TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pakta Integritas, Menenggelamkan Kekuatan Mahasiswa

Beramai-ramai mahasiswa baru di Universitas Indonesia menandatangani pakta integritas. Pakta Integritas yang menjamin bahwa mahasiswa UI tidak hanya mendapatkan Ilmu Pengetahuan dan keterampilan tapi juga penguatan karakter dan kepribadian sebagai orang Indonesia melalui berbagai kegiatan akademik dan non-akademik (beritasatu.com).

Benarkah demikian? Lalu bagaimana dengan problem narkoba, kebebasan hingga radikalisme, dapatkah diatasi dengan pakta integritas? Jika memang iya, lantas mengapa  timbul berbagai macam kontroversi dari pakta intergrasi tersebut?

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia menentang pakta integritas untuk mahasiswa baru tahun ajaran 2020/2021. (CNN Indonesia). Fajar mempertanyakan sejumlah poin pada pakta tersebut, di antaranya aturan mahasiswa tidak boleh terlibat dalam politik praktis yang mengganggu tatanan akademik dan bernegara. (CNN Indonesia).

Mahasiswa juga disebut tidak boleh mengikuti kegiatan yang dilakukan sekelompok mahasiswa yang tidak mendapat izin resmi pimpinan fakultas atau kampus. Poin ini dianggap mengekang kehidupan berdemokrasi mahasiswa, salah satunya mahasiswa tidak akan bisa mengkritik kebijakan pemerintah atau melakukan aksi demonstrasi (CNN Indonesia). 

Munculnya pakta integritas sesungguhnya adalah wujud nyata gagalnya sistem pendidikan tinggi dalam mengoptimalkan kekuatan  mahasiswa sebagai agen perubahan,  calon intelektual, serta menjadi aset berharga sebuah bangsa.

Dalam sistem kapitalisme-sekuler, sistem pendidikan tinggi hanyalah sebagai aset bisnis yang berhasil menengelamkan potensi intelektual untuk kepentingan bisnis korporasi-kapitalis, bukan untuk umat.

Dari beberapa poin yang kontroversi menunjukan bahwa pakta integritas tersebut  justru diarahkan untuk memberangus arus kesadaran politik  dan sikap kritis yang distigma sebagai radikalisme. 

Mahasiswa akan menjadi pihak yang pragmatis dan apatis. Hal tersebut diarahkan oleh sebuah kebijakan.  Kebijakan sejenis ini adalah tindakan represif yang justru akan melahirkan masalah baru dalam tatanan negara.

Mahasiswa yang harusnya dapat lantang meyuarakan aspirasinya, kini di tenggelamkan kekuatan dan potensi dengan pakta integritas tersebut. 

Lantas bagaimana sebenarnya peran  dan fungsi mahasiswa agar dapat berjalan dengan baik dan bagaimanakah Islam mengatasi hal ini? 

Semestinya kita semua  mengakui bahwa akar masalahnya adalah problem sistemik yang harus dipahamkan pada mahasiswa dan mahasiswa didorong terlibat dalam menghadirkan solusi, bukan malah ditenggelamkan potensinya.

Hanya dalam sistem Islamlah potensi mahasiswa dapat dioptimalkan dalam mengubah negara dengan kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki. Mahasiswa didorong untuk melakukan amar makruf nahi mungkar atas setiap kepemimpinan.

Membina mahasiswa agar bisa melakukan peran politiknya dengan benar yaitu kritis berbasis ideologis Islam, tidak pragmatis apalagi anarkis. Sehingga mahasiswa akan memahami hakikat permasalahan bangsa dan solusinya secara ideologis Islam.

Sungguh, Islamlah satu-satunya jalan sekaligus arah untuk perubahan. maka sudah saatnya,  visi perjuangan mahasiswa adalah untuk menegakkan Islam kaffah dalam naungan Khilafah Islamiyah. Wallahu ‘alam.[]

Oleh: Vitriastuti, S.Si.

Posting Komentar

0 Komentar