena alasan kebaikan. Mereka juga rela membunuh orang tidak bersalah demi tujuan politik.

Lalu, setelah semua yang dilakukan negara adidaya itu siapakah yang paling layak disebut Teroris?[]


Oleh: Muhammad Daffa Alfani
Mahasiswa Kimia FMIPA UI 2016

Posting Komentar

0 Komentar