TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Paparan Corona Tak Pilih Mangsa



Ujian pandemi tak kunjung berhenti. Tujuh bulan bukan waktu singkat untuk mencari solusi. Manusia seluruh bumi, tak sanggupkah menemukan cara mengatasi makhluk sekecil ini? Atau sengaja membiarkan agar berkurang penduduk bumi?

Tadi malam sebelum tidur saya cek Hp untuk koordinasi agenda. Tak sengaja mata saya menatap sebuah status kecil di facebook. Status singkat menghenyakkan hati.

"Malam ini jangan lupa doakan para aktivis dakwah yang sedang berjuang melawan covid-19. Semoga Allah kuatkan dan segera sembuhkan." (Muhammad Rizal Aydogan)

Demikian fakta yang saya lihat. Ada kata "para aktivis dakwah", berarti jumlahnya cukup banyak, atau bisa jadi sangat banyak? Karena tidak disebutkan jumlah angka yang sebenarnya. Namanya juga negara yang luas, besar, banyak penduduknya. Jadi untuk data detail sesuai kenyataan juga susah.

Jadi jangan heran jika angka dalam data laporan pun tidak sesuai kenyataan. Dalam arti data sebenarnya akan jauh lebih banyak. 

Baiklah, di sini saya ingin membahas tentang paparan virus kecil bernama corona atau covid-19. Makhluk kecil tak tampak oleh mata ini bebas melalang buana ke mana pun juga. Bayangkan, mereka yang awalnya lahir di kota Wuhan China. Saat itu kehadirannya tidak diperhitungkan dunia. Meski tahu banyak terjadi korban hingga meninggal dunia.

Namun, pemikiran dunia saat itu tidak mengira jika virus corona bisa ikut terbang ke seluruh dunia. Corona menempel dalam tubuh wisatawan atau orang-orang yang sedang berkunjung ke China. Saat kembali ke negaranya tak menyadari membawa virus berbahaya dan berkembang biak di tempat baru.

Saat itu WHO (Badan Kesehatan Dunia) sudah mengingatkan agar negara yang terpapar mengadakan lockdown. Termasuk Indonesia yang dianjurkan. Namun, lagi-lagi karena kesombongan atau menganggap remeh makhluk kecil itu, maka anjuran WHO diabaikan. Dianggap tidak cocok sebagai solusi untuk negeri seperti Indonesia ini.

Kebijakan demi kebijakan dibuat oleh pemerintah Indonesia. Social distanching, phisical distanching, karantina wilayah, PSBB, dan istilah lain berganti-ganti hingga membingungkan umat. 

Bagaimana hasilnya? Kebijakan yang dibuat manusia, secanggih apapun tak akan membuahkan hasil memuaskan. Bahkan lebih banyak kekuarangannya. Bukannya corona menghilang, justru semakin luas jangkauan paparannya. Siapa sangka jika makhluk kecil tak tampak pandangan mata bisa meluluh lantakkan dunia.

Korban berjatuhan tak pilih mangsa. Kaya miskin, tua muda. Laki wanita, pejabat maupun orang biasa. Bahkan para dokter dan tenaga kesehatan yang bertugas menolong pasien terpapar, ikut menjadi korban corona. Ratusan dokter sudah wafat karena serangan corona. Tak ketinggalan pejabat tinggi di istana, juga ketinggalan diserbu corona.

Bahkan tak segan-segan, paparan corona mengenai para ustadz ustadzah, kyai, para ulama, pemuka agama. Kapan hari Ustadz Ustadzah terkemuka di daerah saya dinyatakan positip corona, setelah dirawat Alhamdulillah bisa sembuh dan tinggal pemulihan. 

Kini teman-teman dan saudara saya juga banyak terpapar positip corona. Ada yang dirawat di rumah sakit, ada yang di karantina di tempat khusus. Ada pula yang karantina mandiri. Teman-teman pejuang dakwah yang setiap detik waktunya hanya digunakan untuk mengajak kebaikan. Mereka tak lepas dari serangan virus corona. Benar-benar corona tak pilih mangsa. Semua ada peluang menjadi serangan corona.

Sudah begitu lamanya pandemi corona menimpa, mengapa pemimpin negeri ini tak kunjung menemukan solusi? Justru membuat kebijakan new normal di saat kondisi masih mencekam? Alasan yang dikemukakan karena ingin menyelamatkan perekonomian.

Apa yang terjadi? Bagaikan tindakan bunuh diri. Melepas umat yang sebelumnya ikut kebijakan stay at home. Hampir semua aktivitas dengan daring. Saat dibolehkan keluar, umat bagaikan burung keluar dari sangkar. Bertebaran ke luar, apalagi dengan dibukanya akses pertokoan, perkantoran, bahkan beberapa wisata. 

Bisa diduga bagaimana hasilnya? Korban berjatuhan semakin tak terkendali. Bahkan korban meninggal juga makin banyak. Mengapa bisa demikian? Karena pemerintah sok percaya diri mencari solusi. Tidak menyandarkan pada Allah yang menciptakan virus corona.

Apa susahnya bagi Allah melemahkan corona dan menyuruhnya pergi? Tapi Allah hendak menguji. Mengapa manusia tak segera sadar diri. Lalu bertaubat dan menjalankan ketaatan hukum syar'i.

Ada solusi terbaik menurut Islam. Sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw suri teladan. Ketika terjadi wabah di suatu wilayah, Rasulullah saw melarang umatnya mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar.

"Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR. Al Bukhari).

Demikian pula ketika masa khalifah Umar bin Khattab. Diriwayatkan pada masa itu, terjadi wabah Thaun di negeri Syam.

"Khalifah Umar bin Khattab pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di tempat kalian, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu. (HR Al Bukhary).

Solusi Islam sudah ditawarkan kepada para pemimpin negeri ini. Namun tawaran itu tidak dihiraukan. Para ulama dan aktivis dakwah tak henti menyuarakan solusi sesuai Islam. Dimana sudah terbukti berhasil mengatasi wabah. Tak sampai mengacaukan perekonomian umat, semua aktivitas berjalan normal. 

Jika sebagus itu hasil penerapan aturan Islam, mengapa tidak dijadikan pilihan? Mau solusi seperti apa lagi yang diharapkan? Wallahu a'lam bish shawwab. []

Oleh: Lilik Yani

Posting Komentar

0 Komentar