TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Narasi Ngawur Radikalisme, Upaya Jegal Dakwah Khilafah?




Pernyataan-pernyataan dari Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menuai kontra ditengah masyarakat Indonesia. Dimulai dari ucapannya terkait paham radikal masuk melalui orang berpenampilam good looking atau menarik. Serta memiliki kemampuan agama yang baik. MUI menilai pernyataan itu sangat menyakitkan dan meminta Fachrul menarik ucapannya.

Ketua Hubungan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah, Muhyiddin menanggapi pernyataan dari Fachrul bahwa hal itu justru menunjukkan ketidakpahaman Menag dan data yang tak akurat diterimanya. Seakan yang radikal itu hanya umat Islam dan para huffaz Al-Qur'an. Seharusnya Menag yang berlatar belakang militer lebih mengerti tentang peran umat Islam Indonesia dan menjadikannya sebagai rujukan untuk menciptakan stabilitas nasional, persatuan dan kemajuan di tengah kebinekatunggalikaan.

Webinar yang dilakukan di kanal Youtube Kemenpan berjudul 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara'.  Fachrul Razi meminta kepada seluruh kementerian dan lembaga pemerintahan untuk tak menerima peserta yang memiliki pemikiran dan ide mendukung paham khilafah sebagai aparatur sipil negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS).
 
Fachrul menyatakan potensi masuknya penyebaran ajaran prokhilafah bisa masuk melalui jalur lembaga pendidikan. Oleh karena itu ia meminta kewaspadaan atas para tenaga pengajar yang sudah terpapar paham khilafah. (CNN Indonesia). Belum lagi program sertifikasi penceramah yang akan dilaksanakan pada bulan ini. Yang bertujuan untuk mencetak penceramah yang memiliki bekal wawasan kebangsaan dan menjunjung tinggi ideologi Pancasila. Serta mencegah penyebaran paham radikalisme di tempat-tempat ibadah.

Tudingan yang dilontarkan oleh Menag menunjukkan bahwa Fachrul tidak memahami Islam sebenarnya. Melabeli orang-orang good looking sebagai penyebar radikalisme. Apalagi dengan label pengetahuan agama yang baik. Justru hal ini membuat masyarakat mulai paham bahwa Kemenag memiliki detail terkait radikalisme yang salah kaprah. Mereka yang baik di dalam agama dan masyarakat justru di labeli dengan radikalisme.

Adanya legalisasi untuk para penceramah menambah daftar betapa Menag begitu ketakutan dengan para dai yang mereka Pro dengan kekhilafahan. Termasuk dengan tidak menerima satupun ASN yang memiliki paham khilafah yang dianggap merusak kebhinekaan pancasila. Menghancurkan harga mati dari NKRI. Benarkan khilafah begitu menakutkan selayaknya moster yang akan menghancurkan negeri?

Penyerangan Kemenag terhadap isu radikalisme dengan menyerang Islam itu sendiri. Menampakkan kengawuran kebijakan Menag yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Leading sector yang dilemparkan Menag menegaskan bahwa deradikalisme memang di tujukan untuk menyerang Islam dan khilafah. Dimana khilafah adalah salah satu ajaran Islam. Terealisasi dalam rekam jejak sejarah kejayaan Islam selama 12 abad lamanya.

Bukan lagi hal yang umum bahwasanya penyerangan terhadap Islam karena sistem pengaturan manusia keliru. Sistem sekulerisme yang mengatur kehidupan masyarakat saat ini. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan hingga anti dengan agama. Melihat orang good looking dengan agama yang baik dibilang radikalisme. Para dai berceramah untuk menyadarkan umat dituduh penyebar radikalisme hingga harus disertifikati. 

Kedangkalan berfikir mulai nampak jelas dari setiap kebijakan yang justru memukul keras kaum muslimin. Bukannya pemerintah dalam hal ini jajaran menterinya seharusnya merangkul semua masyarakat. Justru membuat sekat-sekat yang membuat masyarakat semakin ketakutan terhadap keislamannya sendiri. Dan inilah bukti bahwa memang yang mengatur orang Islam haruslah sistemnya sendiri. Bukan sistem yang bukan sistem Islam.

Luka akibat lontaran jajaran pemerintah membuat darah umat Islam harusnya telah mendidih. Menolak dengan keras bahwa dengan kaum muslimin yang giat bukanlah seorang perusak negara. Bukan pula pencerai-berai kesatuan Negara. Justru Islamlah yang mampu menyatukan Nusantara menjadi satu kesatuan yang utuh dengan semangat Islamnya. Maka sudah seharusnya kaum muslimin sadar dan tidak lagi menjadikan sekulerisme sebagai tonggak berputarnya aturan negara. Tapi hanya menjadikan Islam satu-satunya pengatur urusan kaum muslimin.

"Setelah periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa sampai waktu yang ditentukan Allah ta'ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah 'ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad melihat diam. ”  (HR Ahmad; Shahih).
 
Bisyarah Rasulullah bahwa khilafah pasti tegak bukan hanya ada di masa lampau tapi di masa depan. Maka, ketakutan para pembenci akan terus melontarkam tuduhan terhadap khilafah. Semata karena kebencian mereka terhadap Islam dan khilafah. Ingatlah sekeras apapun para pembenci berusaha menghadang tegaknya khilafah. Maka itu akan sia-si. Karena kebangkitan khilafah itu pasti. Wallahu A'lam.[]


Oleh: Lismawati
Mahasiswi dan Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar