TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Negara Otokrasi-oligarki Mampu Atasi Wabah, Benarkah?




Pandemi Covid-19 masih terus meningkat, terkhususnya di tanah air, sampai saat ini kasus positif Covid-19 terus bertambah. Setelah berbagai cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi pandemi Covid-19 dimulai dari diterapkannya physical distancing dan social distancing hingga diberlakukan PSBB, namun kasus Covid-19 tak kunjung menurun hingga diberlakukannya new normal life dimasa pandemi hingga sekarang.

Kurang lebih tujuh  bulan lamanya nampak tidak ada kebijakan yang serius dan pasti dari pemerintah yang benar-benar untuk mengehentikan penyebaran virus Covid-19. Dengan  melihat kondisi Indonesia yang semakin memburuk akibat tidak teratasinya wabah ini, membuat menteri dalam negeri (Mendagri) Tito Karnavian melirik cara-cara di negara otokrasi menangani wabah, seakan mengatakan bahwa sistem demokrasi hari ini terbukti gagal dalam penanganan pandemi.

Tito Karnavian menyebutkan bahwa negara-negara yang menganut pemerintahan otokrasi atau oligarki lebih efektif menangani pandemi  Covid-19. Tito menyebut negara dengan pemerintahan seperti itu mudah mengendalikan perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi karena kedaulatan negara dipegang oleh satu atau segelintir orang. Mendagri Tito Karnavian mengungkapkan bahwa Negara-negara yang menggunakan sistem politik otokrasi tangan satu orang atau oligarki yang dikuasai sekelompok orang, seperti China dan Vietnam, menangani dengan lebih efektif karena mereka menggunakan cara-cara yang keras," yang disampaikan langsung di akun youtube Kemendagri RI.

Tito juga mengatakan, negara penganut demokrasi, seperti Indonesia, India, dan Amerika Serikat cenderung mengalami kesulitan karena pemerintah sendiri tidak bisa memaksakan rakyatnya misalnya saja dalam  mentaati protokol kesehatan seperti, mencuci tangan, menjaga jarak serta memakai masker saat beraktivitas diluar rumah, aktivitas semacam ini di Indonesia sangat sulit dilakukan oleh masyarakat,  padahal ini adalah hal yang sangat sederhana. Hal tersebut mudah untuk dikatakan, tapi sulit dilaksanakan karena tergantung dari sistem politik, demografi dan sosial budaya," ujarnya dilansir dari CNN Indonesia pada kamis 3/9/2020.  

Sejatinya otokraksi atau oligarki bukanlah sebuah pilihan sehat dalam menyelesaikan masalah pandemic Covid-19 ini. Pasalnya negeri-negeri yang disebutkan diatas juga belum terbukti secara konkrit benar-benar mampu menuntaskan Covid-19. Adapun masyarakat yang patuh disebabkan cara yang keras tersebut tak bisa dijadikan parameter sebuah keberhasilan, sebab segala sesuatu yang dipaksa tidak akan bertahan lama, bisa saja sewaktu-waktu meledak seperti halnya bom waktu.

Dengan begitu, pernyataan tersebut sangatlah menyesatkan. Pun negara demokrasi yang selama ini dibanggakan terbukti gagal hadapi wabah. Tiadanya Kepatuhan masyarakat akan protokol kesehatan hanya alasan bagi rezim untuk menutup borok demokrasi. Juga harus menjadi evaluasi, mengapa masyarakat tidak patuh bisajadi bukan 100% kesalahan rakyat, melainkan ada peran penguasa yang tidak tegas dalam mengkoordinir.

Dengan demikian, memilih negara otokrasi-oligarki sebagai solusi adalah sesuatu yang keliru. Meninggalkan demokrasi dengan menerapkan otokrasi sama saja dengan meninggalkan kandang singa dengan berpindah ke kandang singa yang lainnya, yaitu sama-sama tidak mampu memberikan solusi yang tepat, justru malah semakin menambah kerusakan yang tidak berujung. Karena sesuatu yang tidak datang dari wahyu  Allah, tidak akan sesuai dengan kehidupan manusia dan tidak akan mampu memberi solusi yang mampu menyelesaikan seluru problematika yang terjadi dalam kehidupan manusia. 

Dengan ini kita sebagai umat Islam seharusnya menyadari bahwa mengharap pada sesuatu yang tidak datang dari Allah sebagai sang Khaliq hanyalah sia-sia sebagai mana halnya demokrasi ataupun sistem-sistem lainnya. Jika menginginkan suatu perubahan untuk mengatasi masalah di dunia, maka tidak lain yaitu hendaknya kembali pada Islam yang memang diturunkan untuk mengatasi segala persoalan manusia.

Maka sudah menjadi kebutuhan dunia hari ini akan tegaknya sistem Islam di muka bumi. Sebab sudah selayaknya sebagai umat Islam menyakini bahwa tidak ada solusi lain selain solusi yang datangnya dari Islam, karena Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur dan sebagai solusi atas setiap permasalahan dalam kehidupan. Dalam Islam terkait dengan penanganan wabah yang merujuk pada al-qur’an dan as-sunah yang sudah pernah diterapkan pada masa khulafahul rasyidin dibawah kepemimpinan Umar Bin Khattab ra. 

Adapun upaya yang dilakukan oleh khalifah atau pemimpin dalam menangani wabah yaitu, dengan memisahkan antara orang yang sakit dengan yang sehat, kemudian melakukan perawatan terbaik bagi yang sakit, penyediaan segala alat kesehatan yang dibutuhkan tenaga medis maupun pasien, dan mengunci wilayah tersebut agar wabah tidak semakin menyebar. Kesemua fasilitas itu diberikan secara Cuma-Cuma oleh negara kepada masyarakat. 

Masyarakat di daerah yang tidak terkena wabah dapat melakukan aktivitas sosial ekonomi mereka secara normal tanpa rasa takut tertular, upaya ini akan membuat penguasa lebih fokus memberikan pelayan kesehatan untuk penyembuhan daerah yang terdampak wabah dan pemenuhan kebutuhan pokok warga negara akan tetap terjamin baik di wilayah terkena wabah maupun tidak. Maka dengan begitu penularan dan penyebaran wabah akan segera teratasi. Selain penyediaan dari sisi kesehatan, negara juga akan memberikan dorongan keimanan pada masyarakat agar senantiasa terus mendekatkan diri pada Allah, hingga suasana yang terbangun tetap tenang bukan ketakutan dan kekhawatiran. 

Demikianlah sedikit gambaran bagaimana syariat Islam mengatur yang mampu memberikan solusi karena berasal dari Dzat Maha Tahu dan menghasilkan kepatuhan permanen masyarakat terhadap aturan yang dikeluarkan, sebab melaksanakannya dengan penuh kesadaran  berkat dorongan iman bukan karena ketakutan terhadap sanksi. Dan kesemua itu terjadi merupakah buah dari diterapkannya syariat Islam secara keseluruhan di setiap lini kehidupan. Wallahu’alam bisshawab.[]

Oleh : Nur Wahida Lota (Mahasiswi)

Posting Komentar

0 Komentar